Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 50


__ADS_3

Dengan ditemani oleh Angel, Aqilla mendatangi ruang IGD. Keduanya berjalan dengan tergesa-gesa, karena keadaan Mahendra kristis. Langkah kaki yang semula berjalan cepat itu makin lama makin melambat. Karena melihat Adisti istri kedua sang Daddy, yang selalu saja mengusir dirinya ketika ingin menemui Mahendra.


Tiba-tiba rasa marah dan dendam yang sudah luntur karena nasihat Angel padanya kembali membara begitu saja. Angel yang paham dengan kondisi Aqilla, segera menggenggam erat tangan Aqilla, seolah mentransfer kekuatan untuk sahabatnya yang mulai dikuasai oleh rasa dendam.


"Jangan hiraukan dia! Fokuslah dengan satu tujuan mu, menemui Daddy mu." Ucap Angel yang berbisik di telinga Aqilla.


Aqilla mengangguk paham, ia kembali melanjutkan langkah beratnya bersama Angel. Adisti yang melihat anak tirinya mengenakan pakaian Dokter segera menarik lengan Aqilla. Ia menghentikan langkah anak tirinya itu di ambang pintu.


"Maafkan aku, Daddy mu tak pernah salah, akulah yang salah selama ini pada mu Qilla. Dia sangat menyayangi mu dan akulah yang melarangnya menemui mu ataupun dekat denganmu. Apalagi untuk menolong mu. Jadi tolong selamatkan dia demi adikmu yang masih kecil ini." Ucap Adisti dengan pernyataannya dan tanpa rasa malu memohon bantuan pada Aqilla dengan diiringi isak tangisnya.


Deg! [Jantung Aqilla seakan berhenti sesaat saat mendengar pernyataan Adisti, ibu tiri yang tak pernah menerima kehadirannya.]


Tak ingin membuang waktunya dengan Adisti, Aqilla menghempaskan tangan wanita muda yang lebih tua lima tahun dengan usianya.


"Lepaskan!!" Ucap Aqilla yang kemudian meninggalkan Adisti bersama seorang putra yang terus menggandeng sebelah tangan ibunya.


Aqilla sejenak melirik anak kecil itu yang Adisti katakan sebagai adiknya. Kemudian Aqilla masuk ke ruang IGD dimana kehadirannya sudah di nanti oleh tim medis lainnya.


"Dokter Aqilla," cicit seorang Dokter spesialis Jantung lain yang segera menyikir ketika melihat Aqilla datang bersama Angel pemilik rumah sakit ini.


Ia memberikan kesempatan pada Aqilla yang diketahui adalah putri dari pasien yang sedang ditanganinya.


"Detak jantungnya melemah Dok,dibawah rata-rata, saya sudah berusaha tapi kondisi pasien belum menanggapi dan ada kemajuan." ucap Dokter Marwan menginformasikan pada Aqilla.


Dengan kedua tangannya yang meragu, Aqilla memompa jantung Mahendra.


Hugh...hugh...hughh... [Suara tubuh Mahendra yang Aqilla coba memompa jantung Mahendra agar terus berdetak].


"Teruslah berdetak Daddy! Bernafaslah!!" Pekik Aqilla yang terus memompa sekuat tenaga.


Mulutnya terasa kelu karena sudah bertahun-tahun lamanya tak memanggil nama ini. Namun hati dan emosionalnya sebagai seorang anak membuatnya memanggil nama panggilan seseorang yang selalu menjadi Cinta pertama anak perempuannya.


Ia naik ke brangkar, ketika Mahendra jantung Mahendra belum merespon, ia tak perduli lagi dengan orang-orang yang melihatnya. Tak perduli dengan bagian tubuhnya yang tereskpos.


Bayangan masa kecilnya yang penuh dengan kasih sayang sang Daddy, tiba-tiba membuatnya bersemangat menyelamatkan sang Daddy yang tadinya amat sangat enggan ia selamatkan karena rasa dendamnya.

__ADS_1


Aqilla meminta tim medis untuk menyuntikkan beberapa obat dalam dosis yang cukup, guna membantu kinerja jantung Mahendra agar terus berdetak stabil.


