
"Dia terkena stroke setelah keputusan perceraian aku dan Cella keluar, tanpa membuat Cella mendapatkan sepeser pun harta gono gini dari ku." Ucap Dito sembari meremas stir mobilnya.
"Mas. Apa aku terlalu kejam dengan semua penderitaan yang mereka hadapi sekarang?" Tanya Aqilla yang meyandarkan kepalanya di lengan Dito. Ada rasa iba melihat penderitaan ibu kandungnya saat ini.
"Tidak Qilla. Mereka sangat pantas mendapatkan semua ini, karena keegoisan mereka yang membuat hidup kita jadi menderita seperti ini. Penderita yang mereka tanamkan pada kita berdualah yang membuat mereka menderita sekarang. Semua penderitaan yang menyiksa mereka saat ini tak cukup berat dibandingkan penderitaan yang mereka berikan pada kita. Karena sampai saat ini penderitaan yang mereka berikan masih membekas dan luka hati ini masih begitu terasa sakit." Jawab Dito yang menyimpan kebencian pada keluarga Cella.
"Sebaiknya kita pergi Mas, aku tak saggup melihat wajah Mommy ku lagi. Aku tak ingin melihat dia yang membuat ku mengingat masa lalu ku yang kelam tanpa uluran tangannya." Pinta Aqilla yang malah menitikan air mata di lengan Dito.
Bahu Aqilla terguncang hebat, bertanda jika ia menangis merasakan kepedihan hatinya melihat ibu yang telah melahirkan dirinya ke dunia yang sekejam ini. Ibu yang tak bisa memahami perasaan dan kehancuran hidup putrinya. Ibu yang seharusnya memberikan pelukan padanya, saat dunianya terasa runtuh. Padahal saat kejadian itu, Aqilla sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu yang akan memberikan sejuta perhatian untuknya, bukan malah membuangnya dan mengusirnya. Membiarkan putri semata wayangnya hidup terlunta-lunta di luar sana.
Dito kembali melajukan kendaraannya, dan membiarkan Aqilla menangis di dalam dekapannya.
"Kuatkan hati mu Qilla, esok jika tak lagi ada diriku di hidup mu, ku harap tak akan ada lagi yang melukai hati dan jiwamu dan Bram sudah bisa menjaga mu dengan baik, seperti diriku yang pernah menjaga dirimu dari mereka yang telah menyakiti kita sedalam ini." Gumam Dito di dalam hatinya.
Dito menghentikan mobilnya di lobby rumah sakit. Sudah satu minggu ini Dito memberikan waktu pada Angel dan keluarga kecilnya bersama Tita. Nyaris kedatangan Angel dan keluarga kecilnya membuat Tita hampir saja melupakan Dito dan Aqilla.
Keduanya masuk ke rumah sakit saling bergandengan tangan. Mereka saling menguatkan satu sama lainnya. Karena hari ini adalah hari dimana Tita akan menjalani tindakan operasi. Hari dimana tugas Aqilla menjadi istri Dito akan berakhir.
Tepat di belakang mereka ada Bram yang juga hadir untuk memastikan, apa Dito akan mengembalikan Aqilla pada dirinya sesuai dengan janjinya waktu itu. Meskipun sakit melihat tangan wanita yang dicintainya digenggam oleh pria lain, tapi ia harus kuat. Karena perjalanan kisah cinta mereka tak semudah membalikkan telapak tangan.
Sesampainya di ruang rawat Tita. Aqilla dan Angel sudah siap untuk kembali mencukur rambut Tita. Tita sama sekali tak terlihat sedih untuk menghadapi proses operasi besar yang sebentar lagi akan ia jalani.
"Tita Mami cukur lagi rambutnya ya?" Tanya Aqilla yang menguatkan dirinya untuk tidak menangis di hadapan anak sambungnya.
__ADS_1
"Iya Mami," jawab Tita dengan senyum begitu manis.
"Ya Tuhan, apa besok aku bisa melihat senyum manis itu lagi. Sepertinya aku tak akan sanggup hidup tanpa Tita, seperti aku yang tak pernah sanggup melupakan perasaanku pada Angel, ibu kandungnya." Gumam Dito yang menitipkan air matanya kembali.
Danu yang melihat kerapuhan hati Dito, meremas bahu Dito. Seakan menegur Dito agar tetap kuat dan tak sedih di depan Tita.
