
Tak sampai lima belas menit Aqilla menunggu Dito. Dito datang dengan mobilnya dan berhenti tepat di samping mobil Aqilla. Aqilla tersenyum sinis melihat kedatangan mobil Dito. Ia turun dan langsung masuk ke dalam mobil Dito. Dito yang tadinya ingin turun jadi mengurungkan niatnya karena Aqilla sudah masuk terlebih dahulu ke dalam mobilnya.
"Kenapa meminta ku menjemputmu?" Tanya Dito yang menatap Aqilla yang duduk di sampingnya.
"Aku sedang tak ingin sendirian." Jawab Aqilla yang juga menatap wajah Dito.
Mereka saling memandang satu sama lain.
"Aku sedang dalam proses perceraian bersama Cella, jika dia melihat kita bersama, ia akan mempersulit proses perceraian ku bersamanya dan hak asuh Tita bisa saja jatuh ke tangan Cella."
"Hak asuh Tita tak akan pernah jatuh ketangan Cella sampai kapan pun. Jangan tipu aku Mas! Aku bukan mereka yang bisa kau tipu. Tita bukan anak Cella tapi anak mu dengan Angel." Balas Aqilla yang membuat Dito meremas stir mobilnya.
Rahasia yang ia sembunyikan selama ini, tak ada satu pun orang yang tahu, termasuk kedua orang tuanya, kini sudah diketahui oleh Aqilla. Dito diam tak menanggapi pernyataan Aqilla.
"Anak Cella sudah meninggal saat ia dilahirkan bukan? Karena istri tercintamu itu belum siap untuk punya anak, dia koma berbulan-bulan setelah melahirkan anak kalian dan kau menggantikan posisi anak Cella yang telah tiada dengan anak Angel dan dirimu. Cella kakak tiriku dan Angel sahabat ku yang kau campakan ketika sedang mengandung Tita. Tidak mungkin aku tak mengetahuinya Mas!"
"Qilla?" Bentak Dito untuk pertama kalinya. Ia ingin Aqilla berhenti bicara. Alih-alih berhenti bicara, Aqilla malah terus bicara, meluapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Kau membantu ku selama ini, karena mencintai ku atau ingin menyakiti Angel dan Cella, Mas? Apa kau punya dendam dengan sahabat ku dan Kakak tiri ku itu, hah? Apa kau ingin melihatnya menderita karena telah mencampakkan Tita yang baru dilahirkan di rumah sakit olehnya, bukan begitu? Dan kau ingin membuat Cella menderita karena kecerobohannya saat proses kelahiran putri mu yang telah tiada itu?" Aqilla membrondong Dito dengan pertanyaan yang menyudutkan dirinya.
"Qilla stop. Jangan lancutkan omong kosong mu itu!" Bentak Dito lagi.
"Tidak! Aku tak akan berhenti. Sebelum kau katakan alasan apa yang membuatmu terus membantu ku? Apa karena tubuh ini kau membantu ku,Mas? Atau karena rasa cinta mu pada aku atau Angel? Aku berada diantara kalian yang saling mencintai. Aku adalah dinding pemisah diantara kalian. Kau tahu apa yang dikatakan Angel pada ku pagi tadi? Andai saja dia belum memiliki anak dari Dokter Danu, dia akan menyelamatkan hati mu dari diriku. Dia masih mencintai mu, dia masih perduli dengan dirimu dan kau pun begitu. Kenapa kau ingin aku bercerai dengan Mas Bram? Kenapa kau bahagia dengan perpisahan ku dengannya? Sedangkan hati mu saja masih milik Angel? Katakan Mas! Aku butuh penjelasan." Dito terdiam mendengarkan penuturan Aqilla yang menekan dirinya.
"Turun! Aku butuh waktu untuk sendiri." Ucap Dito yang meminta Aqilla untuk turun.
"Tidak." Jawab Aqilla yang tetap ingin di dalam mobil, hingga Dito menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan olehnya.
Dito turun dari mobilnya dan berlari kearah pintu samping. Ia membukanya dan menarik Aqilla keluar dari mobilnya.
Aqilla melirik dan tersenyum sinis melihat lengannya yang di cengkram kuat oleh Dito. Sakit. Tentu saja tangan Aqilla terasa sakit begitu pula dengan perasaannya hari ini.
