Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 46


__ADS_3

Aqilla pura-pura menggeliatkan tubuhnya, saat mobil Dito berhenti sejenak disebuah rest area.


"Kita sudah sampai dimana Mas?" Tanya Aqilla yang pura-pura tidak tahu.


"Sekarang kita ada di rest area. Aku harus isi bahan bakar dulu, kamu mau beli sesuatu. Di sana ada mini market." ucap Dito sembari menunjukkan mini market yang ada di ujung pengisian bahan bakar.


"Aku mau beli minum, apa kamu juga mau Mas?" tawar Aqilla yang langsung menadahkan kedua tangannya dan tersenyum.


Ia meminta uang pada Dito, pasalnya tas dan dompetnya masih tertinggal di rumah sakit. Dito tersenyum melihat cara Aqilla meminta uang padanya. Dito pun memberikan dua lembar uang pecahan seratus ribu rupiah.


Dito tak melepaskan uang yang ia berikan pada Aqilla saat uang itu sudah ada di tangan Aqilla, Aqilla menarik uang itu, namun uang itu tak dilepaskan oleh Dito.


"Oh, Mas Dito..." rengik Aqilla saat Dito tak juga melepaskan uang itu.


"Tidak pernah ada yang gratis di dunia ini Aqilla." ucap Dito yang Aqilla mengerti.


"Yes. I Know." Aqilla menberikan ciuman di pipi kiri Dito.


"Tarifku saat mahal Tuan Dito, uang ini hanya cukup membeli satu ciuman di pipi mu." ucap Aqilla dengan tawa yang pias. Terlihat bahagia namun hatinya masih terasa ngilu.


Dito tersenyum geli mendengar ucapan Aqilla, "Sana pergilah belikan aku sekaleng kopi es kopi, aku akan menunggu mu di ujung sana jika aku sudah selesai mengisi bahan bakar." ujar Dito yang mengusap rambut Aqilla.


Aqilla melepaskan Jas Dokter yang masih ia kenakan dan keluar dari mobil Dito. Ia berjalan menuju minimarket untuk membeli minum. Tanpa disangka dan diduga. Bram pun ada di sana. Ia sedang membeli beberapa kaleng minuman alkohol untuk menenangkan dirinya.


Siapa sangka mereka kembali bertemu dan bertatap muka di sana. Suasana canggung mengkhiasi pertemuan mereka setelah beberapa jam yang lalu, kata cerai telah tercetus dari mulut Bram.

__ADS_1


Mereka berdua sama-sama berdiri di lemari pendingin yang sama. Bram membawa keranjang kuning untuk memasukkan beberapa kaleng minuman beralkohol. Bram membuka sisi pintu lemari pendingin yang berbeda. Ia memasukan minuman kaleng beralkohol yang mencuri perhatian Aqilla.


Aqilla menghentikan pergerakan tangan Bram yang terus saja memasukkan minuman kaleng beralkohol.


"Jangan! Sudah cukup! Kau tak boleh mati sebelum aku. Aku tak mau melihatmu mati sia-sia karena aku." Ucap Aqilla yang mencengkram kuat pergelangan tangan Bram.


Manik mata mereka bertemu, Bram tersenyum kecut mendengar ucapan Aqilla.


"Kau bukan lagi istriku, jangan harap aku akan mendengar kata-kata mu!" Ucap Bram yang kemudian melepaskan cengkraman tangan Aqilla dengan menghempas tangan Aqilla.


Tangan yang dihempas kasar oleh Bram tak menghentikan niat Aqilla untuk melarang Bram merusak tubuhnya dengan minum-minuman beralkohol, apalagi perjalanan menuju kota masih cukup jauh. Ini akan membahayakan keselamatannya jika ia mengemudi dalam keadaan mabuk. Aqilla memeluk tubuh Bram dengan erat.


"Tolong! Jangan menyakiti dirimu sendiri! Cukup aku yang menyakiti mu dengan keegoisan ku, Mas. Aku mohon bertahanlah, berusahalah kuat dan tidak rapuh seperti ini." Ucap Aqilla yang mencium lengan Bram dan menahan tangisnya.


