Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 38


__ADS_3

"Membicarakan tentang apa Tuan? Jika mengenai kesehatan Tuan Yohannes, kita bisa bicara jam dua siang nanti." Jawab Aqilla yang seakan tak mengenali lawan bicaranya yang merupakan suaminya sendiri.


"Aku ingin bicara tentang kita. Hubungan kau dan aku." Jawab Bram yang membuat seluruh mata orang di ruangan ini membulat sempurna.


Dokter Miranda dan tim medis lainnya yang masih ada di sana melirik wajah Aqilla dan Bram secara bergantian.


"Dokter Aqilla punya hubungan dengan Tuan Bram? Bukankah Tuan Bram sudah memiliki istri, Nyonya Calista?" Gumam Dokter Miranda di dalam hatinya.


Seluruh tenaga medis yang mengenali Tuan Yohannes dan Bram menjadi bertanya-tanya dengan hubungan apa yang terjalin diantara Aqilla dan Bram.


Mendapatkan tatapan aneh dari rekan kerjanya. Aqilla menatap tak suka dengan sikap yang diambil Bram saat ini. Tangan Aqilla mengepal sempurna, hingga buku-buku jarinya terlihat putih memucat. Ia berusaha menetralkan rasa amarah dan kesalnya dengan berdiam diri. Namun Bram yang melihat Aqilla terdiam malah melanjutkan ucapannya.


"Setelah sekian lama menghilang dan sekarang takdir Tuhan mempertemukan mu dengan mertua mu dengan cara seperti ini, tak baik rasanya aku sebagai suami mu, membiarkan mu menjadi orang asing diantara kedua orang tua ku." Ucap Bram yang sengaja terang-terangan mengakui dirinya adalah suami Aqilla.


"Suami?" Cicit seluruh tenaga medis yang ada di sana.


Tak ingin masalah pribadinya menjadi konsumsi publik, Aqilla akhirnya angkat bicara.


"Maaf, sepertinya bicara Anda mulai melantur Tuan. Saya tidak mengenali Anda. Saya kira Anda sudah salah orang. Saya masih banyak pasien. Sayo mohon undur diri." Balas Aqilla yang pura-pura tak mengenali Bram. Ia terkensa menghindar lalu pergi, di ikuti dengan rombongan tim medis lainnya.


Bram tersenyum getir dan menitikan air mata, ketika sang istri di depan orang banyak mengaku tak mengenalinya dan memilih untuk pergi menghindarinya.


Kedua orang tua Bram merasa tersentuh hatinya ketika melihat wajah putranya yang tersenyum getir karena kecewa ditinggalkan wanita yang dicintainya.


Sakit. Tentu saja hati Bram merasakan sakit teramat sangat kali ini. Tak pernah sekali pun Bram tak mengakui Aqilla sebagai istrinya. Tak pernah sekali pun ia melupakan Aqilla di dalam hidupnya. Mengapa istri yang dicintainya begitu tega melakukan hal ini padanya. Apa mungkin karena caranya mengobati kehampaan hidupnya tanpa Aqilla dengan cara yang salah? Cara yang Aqilla tak sukai, dengan cara Bram yang menghabiskan waktu malamnya yang menyiksa dengan wanita penghibur.


"Bram," cicit Nyonya Wina yang menghampiri putranya yang tengah menangis di balik dinding kamar.


Ia mengusap punggung sang putra yang terguncang karena tangisnya. Bram membenturkan kepalanya di dinding kamar rawat sang Daddy saking frustrasinya menghadapi Aqilla yang kembali untuk pergi meninggalkannya.


"Dia kembali untuk pergi dari hidupku Mom, dia minta aku menceraikannya, aku mencintainya Mom, sangat mencintainya." Ucap Bram di sela tangisnya.

__ADS_1


"Bram, maafkan kami." Ucap Wina yang ikut menangis. Ia bisa memahami perasaan putranya yang sedih saat ini.


Nyonya Wina melirik Tuan Yohannes yang juga tengah melihat kepedihan hati Bram, namun saat Nyonya Wina meliriknya, Tuan Bram malah memalingkan wajahnya.


Dihati kecil Tuan Yohannes mulai menyesali apa yang telah ia perbuat hingga membuat putranya yang terkenal kuat dan tangguh seperti dirinya, kini terlihat begitu rapuh.


Aqilla yang melanjutkan pekerjaannya terlihat bersikap tenang, seperti tidak terjadi apa-apa. Dokter Miranda yang awalnya curiga dengan hubungan Aqilla dan Bram, kini malah tak lagi menganggap pernyataan Bram yang mencengangkan dirinya. Itu karena sikap biasa yang di tampilan Aqilla padanya.


Tak terasa jam makan siang tiba, Aqilla yang mendapatkan telepon dari Bi Lastri, jika Tita ingin makan siang dengannya segera datang keruang rawat putri Bayu itu.


Ruang rawat Tita yang bersebrangan dengan ruang rawat Tuan Yohannes. Membuat Bram bisa melihat jelas Aqilla kembali ke ruang rawat putri Dito itu.


"Di sini Qilla, harusnya kamu berada di sini bukan di sana. Keluarga mu di sini sayang bukan di sana." Cicit Bram yang memperhatikan langkah Aqilla masuk keruang rawat VVIP untuk anak.


Tatapan nanar terpancar jelas di wajah tampan Bram saat ini.


