
"Ikutlah dengan ku, jika kau ingin aku menceraikan mu!" Bram menarik paksa tangan Aqilla.
Aqilla berusaha melepaskannya namun tenaga Aqilla tak sebesar tenaga Bram.
"Bram lepaskan, kau menyakiti ku," pinta Aqilla yang terus berusaha melepaskan cenkraman tangan Bram yang membuatnya berjalan terseret-seret.
"Hubungan terlarangmu dengan Dito, membuat mu tak sopan memanggiku hanya dengan sebuah nama Qilla. Bagaimana pun aku ini masih suami mu, panggil aku seperti dulu, tidak hanya dengan sebuah nama." celoteh Bram yang tak melepaskan cengkraman tangannya, tapi malah memprotes cara Aqilla memanggil dirinya.
Bram membawa Aqilla ke dalam mobilnya, Aqilla berusaha keluar dari mobil Bram. Namun usahanya itu tak berhasil. Aqilla segera mengirimkan pesan singkat pada Dito saat Bram berlari menuju pintu kemudi.
Mas, aku dibawa pergi oleh Bram. Tolong selamatkan aku. Aqilla
Dito yang sedang meeting bersama karyawannya membaca pesan Aqilla sontak terkejut. Ia segera membubarkan meeting yang belum selesai itu.
Dito segera menyalakan GPS yang terhubung antara ponsel Aqilla dan dirinya. Dito mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti arah navigasi GPS yang ia gunakan untuk mencari keberadaan Aqilla.
Sementara itu di rumah sakit Calista yang setelah menemui Aqilla dan tak sengaja bertemu dengan Bram, melangkahkan kakinya untuk menjenguk Ayah mertuanya.
Di dalam pikirannya kini, terus memikirkan apa yang diucapkan Aqilla padanya. Untuk meninggalkan Bram dan memulai hidupnya yang baru bersama putra semata wayangnya.
"Apakah aku akan hidup bahagia, jika aku berpisah dengan Bram? Apa Alex akan bahagia hanya hidup berdua bersama ku? Apa hanya sampai di sini perjuangan ku mendapatkan cinta Bram?" Calista terus bermonolog di dalam dirinya sendiri.
Pergulatan batin yang kini ia rasakan demi menemukan keputusan jalan hidupnya kedepannya nanti sungguh tidak mudah. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan. Tidak hanya untuk dirinya namun juga untuk putranya nanti.
__ADS_1
Bram membawa Aqilla kembali kerumah yang menjadi saksi pernikahan mendadak mereka kala itu. Rumah yang tak pernah berubah masih terjaga dan terawat hingga kini.
" Untuk apa kau membawa ku kesini Bram?" Tanya Aqilla dengan tatapan tajamnya pada Bram yang masih menatap lurus kedepan.
"Untuk mengingatkan mu, jika ini adalah rumah kita, rumah yang menyatukan cinta kita, rumah yang----" jawab Bram yang terpotong karena Aqilla menyelanya.
"Rumah yang membuatku harus meninggalkan negeri ini, rumah yang membuat karir dan cita-cita ku hancur berantakan, rumah yang membuat hidupku hampir saja berakhir ditangan Ayah mu, bukan begitu?" Sambung Aqilla dengan berapi-api.
Ia sungguh tak ingin kembali menatap masa lalu yang kelam lagi. Ia sudah mengubur dalam-dalam perasaannya pada Bram.
"Qilla.." cicit Bram yang memanggil nama Aqilla saat ia mendengar perkataan istrinya yang membuatnya kembali terluka.
"Kenapa Bram? Kau tak suka aku bicara seperti ini pada mu? Ketahuilah Bram, aku memang pernah mencintai mu, tapi itu dulu. Tidak dengan sekarang Bram. Jika kau bilang posisimu sudah terganti dengan Dito itu sama sekali tidak benar. Kau punya tempat tersendiri dihati ku. Kau adalah cinta pertama bagi ku. Cinta yang begitu indah yang pertama kali aku rasakan, namun cinta yang paling membuatku terluka dalam hidupku. Jika saja waktu dapat diputar kembali. Mungkin aku ingin memilih tak mengenal mu. Agar aku tak merasakan penderitaan hidup seperti ini." tutur Aqilla yang menitikan air matanya.