"Maafkan aku, tolong bertahanlah. Karena aku mencintai mu." Balas Aqilla yang meraih tengkuk Bram.


Aqilla mencium bibir Bram di minimarket itu tanpa rasa malu. Untungnya tempat minuman dingin ada di bagian paling belakang minimarket, jadi Dito tak akan bisa melihat apa yang Aqilla lakukan pada Bram. Bram menjatuhkan keranjang kuning yang dipegangnya. Ia membalas ciuman Aqilla.


"Bertahanlah, aku tak akan pergi terlalu jauh darimu Mas." Ucap Aqilla ketika mereka telah menghentikan ciuman panas tak tahu malu mereka di muka umum.


"Dia menunggu ku, aku harus pergi." Ucap Aqilla yang mengambil sekaleng es kopi dan minuman isotonik untuknya. Sebelum benar-benar pergi Aqilla memcium bibir Bram sekilas.


"Hati-hati di jalan Mas." ucap Aqilla lagi yang melangkah pergi meninggalkan Bram yang berdiri mematung di depan lemari pendingin.


Baru beberapa langkah kaki Aqilla melangkah. Bram menarik lengan Aqilla hingga tubuh Aqilla jatuh ke dalam pelukkannya.

__ADS_1


"Kau tahu dimana tempat mu akan pulang nanti Qilla?" tanya Bram saat memeluk Aqilla.


Aqilla mengangguk tanda jika ia mengerti.


"Aku tak akan sanggup jika terlalu lama lagi kau menyiksa ku," ucap Bram lagi yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aqilla.


"Pergilah, jangan pernah tipu aku lagi, apalagi dengan kehamilan yang tak akan pernah terjadi antara kau dan dia. Kau mengganti alat kontrasepsi mu. Kau sungguh pintar." ucap Bram yang melepas pelukkannya dan mencengkram lengan Aqilla yang terpasang sebuah implan.


Aqilla tersenyum penuh arti dan meninggalkan Bram. Bram menatap punggung wanita yang sangat di cintainya pergi. Ia mengurungkan niatnya untuk mabuk-mabukan setelah perceraiannya dengan Aqilla. Ia hanya mengambil minuman soft drink.


Aqilla kembali menghampiri Dito yang ternyata mobilnya sedang mengisi bahan bakar. Ia sedang berdiri di dekat mobilnya, melihat petugas yang sedang mengisi bahan bakar mobilnya.


Dengan langkah penuh keceriaan untuk menutupi perasaaan yang sebenarnya, Aqilla yang ditatap Dito dari jauh tersenyum dan berlari memeluk pria yang selama ini menjadi superheronya.


"Lama ya nungguin aku? Maaf, aku kebanyakan mikir, soalnya banyak banget pilihan es kopinya." ucap Aqilla yang berbohong.


"It's ok. Selama apapun kamu pergi, asal kamu kembali tak akan jadi masalah."


"Ah... benarkah?" tanya Aqilla yang memeluk pinggang Dito dengan kepalanya yang menengadah menatap wajah Dito.


Bram yang baru keluar dari minimarket tersenyum getir melihat tingkah Aqilla bersama Bram. Tak dipungkiri rasa sakit hati dan cemburu saat ini hinggap pada dirinya. Ia berjalan cepat menuju mobilnya. Tak sanggup ia melihat wanita yang di cintainya bermesraan dengan pria lain.


Bram kembali melanjutkan perjalanannya, begitu pula dengan Dita dan Aqilla. Sampai di rumah sakit. Dito meminta Aqilla untuk tak menginap sementara waktu di rumah sakit menemani Tita. Ia menjelaskan bahwa ia sudah mengajukan gugatan cerai pada Cella dan ia tak ingin Tita meihat Cella ribut dengan Aqilla.


Dito juga meminta pada Aqilla untuk tak tinggal di apartemennya selama masa perceraiannya dengan Cella. Ia takut Cella akan menggagalkan perceraian ini dengan membawa bukti Dito yang berselinguh selama ini. Dito ingin menceraikan Cella tanpa membernya hak gono gini. Aqilla pun paham. Ia juga mengatakan akan tinggal bersama Angel untuk sementara waktu nantinya.

__ADS_1


__ADS_2