Pagi ini Aqilla dan Angel mencukur hingga habis rambut Tita tanpa tersisa. Dua wanita ini saling menguatkan, saling menahan luapan air mata yang hampir saja ingin menetes membasahi pipi mereka.
Angel memberikan bandana dengan hiasan kupu-kupu di kepala putrinya.
"Sudah siap anak ibu?" Tanya Angel dengan suara yang bergetar.
"Sudah bu, ibu jangan nangis! Tita akan baik-baik saja dan pasti sembuh seperti yang dikatakan Tante Tania. Tita akan main bersama adik-adik Tita nanti jika sudah sembuh ya bu." Jawab Tita yang menghapus air mata Angel yang akhirnya tumpah dan membasahi pipinya.
"Mendekatlah Mas, Tita butuh kalian berdua. Dokter Danu pasti mengerti." Ucap Aqilla yang menarik tangan Dito.
Aqilla menyatukan ketiganya, dan Dokter Danu dengan kelapangan hatinya, membiarkan Angel berdekatan dengan Dito yang selama ini ditakuti diri akan merebut Angel darinya. Dokter Danu mengabadikan kedekatan ketiganya melalui jepretan kamera di ponselnya.
Dito dan Angel mencium pipi Tita secara bersamaan. Dan tangan keduanya bertemu didalam genggaman tangan Tita, seolah Tita ingin mereka bersatu.
"Papi, Ibu. Tita sangat mencintai dan menyayangi kalian." Ucap Tita yang membuat Dito dan Angel menangis bersama dan memeluk putri mereka.
"Maafkan Papi Tita," ucap Dito yang terus saja mengecup putrinya, begitu pula dengan Angel.
__ADS_1
"Maafin Ibu juga sayang," ucap Angel yang bergantian mencium Tita.
"Maafkan ibu yang selama ini tak menyadari kehadiran mu dan malah bertindak bodoh menghindari dan meninggalkan mu. Membiarkan mu menderita tanpa kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu." Ucap Angel yang hanya bisa ia katakan di dalam hatinya saja.
Tita dibawa keruang operasi oleh Dito dan Angel tanpa menggunakan kursi roda ataupun brankar rumah sakit, melainkan dengan digendong oleh Dito. Angel membawakan cairan infus mengikuti langkah Dito dengan memeluk tubuh Tita dan Dito. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang begitu bahagia. Tita terus saja tersenyum bahagia melihat dan merasakan kedekatan kedua orang tuanya.
Hari ini perlakuan khusus di ruang operasi diberlakukan untuk Tita. Semua tim medis yang terlibat dalam tindakan operasi Tita, menyambut kehadiran Tita di muka pintu. Tania menerima tubuh keponakannya itu, saat Dito memberikan putrinya pada dirinya.
"Berjuanglah untuk putriku Tania." Pinta Dito pada Tania.
"Aku akan berusaha semampu ku, Dit." Jawab Tania singkat.
Ia tak ingin banyak bicara, karena dia pun harus mengelola perasaannya yang harus tetap kuat dan tegar. Hari ini dia harus melakukan tindakakn operasi besar yang penuh resiko pada keponakannya sendiri, tentunya rasanya sangat berbeda. Ada beban mental yang ia terima kali ini. Apalagi Dito sudah menitipkan surat untuk Aqilla dan juga Angel yang telah lancang ia baca.
"Tita sayang, Papi hanya bisa antar Tita sampai sini. Tita nanti di dalam sama Ibu, Mami dan Tante Tania ya. Tita harus kuat dan berjuang untuk kami semua. Berjanjilah untuk tetap bertahan sayang." Ucap Dito pada Tita yang terus saja tak melunturkan senyumnya.
"Iya Papi. Papi tetaplah bersama Tita, jangan pergi jauh-jauh dari Tita ya Pih. Janji?" Jawab Tita yang menyodorkan jari kelingkingnya pada Dito.
"Janji, Papi akan terus bersama Tita kemanapun Tita pergi." Balas Dito yang mengeratkan jari kelingking mereka.
"Stupid. Gue gak tahan." Rutuk Tania yang akhirnya menitikan air matanya.
Brangkar Tita di bawa masuk kedalam ruangan dan Dito di minta untuk keluar. Dia duduk bersama kedua orang tuanya yang sudah ada di sana.
__ADS_1