"Ketahuilah Bram saat aku melihatmu dibawa orang-orang Ayah mu, aku sungguh khawatir. Aku menangisi mu sepanjang malam. Aku takut terjadi hal buruk menimpa mu. Pagi harinya, entah sengaja atau tidak Mas Dito mendatangiku. Dia mengantarku menuju rumah sakit, namun di pertengahan jalan, kami terlibat pembicaraan penting, aku menceritakan tentang dirimu yang dibawa orang-orang suruhan ayah mu dan Mas Dito segera menyuruhku ku pergi meninggalkan negri ini untuk menyelamatkan diriku dari amarah Ayah mu. Ku kira semua hanya karangan Mas Dito saja, tapi aku dengar jelas berita di media sosial jika perusahaan Ayah mu sudah membeli dan meruntuhkan apartemen yang aku tinggali."
"Qilla..."
"Berhentilah terus memanggil nama ku, Bram! Jika kau tak bisa menanggapi ucapan ku lebih baik kau tutup mulut mu. Ketahuilah aku sangat membenci diri mu, melihat mu ataupun mendengar suara mu aku benci Bram. Aku benci karena harus mengingat kembali segala kepedihan dan luka yang pernah aku rasakan." Omel Aqilla yang membuat Bram terdiam.
"Apa dengan berpisah dengan ku, kau akan bahagia Qilla?" tanya Bram seraya mengarahkan wajah Aqilla agar menatapnya, dengan tanganya yang segera ditepis oleh Aqilla.Aqilla menolak sentuhan dari suaminya sendiri.
"Qilla!!" pekik Bram yang takterima tangannya di tepis Aqilla.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku Bram! Aku tak ingin lagi disentuh lagi oleh mu. Karena aku sedang mengandung anak Dito." ucap Aqilla berbohong.
"APA?" Bram terkejut dan mencengkram kedua bahu Aqilla.
"Kau mengkhinatiku sejauh ini Qilla? Kau benar-benar menyakitiku Qilla." ucap Bram dengan mata yang berkaca-kaca.
Aqilla membuang pandangannya, ia tak ingin lagi melihat sisi rapuh Bram yang ia kecewakan. Saat ini ia berbohong karena ingin Bram segera menceraikannya.
"Tak hanya aku yang mengkhianati pernikahan ini, tapi juga kamu Bram. Apa yang kamu lakukan setiap malam selama aku tak ada itu adalah bentuk dari pengkhianat mu pada ku. Aku hanya mengkhianati mu dengan satu orang sedang kamu entah sudah berapa ratus wanita yang pernah menghangatkan ranjang mu." Balas Aqilla yang menyingkirkan kedua cengkeraman tangan Bram di bahunya dengan sekali hentakan tubuhnya.
Bram terdiam mendengar ucapan Aqilla, ia menyadari kesalahannya yang juga tak setia dengan pernikahan keduanya ini. Padahal besar harapannya dulu, pernikahan keduanya akan memberikan kebahagiaan untuknya, ternyata tidak. Malah membuat hidupnya salah jalan dan berujung sakit hati seperti saat ini.
"Tapi aku mencintaimu Qilla, aku akan menerima anak Dito dalam pernikahan kita asal kau mau hidup bersama ku." Ucap Bram tulus yang membuat Aqilla merasa Bram sudah terlau bodoh mencinta dirinya.
"Tolong izinkan aku pergi dari hidup mu Bram! Izinkan sekali saja dalam hidupku, aku hidup tenang dan bahagia." Tutur Aqilla yang memohon.
Bram terdiam mendengarkan permohonan Aqilla. Ia menatap dalam manik mata Aqilla. Hingga akhirnya ia menjawab dan kembai membuat Aqilla tertunduk lesu.
"Beri aku waktu untuk berpikir, aku akan mempertimbangkan keinginan mu bercerai dengan ku," jawab Bram.
Bram turun dari mobilnya dan melihat Dito sudah berada di luar pagar, dihadang oleh beberapa anak buahnya. Aqilla yang ikut turun, seketika pandangannya melihat kearah pagar. Ia lihat Dito yang sudah datang, ia segera berlari ke arah pintu pagar.
"Mas, bawa aku pergi dari sini, aku tidak mau di sini," ucap Aqilla yang berpegangan dengan Dito melalui celah pagar.
__ADS_1
Prok...prok...prok... [Suara tepukan tangan dari tangan Bram].