"Daddy bertahanlah!!" Pekik Aqilla lagi yang membuat hati semua orang terhenyuh dengan kegigihannya memcoba menyelamatkan orang tuanya.


Seorang anak yang berprofesi sebagai seorang Dokter mencoba menyelamatkan nyawa orang tuanya sendiri. Pemandangan yang tak biasa mereka lihat. Air mata Aqilla terus saja menetes membasahi pipinya bersamaan dengan buih keringat yang mengalir deras karena ia terus bergerak mengeluarkan tenaganya untuk melakukan pertolongan pada sang Daddy.


"Hati mu sebenarnya baik Qilla, hanya saja semua kebaikan itu tertutup oleh dendam dan luka di hatimu yang masih menganga. Entah bagaimana caranya agar luka itu bisa tertutup kembali dengan rapat. Tak mudah menjadi dirimu yang dikelilingi orang yang tak bisa menerima kehadiran mu karena keegoisan orang tuamu yang memilih berpisah dan mencari teman hidup baru yang malah menjerumuskan mu dalam kubangan dendam." Gumam Angel dengan matanya yang terus memperhatikan Aqilla.


"Siapkan ruang operasi segera!!" Pekik Aqilla.


Beberapa tim medis yang mendengarnya segera berlarian menyiapkan ruang operasi saat itu juga.


Aqilla memutuskan untuk melakukan tindakan operasi setelah melihat jantung sang Daddy kembali berdetak seirama dengan jarum jam.


"Daddy ini Qilla. Bukalah mata mu Daddy!! Jika kau masih enggan membuka mata. Tolong, teruslah bernafas seperti ini dan bertahanlah! Anak dan istrimu sedang menunggu dirimu dengan cemas diluar sana." Ucap Aqilla saat melihat dilayar monitor jantung Mahendra kembali berdetak dengan normal.


Namun Mahendra seakan sudah berada di dalam tidur dalamnya. Hingga ia tak menanggapi ucapan Aqilla yang memintanya bertahan.


Seorang perawat menghampiri Aqilla membawa laporan kesehatan Mahendra. Aqilla segera turun dan membaca riwayat penyakit yang diidap sang Daddy selama ini.


"Ternyata kau sakit separah ini, Dad? Apa dia tak mengurus mu?" Gumam Aqilla dalam hatinya ketika membaca laopran reka medis Mahendra.


Angel menganggukan kepala. Tanda jika ruangan sudah siap untuk Aqilla segera melakukan tindakan operasi pada Mahendra.


"Kalau begitu saya akan minta persetujuan pihak keluarga dulu Dok untuk melakukan tindakan lanjutannya," ucap salah satu tim perawat yang baru saja memberikan laporan kesehatan Mahendra pada Aqilla.


"Tidak perlu, saya sendiri yang akan menandatanganinya karena saya adalah putrinya." Ucap Aqilla dengan tegas.


Ia mengakui Mahendra sebagai sang Ayah di depan banyak orang, meski sebagai dari mereka sudah mengetahuinya. Seolah pengakuan Aqilla adalah sebuah obat penawar bagi Mahendra. Mahendra pun membuka matanya.


"A-qil-la... putri ku," panggil Mahendra dengan suara yang terputus-putus.


Mahendra tak menyangka bisa bertemu dengan putri semata wayangnya saat ini. Ia yang sedang berada di alam bawah sadarnya. Mendengar suara Aqilla langsung menguatkan dirinya untuk bangun dari tidur dalamnya.


Aqilla yang mendengar Mahendra memangginya, segera menghampiri sang Daddy yang sudah membuka matanya.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara dulu! Siapkan tenaga yang tersisa untuk kita berjuang bersama di meja operasi nanti." Ucap Aqilla pada Mahendra sembari merangkul tubuh pria tua itu.


"Ti-dak perlu Nak. Sepertinya Tuhan akan segera menjemput Daddy." Tolak Mahendra yang malah menitikan air matanya.


