Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 34


__ADS_3

Tepat pukul 19:00, Aqilla telah selesai dengan pasien-pasiennya. Ia berjalan penuh semangat ke paviliun Tita.


"Selamat malam Tita," sapa Aqilla yang baru datang keruang rawat Tita.


Ia melihat Tita baru saja memakan makan sorenya. Aqilla merengutkan alisnya. Mengapa putri dari pria yang selalu menjadi superhero dalam hidupnya baru sempat memakan makanannya.


"Kok baru di makan?" Tanya Aqilla yang berjalan menghampiri Tita.


"Tadi mau makan di suapin Papi, tapi ditunggu-tunggu Papi gak datang," jawab Tita dengan wajah sedihnya.


"Aduh kasian anak Papi, mungkin Papi lagi sibuk hari ini sayang, jadi datangnya telat deh. Sekarang kan ada Tante Qilla, Tita mau di suapin gak sama Tante Qilla?" Tawar Aqilla pada Tita.


"Mau disuapin Tante, tapi boleh beli makanan di luar gak, yang ini sudah dingin Tante?" Balas Tita dengan permintaannya, masih dengan wajah sedihnya.


"Tentu sayang, Tante akan pesan makanan yang baru untuk kamu, kamu mau makan apa sayang?" Tanya Aqilla pada Tita yang malah melendotkan tubuhnya ke tubuh Aqilla.


"Chicken katsu Tante," jawab Tita dengan wajah berbinar.


"Ok. Tante pesan dulu ya. Sambil nunggu pesanan Tita datang, Tante mau bersih-bersih dulu, tubuh Tante sudah lengket?" Ucap Aqilla yang menunjukkan sebuah tas yang berisi dua setelan baju ganti untuknya pada Tita.


Tita tersenyum senang, melihat Aqilla sudah membawa baju ganti untuknya. Itu artinya Tante yang selama ini ia anggap sebagai ibunya akan menemaninya tidur di rumah sakit malam ini.


Tiga puluh menit berlalu, Tita dan Aqilla sudah menyantap pesanan makanan hingga habis. Dengan telaten Aqilla memberikan Tita obat yang harus di minum di malam hari.


Kini hanya ada Tita dan Aqilla di ruang rawat Tita. Bi Lastri sudah kembali ke rumah Dito untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia menginap di rumah sakit selama Tita di rawat disana. Aqilla meminta Bi Lastri pulang ke rumah untuk beristirahat dan boleh kembali di esok hari ketika ia harus bekerja.


Malam ini Tita meminta Aqilla membacakan dongeng untuk menemaninya pergi tidur. Aqilla pun dengan senang hati membacakan dongeng si kancil yang ia cari di ponselnya. Bukannya tertidur Tita malah asyik tertawa mendengarkan dongeng jenaka itu.

__ADS_1


"Tidur dong sayang, sudah malam nih," pinta Aqilla pada Tita.


"Tita takut, kalau Tita tidur Tante akan pergi ninggalin Tita sendirian." Ucap Tita yang menatap wajah Aqilla dengan tatapan sendunya.


"Tidak akan, Tita tidak akan Tante tinggal sendirian. Tante akan tidur di ranjang itu jika Tita sudah pergi tidur nanti."


"Kenapa Tante gak tidur sama Tita saja di sini, Tante?"


"Ranjang ini tak cukup untuk kita berdua, Tante takut Tita gak leluasa bergerak dan badannya jadi pegel-pegal karena berbagi ranjang dengan Tante, sayang."


"Ok Tante, tapi jangan tinggalkan Tita sampai Tita sembuh dan pulang kerumah ya?" Pinta Tita yang malah mengeratkan pelukkannya pada tubuh Aqilla yang selalu memberinya rasa nyaman.


"Iya sayang, Tante gak akan tinggalkan Tita sampai Tita sembuh dan pulang ke rumah." Jawab Aqilla yang kembali membuat Tita tersenyum.


Aqilla kembali membacakan dongeng pengantar tidur untuk Tita, hingga ia terlelap. Rasa kantuk karena lelah pun kini hinggap pada dirinya yang sudah seharian bekerja.


Ia ingin pindah dari ranjang tidur Tita. Namun matanya sudah terlanjur ingin terpejam. Ia putuskan untuk tetap berbaring di atas ranjang rumah sakit bersama Tita. Ia peluk tubuh Tita yang juga tengah memeluk erat tubuhnya.


