
Ditempat yang berbeda, Bram sedang memandangi pemandangan ibu kota dari jendela kamar hotelnya. Ia sudah mengetahui jika Aqilla sudah berada di kota ini. Setelah tanpa sengaja ia melihat sosok sang istri, ketika ia sedang menjenguk sang Daddy di rumah sakit tempat Aqilla bekerja.
Apalagi sang Dokter yang menangani sang Ayah menyarankan untuk melakukan operasi pemasangan ring dengan Dokter Aqilla, yang merupakan istrinya sendiri.
"Dia sudah kembali ke kota ini, tapi kenapa dia tak langsung menemuiku, tapi malah melanjutkan hidupnya tanpa diriku? Apa kau sudah melupakan ku Qilla?" Tanya Bram pada dirinya sendiri.
"Bram!" Panggil Sandra yang berdiri tak jauh dari keberadaannya, yang masih menatap pemandangan dari balik jendela.
"Apa kau sudah mendapatkan informasi yang ku butuhan San?" Tanya Bram tanpa menoleh kearah Sandra.
"Aku sudah bertemu dengannya langsung, Informasi yang ku dapat langsung dari mulutnya Bram." Jawab Sandra yang berjalan mendekati sepupunya itu.
"Apa yang dia katakan pada mu San? Kenapa dia tak mendatangi ku setelah ia kembali?" Tanya Bram yang kali ini menatap wajah sendu Sandra.
"Ku harap kau bisa menerima kenyataan, jika Aqilla meminta kau menceraikan dirinya. Dia sudah mantap untuk berpisah denganmu." Jawab Sandra yang membuat Bram terkejut.
"Dia ingin aku menceraikannya?" Tanya Bram yang ingin memastikan perkataan Sandra barusan.
"Ya Bram. Dia mantap ingin bercerai dengan mu. Alasannya kembali ke negara ini hanya karena ingin membantu Dito dalam menyembuhkan putrinya yang sedang sakit. Kemungkinan setelah selesai melakukan operasi anak Dito. Dia akan kembali meninggalkan negara ini." Ucap Sandra sesuai dengan apa yang di ucapkan Aqilla padanya sore tadi.
Memang Aqilla mengatakan seperti itu pada Sandra yang mendatanginya secara langsung di ruangan prakteknya. Niatnya ingin berpisah tanpa menyakiti perasaan Bram sedikitpun. Ia tak mau mengatakan yang sesungguhnya, jika ia akan memulai hidupnya yang baru bersama Dito nantinya, ketika Bram sudah menceraikannya.
"Never. Sampai kapan pun aku tak akan mengucapkan kata talak ku untuknya. Meskipun aku masih belum bisa mendaftarkan pernikahan kami secara tertulis dalam catatan negara sampai saat ini, tapi aku tak akan pernah menceraikannya. Aku sangat mencintainya. Tak akan aku biarkan dia pergi lagi dariku. Sandra." Tolak Bram yang terlihat berapi-api.
__ADS_1
Tak terlintas dibenaknya, jika Aqilla kembali dengan permintaan yang tak pernah sedikitpun terpikirkan olehnya.
"Bram, dia sudah tahu kebiasaan mu dengan wanita malam setiap harinya. Dia jijik dengan mu Bram. Kau sudah menyakiti perasaannya." Ucap Sandra lagi yang membuat Bram terkejut.
"Apa? Bagaimana bisa ia mengetahuinya? Pasti Dito yang mengatakannya, bukan? Dia ingin menjatuhkan ku dimata Aqilla." Tuduh Bram pada Dito yang sama sekali tak pernah mengurusi hidup Bram.
Dito sama sekali tak perduli dengan kehidupan Bram. Bram mau lakukan apapun tak akan mencuri perhatian dirinya sedikit pun, karena Bram bukanlah orang yang penting di dalam hidupnya.