"Apa yang kau lakukan pada ku saat ini, sudah menjawab semua pertanyaan yang ku berikan pada mu, Mas. Peraturan kita tetap akan sama seperti dulu. Aku hanya patner ranjang mu dan hati mu masih tetap milik Angel, sahabat ku. Kau boleh meninggalkan ku dan aku berhak meninggalkan mu, kapan pun aku mau." Tutur Aqilla yang bicara sembari menundukan pandangannya.
Ia tengah menitikan air matanya. Ia sadar betul semua rasa dendamnya membuat orang sekelilingnya menderita. Melihat pengorbanan Bram yang membiarkan kedua orang tuanya pergi untuk selama-lamanya ternyata membuka mata hati Aqilla yang tertutup oleh dendam.
__ADS_1
Apalagi sebelumnya ia mendengar pernyataan Angel yang ingin menyelamatkan hati Dito dari dirinya. Membuat hatinya tertampar karena telah terlampau egois menyakiti perasaan sahabat yang begitu baik dan perduli pada dirinya selama ini.
Ya. Dia yang terlampau egois selama ini. Ia mengetahui Tita putri Angel sejak awal, tapi tak ada niat untuk memberitahunya pada Angel yang terus saja mencari keberadaan putrinya, hanya karena misi balas dendamnya belum usai.
Penuturan dan cara Aqilla melirik lengannya yang dicengkram oleh dirinya membuat Dito sadar, telah membuat Aqilla tersakiti dengan sikapnya yang kasar. Dito terlihat menyesal dan melepaskan cengkramannya.
"Maafkan aku, tolong beri waktunaku untuk berpikir. Aku butuh waktu untuk sendiri. Aku akan menjawabnya semua pertanyaanmu ketika aku menemui mu nanti." Ucap Dito yang malah pergi meninggalkan Aqilla seorang diri.
Dito kembali melajukan kendaraannya. Ia melesat pergi entah kemana. Bram yang masih berada di sana. Turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Aqilla. Ia memeluk Aqilla dan membiarkan Aqilla menangis tersedu-sedu di dalam pelukkannya, tanpa bertanya apa yang terjadi pada Aqilla dan Dito. Bram pun membawa Aqilla pergi ke rumah Sandra.
"Tinggalah di sini untuk sementara waktu. Jangan kemana-mana dan membuat ku tak tenang karena memikirkan diri mu yang tak tentu arah." Ucap Bram ketika mobilnya berhenti tepat di depan pagar rumah sandra yang menjulang tinggi.
Bram membukakan pintu untuk Aqilla turun. Ia menenuntuk Aqilla masuk ke dalam rumah Sandara. Bi Ipah yang ingin mematikan lampu karena Sandra akan segera kembali ke rumah, melihat kedatangan Aqilla dan Bram langsung menghampiri Bram dan Aqilla.
Sementara itu Dito, sudah berada tak jauh dari kediaman Angel dan Danu. Ia seperti orang bodoh berada di sana untuk beberapa jam. Entah apa yang sedang ia tunggu di sana. Namun hatinya kembali merasa sakit teriris-iris, ketika melihat Angel sedang menggendong anaknya dengan Danu di atas balkon. Angel sedang memperlihatkan bintang-bintang di langit pada anaknya. Dito yang melihatnya hanya bisa tersenyum getir. Kebahagian Angel yang ia lihat terasa begitu semu di matanya.
"Aku tahu, Kau menikahi Danu untuk mengetahui dimana putri mu yang telah kau tinggalkan, bukan hanya untuk membantu Aqilla. Kenapa kau tak datang padaku dan bertanya dimana putri kita Angel. Dia ada bersama ku, sedang merasakan dan berjuang melawan penyakitnya seorang diri." Ucap Dito yang menitikan air mata dengan senyum getirnya. Ia menyandarkan kepalanya di atas kemudinya dan menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Bram jauh lebih beruntung dibandingkan diriku, meski dia sama-sama menjadi korban keegoisan orang tuanya tapi dia tak meninggalkan Aqilla dengan seorang anak. Tidak seperti diriku yang membuat Angel menderita selama mengandung Tita. Meninggalkannya tanpa kata-kata, bahkan berusaha melupakannya dan tergoda dengan keindahan tubuh Cella. Aku ini pria brengsek yang tak punya hati." Ucap Dito dengan isak tangisnya.