Ia terharu dengan kesempatan yang Tuhan berikan padanya, yaitu dapat melihat putrinya setelah sekian lama tak bertemu. Ia begitu bahagia melihat putrinya yang sudah menggapai cita-citanya sejak kecil. Mahendra tersenyum dan menyentuh jas putih yang dikenakan Aqilla dengan jemarinya yang sudah pucat dan terlihat pergerakan tubuhnya yang lemah dan lemas.


"Kamu sudah jadi Dokter Nak? Ternyata Bram tidak bohong." Ucap Mahendra dengan air mata yang mengalir deras dimatanya


Bagaimana bisa ia tak sedih melihat keberhasilan putrinya tanpa campur tangan dirinya. Dapat ia bayangkan bagaimana sulitnya perjuangan hidup putrinya tanpa dirinya. Andai saja ia punya kekuatan mungkin saat ini ia akan menagis dan meneriaki kebodohannya. Menelantarkan seorang anak hanya demi wanita.


"Bertahanlah Daddy! Jangan menolak tindakan ini yang akan menyelamatkan nyawa mu." Mahendra menanggapi ucapan Aqilla dengan senyuman manis.


Alih-alih membahas mengenai kesehatannya Mahendra malah membahas tentang Bram.


"Qilla, Daddy sudah tahu jika dirimu sudah menikah dengan Bram. Dia sudah mendatangi Daddy untuk meminta restu Daddy untuk pernikahan kalian yang telah dilangsungkan tanpa Daddy mu yang tak becus ini," ucap Mahendra dengan susah payah untuk menyelesaikan kalimatnya.


Deg! [Aqilla terkejut]. Mata Aqilla sedikit membola. Ketika ia mendengar Mahendra mengatakan Bram meminta restu padanya.


"Berbahagialah bersamanya Qilla, dia pria yang terbaik untuk mu, sampaikan maaf Daddy padanya yang tak mau menuruti saran darinya untuk mendatangi mu. Menjemput mu dari pelarian mu. Ketahuilah Nak, meski Daddy tak pernah membantu mu, namun doa Daddy selalu mengiringi disetiap langkah mu." Ucap Mahendra dengan tetesan air mata, begitu pula dengan Aqilla yang larut terbawa suasana.


Mahendra yang kondisinya begitu lemah terus memaksakan dirinya untuk bicara pada sang putri. Ia memaksakan diri karena merasa waktunya sudah tak lama lagi.


"Mas Bram...terbaik untuk ku?" Cicit Aqilla.


"Dia sama tersiksanya seperti dirimu Nak, maafkan Daddy, semua ini berawal dari kesalahan Daddy. Maafkan keegoisan Daddy Nak. Restu dan doa Daddy akan mengiringi kebahagiaan kalian berdua." Ucap Mahendra yang mulai kehabisan tenaga.


Mahendra mulai mengerjap-ngerjapkan matanya dan nafasnya pun mulai terputus - putus dan tersengal-sengal. Semula matanya tengah menatap wajah Aqilla kini berpindah menatap langit-langit dengan mata yang terbuka seakan menahan rasa sakit yang luar biasa.


"Daddy... Daddy. Bertahanlah!!" Panggil Aqilla yang mulai mengguncangkan bahu Mahendra.


"Jangan tinggalkan Qilla lagi! Daddy bernafaslah!" Pekik Aqilla yang memecahkan keheningan di ruang IGD.


Aqilla kembali mengambil pacemaker dan memompa jantung Mahendra ketika mata Mahendra tertutup rapat dengan hembusan nafas terakhir yang menyapu wajah Aqilla.


"Daddy bangun! Sudah ku bilang jangan banyak bicara! Cepat bangun Daddy! Bernafaslah!" Pekik Aqilla dengan suaranya yang kembali menggelegar.

__ADS_1


Air matanya luruh lantang ketika suara monitor nyaring terdengar menandakan Mahendra benar-benar telah pergi. Aqilla jatuh lunglai ke atas lantai. Adisti yang sudah berdiri tak jauh dari brangkar suaminya segera memeluk tubuh suaminya yang sudah tak bernyawa lagi.


"Daddy jangan pergi!!" Tangis Adisti dan seorang anak laki-laki yang masih berusia lima tahun.


__ADS_2