Rasa lelah dan capenya seketika terobati mendapati pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Awalnya ia hanya ingin menengok putrinya lalu kembali pulang ke apartemen, namun ia urungkan untuk kembali ke apartemen karena melihat wanita yang di cintainya berada bersama putrinya.


Di dekatinya ranjang tidur putrinya. Ia kecup pipi Tita yang terlihat begitu tirus.


"Selamat tidur sayang, maafkan Papi yang datang terlalu malam hari ini. Malam ini Papi akan menginap bersama calon ibu sambung mu untuk menemanimu." Ucap Dito di telinga Tita yang sudah tertidur pulas.


Di belainya rambut panjang putrinya yang selalu rontok jika disentuh. Dito pandangi telapak tangannya yang berisi rambut putrinya itu dalam suasana kamar yang temaram. Ia sedih melihat rambut indah putrinya yang terus rontok seperti ini.


"Kalau seperti ini terus kamu akan botak Nak," gumam Dito yang begitu lirih.

__ADS_1


Digenggamnya tangan putri kecilnya dengan erat, ia hujani punggung tangan putri semata wayangnya dengan ciuman.


"Cepatlah sembuh sayang, Papi merindukan kecerian mu, kenapa harus kamu yang menderita penyakit ini? Kenapa bukan Papi saja, sayang?" pungkas Dito yang tak kuat menahan air matanya.


Ia menangis dalam gelap, hingga tak diketahui oleh siapapun. Sosok pria gagah yang terlihat kuat dan tegar kini mengeluarkan sisi rapuhnya ketika melihat putri semata wayang sakit keras. Putri yang hanya berjuang bersamanya untuk mendapatkan kesembuhan, sedang ibunya malah asyik dengan dunianya sendiri.


Setelah lelah menangis Dito pun memejamkan matanya. Ia masuk kedalam alam mimpinya dalam keadaan duduk di kursi dan menggengam tangan putrinya.


Tepat pukul satu dini hari, Aqilla terbangun karena kehausan. Tenggorokannya kering karena terlalu lama membacakan dongeng untuk Tita tadi. Ia pun turun perlahan dari ranjang tidurnya, agar Tita tak terbangun karenanya.


Dalam ke adaan gelap dan pencahayaan yang kurang, Aqilla mendekati meja untuk mengambil minum di dispenser yang tersedia di ruang rawat Tita. Beberapa teguk air mineral membuat tenggorokannya merasa segar.


Ia kembali merebahkan tubuhnya yang lelah, kali ini ia merebahkan tubuhnya di ranjang lain yang ada di ruangan itu, yang memang diperuntukkan untuk keluarga pasien yang sedang menunggu dan menemani pasien dirawat.


Aqilla belum menyadari jika di dalam ruang rawat Tita sudah ada Dito yang terbangun dari tidurnya karena suara air dispenser.


"Aghhh..." lenguh Aqilla ketika ia merasa ada sebuah tangan yang masuk ke dalam bajunya.


"Mas..." panggil Aqilla yang mengetahui Dito-lah yang melakukannya. Ia hapal betul dengan parfum yang di gunakan pria itu.


"Qilla, kepala ku penat sekali, hari ini aku lelah banyak pekerjaan yang harus ku urus, hingga aku melewatkan jam makan malam Tita yang harusnya bersama ku." Ucap Dito yang mengeluh seperti kebiasaannya dulu.


"Lantas kau mau apa Mas? Tita sudah makan malam bersama ku tadi, dia makan sampai nambah dua kali. Untung aku pesan lebih coba kalau tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi tadi kalau aku tak punya stok lebih, pasti dia akan bersedih."


"Aku mau kamu boleh kah hum?" Jawab Dito yang malah meremas bukit kembar yang terlihat makin menyembul.


"Bukankah kau bilang kau lelah tadi Mas, istirahatlah, kita bisa lakukan besok?" Tolak Aqilla yang malah membuat Dito mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


Kini posisi Aqilla berada di atas tubuh Dito. "Permainan kita akan buat Tita bangun Mas," ucap Aqilla dengan suara yang berbisik.


"Tidak akan, asal kau menahan suara jeritan kenikmatan mu. Ayo cepatlah Qilla hanya kau penawar rasa lelah ku." Pinta Dito dengan memohon.


__ADS_2