"Tidak Bram, dia mencari tahu sendiri dari kenalannya. Kau memang salah Bram, tak seharusnya kau melakukan kebiasaan burukmu setiap malam. Mungkin jika dulu kau belum menikah dengannya. Dia tak perduli dengan apa yang kau lakukan tapi sekarang, meskipun dia adalah istri sirih mu, dia tetap istri mu. Istri mana yang tak sakit hatinya jika mengetahui suaminya bersenang-senang setiap malam dengan wanita yang berbeda, disaat dirinya dalam masa pelarian, menyelamatkan diri dari kekejaman mertuanya." Pungkas Sandra yang kemudian meninggalkan Bram.
Sandra sangat paham betul apa yang tengah dirasakan oleh Aqila dan juga Bram. Dia tak membela satupun dari mereka, ia tak mau masuk lebih dalam dengan urusan pribadi saudara sepupunya dan juga sahabatnya.
"Aku ingin menemuinya San, apa dia bersedia untukku temui?" Tanya Bram yang menghentikan langkah Sandra yang pergi meninggalkan sepupunya.
Malam ini sudah dapat dipastikan jika Bram tak akan bisa memejamkan matanya, karena terus memikirkan permintaan Aqilla yang ingin diceraikan oleh dirinya.
Untuk menghilangkan penat. Bram menjalankan mobilnya kesebuah apartemen mewah yang tak ia ketahui jika gedung partemen itu adalah milik Dito, yang juga di tinggali oleh Aqila dan juga Dito di sana.
Bram mendatangi apartemen ini untuk menemui patner ranjangnya, siapa lagi kalau bukan Nani.
Ting tong... [Suara Bell unit apartemen Nani di lantai 23 di tekan oleh Bram].
Nani membukakan pintu apartemen pemberian Bram dengan hanya mengunakan lingerie, ia tahu Bram akan datang ke apartemennya, karena pria itu sudah menghubunginya sebelumnya.
__ADS_1
"Hai Om," sapa Nani yang langsung menyosorkan bibirnya pada bibir Bram.
"Buat aku bisa tidur Nani," ucap Bram yang sudah mulai aktif mengerayangi tubub Nani.
"Tentu saja Om, Nani akan buat Om bisa tidur seperti biasanya. Tapi Om mau dibangunkan jam berapa hum?" Tanya Nani yang sudah tak bisa menahan dirinya.
Tubuhnya terus menggelinjang ketika Bram terus menciumi leher jenjangnya.
"Bangunkan aku jam enam pagi, aku harus kerumah sakit menemui seorang dokter yang akan mengoperasi Daddy ku." Jawab Bram yang sudah di penuhi hasrat ingin bercinta dengan Nani.
Malam itu meski sudah lebih dari dua ronde permainannya. Bram masih belum bisa memejamkan matanya. Dia atas balkon kamar, Bram duduk sambil menyesap hampir dua bungkus rokok dalam waktu satu jam. Ini merupakan hal yang tak biasa.
Nani yang sudah kelelahan memandang tak tega, ia tahu jika Bram sedang banyak pikiran dan stres. Dengan menggunakan selimut Nani mendekati Bram.
"Om, berbagilah cerita dengan ku, siapa tahu sedikit meringankan beban pikiran mu." Ucap Nani yang ikut duduk bersamanya.
"Aku pernah bercerita pada mu, jika aku memiliki dua istri bukan?" Tanya Bram pada Nani, agar Nani mengingatnya.
"Ya Om, Nani ingat. Apa ini mengenai istri kedua Om yang menghilang?" Tanya Nani yang menyadarkan tubuhnya di dada bidang Bram.
"Ya. Dia sudah kembali, tapi dia kembali untuk berpisah dengan ku. Ia ingin aku menceraikannya." Jawan Bram yang menatap awan gelap yang di taburi bintang-bintang.
Ada rasa khawatir di hati Nani, ketika ia mengetahui istri kedua yang sangat dicintai Bram telah kembali. Ia mengkhawatirkan nasibnya setelah ini. Ia pasti akan tersingkir dan terbuang dari hidup Bram.
__ADS_1
"Lantas apa Om akan menceraikannya?" Tanya Nani yang begitu ingin tahu keputusan Bram yang akan menentukan nasib dirinya kedepannya.