Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 27


__ADS_3

Sapaan dari sinar sang fajar membangunkan Aqilla yang kembali tidur dalam dekapan Dito. Tak lagi ia dengar gedoran pintu dari Cella, yang selalu mengusik waktu istirahatnya setelah bertukar peluh semalam suntuk bersama suami kakak tirinya itu.


Dipandanginya wajah tampan Dito yang tidur dengan tenang di sampingnya. Kagum. Ya Aqilla selalu mengagumi ketampanan Dito yang tak kalah tampan dari wajah Bram suaminya.


"Andai Mas Bram tak kembali di kehidupan ku, mungkin aku akan benar-benar merebutmu dari Cella, Mas." Ucap Aqilla yang di dengar jelas oleh Dito.


Sebenarnya Dito sejak selesai bermain dengan Aqilla tak dapat memejamkan matanya. Jika ditanya mengapa. Itu karena hatinya begitu risau. Ia tak ingin malam ini menjadi malam terakhir kebersamaannya bersama wanita yang begitu ia cintai. Namun disatu sisi ia tak bisa fokus pada perasaannya karena ada seorang anak yang tengah membutuhkan perhatian ekstra dari dirinya.


"Ternyata benar dugaan ku, kau masih bimbang Qilla. Aku akan menunggu dengan setia kapan hati mu ini menentukan arah yang ingin kau tuju. Jika pahitnya nanti kau akan meninggalkan ku, aku akan berusaha mengikhlaskan ku, meski hati ku terluka karenanya." Gumam Dito di dalam hatinya.


"Mas," panggil Aqilla yang ingin membangunkan Bram.


"Mmmmm" jawab Dito seolah-olah dia baru saja terbangun.


"Bangun Mas, koper dan tas ku masih ada di luar sejak semalam." Ucap Aqilla yang beranjak bangun namun tubuhnya tertahan oleh tangan dannjuga kaki Dito yang mendekapnya.


"Sudah ku bawa masuk ke dalam unit mu saat kau tertidur tadi." Jawab Dito yang masih memejamkan mata.


"Kalau begitu, ayo bangun! Bukankah kau harus ke rumah sakit menjaga Tita?"

__ADS_1


"Jam berapa sekarang?" Tanya Dito yang masih enggan membuka matanya.


"Jam tujuh pagi." Jawab Aqilla.yamg melihat jam besar yang menempel di dinding kamar Dito yang bernuansa putih itu.


"Terlalu pagi, jika aku ke sana jam segini Qilla. Aku malas bertemu dengan Cella. Dia pasti baru datang untuk menjaga Tita sampai jam makan siang nanti." Balas Dito yang membuat Aqilla merengutkan dahinya.


"Menjaga hanya dari jam tujuh sampai jam makan siang? Apa dia tidak bermalam bersama Tita di rumah sakit?" Tanya Aqila yang keheranan dengan sikap yang di ambil Cella.


Seharusnya sebagai seorang ibu, dia akan terus berada di samping anaknya yang sedang sakit parah seperti yang di alami Tita.


"Dia mana mau, mungkin jika Tita di lagirkan dari rahim mu, dia akan mendapatkan kasih sayang seperti anak-anak lainnya." Jam Dito yang akhirnya membuka matanya.


Aqilla menatap mata merah yang begitu nampak terlihat dari bola mata Dito.


"Aku sudah terbiasa kurang tidur setelah kau pergi." Jawab Dito yang kemudian beranjak dari tempat tidurnya.


Tanpa menggunakan sehelai benang pun, Dito berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin memuntahkan cairan kental miliknya dengan bermain solo di kamar mandi seperti rutinitasnya setiap pagi setelah Aqilla pergi ke New York saat itu. Ia pernah mencoba mencari wanita penghibur untuk menuntaskan hasratnya namun juniornya tak mampu bangun dan berdiri. Seakan miliknya sudah di kutuk Aqilla untuk tak menjelajah kemana-mana.


"Mas apa yang kau lakukan?" Tanya Aqilla yang melihat Dito sedang bermain solo.

__ADS_1


Dito tak menjawab namun hanya memandangi tubuh Aqilla yang tertutup selimut hanya sebatas dada, sedangkan bahu dan leher jenjangnya begitu terekspos, hingga membuat Dito sulit menelan salivanya.


Aqilla yang merasa kasihan dengan Dito segera melapaskan selimut yang ia pegangi, ia biarkan selimut iti jatuh dan mengekspos seluruh lekuk bagian tubuhnya. Aqilla berjalan menghampiri Dito dan tangannya menyingkirkan tangan Dito dari juniornya.


"Biar aku saja," jawab Aqilla yang berdiri memeluk tubuh Dito dari samping dan tangannya terus beraksi di bawah sana.


"Apa kau sering seperti ini Mas?" Tanya Aqilla yang menatap wajah Dito yang tengah menikmati pijatan tangannya di junior miliknya.


"Aku sering melakukan ini sejaknkaunpergi meninggalkan ku Qilla, aku sudah berusaha mencari wanita lain untuk memuaskan hasrat ku tapi milik ku tak bisa tegak berdiri, begitu pula saat aku ingin bermain dengan Cella. Bahkan Cella sudah mengira jika diriku sudah impoten. Padahal hanya membayangkan permainan yang pernah kita lakukan saja, milikku sudah tega berdiri." Terang Dito panjang lebar.


"Benarkah?" Tanya Aqilla seakan tak percaya dengan penuturan Dito.


"Jika kau tak percaya, carilah wanita untukku, aku akan membuktikannya pada mu." Jawab Dito yang membuat Aqilla meremas kencang junior Dito.


"Aaghhhh sakit.... " rintih Dito yang merasa kesakitan.


"Jangan coba-coba menyentuh wanita lain selain aku Mas! Aku tak rela kau bermain bersama wanita lain selain diriku." Ucap Aqilla yang menerbangkan hati Dito ke angkasa.


"Ternyata kau mencintaiku, tapi kau tak bisa menyadarinya Qilla." Gumam Dito dalam hatinya.

__ADS_1


Dito tersenyum lebar dan kemudian memberikan kecupan manis pada pucuk kepala Aqilla.


"Semalam aku sudah memuaskan mu. Bisakah pagi ini kau memuaskan ku." Pinta Dito pada Aqilla yang fokus menatap junior miliknya.


__ADS_2