"Berjalanlah kembali pada ku Qilla, berjalanlah padaku. Aku memang bukan superhero mu, aku tidak bersama mu dikala kamu mengarungi jalanan gelap karena rasa cinta mu padaku. Tapi percayalah aku pun sedang melawan arus hidup yang membawa ku pergi jauh dari hidup mu." Gumam Bram yang terus menatap pintu kamar rawat Tita.


Selesai menemani Tita makan siang, Aqilla kembali keruang kerjanya. Ternyata sudah ada Bram yang duduk di sebuah kursi yang ada di depan meja kerjanya.


"Selamat siang Tuan, bukankah janji bertemu kita jam dua siang nanti?" Jawab Aqilla yang berjalan mendekati meja kerjanya.


"Jam dua memang kita janji bertemu untuk bicarakan tentang Daddy dan sekarang aku bertemu dengan mu untuk bicarakan tentang kita." Balas Bram yang duduk dengan tenang meski hatinya gundah.


Hati pria bertubuh kekar ini terlihat begitu rapuh di hadapan istri keduanya yang sangat dicintainya.


"Apa kedatangan Anda ke sini untuk menalak saya? Sesuai dengan pemintaan saya. Jika ia cepat katakanlah, tapi jika tidak silahkan keluar, Anda bisa menemui saya kembali jam dua siang nanti." Ucap Aqilla dengan wajah tenang dan datarnya.


Sikapnya jauh lebih dingin dari sebelumnya. Bram tertawa getir mendengar ucapan Aqilla. Tawa getir Bram, sedikit mencubit hati Aqilla.


"Aku tak akan menceraikan mu. Sampai kapan pun kamu adalah istriku Qilla." Ucap Bram dengan mata yang berkaca-kaca menatap Aqilla.

__ADS_1


"Silahkan Anda keluar dari ruang kerja saja Tuan, saya tidak ada waktu untuk membicarakan masalah pribadi di saat jam kerja." Sahut Aqilla yang malah mengusir Bram dengan menatap datar wajah sedih Bram.


Ia menunjuk pintu keluar dengan tangannya yang menjulur ke depan. Namun tangannya yang menjulur nalah di genggam erat oleh Bram.


"Apa posisiku sudah tergantikan olehnya Qilla? Kau pergi terlalu jauh, hingga tak dapat ku gapai dan kembali hanya ingin pergi lagi dari hidup ku. Tanpa sedikitpun kau perdulikan bagaimana perasaan ku selama ini." Tutur Bram yang terus menatap wajah datar Aqilla.


"Anda baik-baik saja selama ini Tuan, saya tahu segala hal apapun yang Anda lakukan selama saya tidak ada di negri ini. Saya kira ini sudah cukup, tak perlu saya perdulikan hati seseorang yang tak perduli dengan perasaan saya. Saya berhak bahagia dan menentukan kebahagiaan saya." Jawab Aqilla yang menarik kuat tangannya dari genggaman tangan Bram.


"Kau tak mau ku sentuh, tapi membiarkannya menyentuh mu." Ucap Bram yang mengutarakan apa yang ia lihat pagi tadi.


Aqilla tersenyum sinis mendengar ucapan Bram.


"Semula saya mengira, saya adalah manusia kotor yang tak pantas untuk Anda. Tapi ternyata saya salah. Anda dan keluarga Andalah contoh manusia kotor yang tak memiliki hati, yang tak pantas untuk menjadi bagian hidup saya."


"QILLA!!" Pekik Bram yang tersinggung dengan kata-kata Aqilla.


"Kenapa? Apa Anda mau marah dengan saya? Anda tak punya hak untuk marah pada saya. Sayalah yang harusnya marah pada Anda dan keluarga Anda. Salah apa saya pada keluarga Anda? Apa rasa cinta ini begitu hina dan salah di mata orang tua Anda, hingga mereka begitu tega menghancurkan hidup saya yang hanya sebatang kara. Dimana kedua orang tua saya tak ada yang perduli dengan manusia kerdil ini." Balas Aqilla dengan suara yang meninggi, hingga terdengar hingga keluar ruang kerjanya.


"Qilla?"


"Saya sudah tahu semuanya, Anda tidak perlu menutupinya. Katakanlah pada mereka tak perlu mengusir saya lagi dari hidup Anda, karena saya sendiri yang akan memilih pergi dari hidup Anda." Ucap Qilla lagi dengan nada bicara yang lebih rendah dari sebelumnya.


"Tidak Qilla... jangan seperti ini! Aku mencintai mu."


"Ketahuilah, saya tak hanya membutuhkan cinta tapi saya membutuhkan pria sebagai pelindung hidup saya. Saya butuh dilindungi. Saya bosan merasa sendiri dan berjuang sendiri dalam hidup ini. Saya butuh sandaran yang tetap bertahan meski saya di terpa gulungan ombak. Pergilah! Sudah tak ada lagi yang perlu Anda dan saya bicarakan lagi." Ucap Aqilla lagi yang begitu menohok hati Bram.


Bram sadar betul, jika pernah menawarkan sandaran untuk Aqilla namun ia malah tak bisa menjadi sandaran Aqilla karena tercekal oleh sang Daddy.


"Qilla..." cicit Bram yang berkali-kali hanya bisa memanggil nama Aqilla saat wanita yang menjadi istri keduanya menangis mengeluarkan isi hatinya.


Dito yang berada di balik pintu ruang kerja Aqilla hanya diam mendengarkan sepasang suami istri yang hubungannya sudah berada di ujung tanduk.

__ADS_1


"Pergi! Saya bilang pergi dari hadapan saya!" Pekik Aqilla yang kembali mengusir Bram dari ruang kerjanya.


Bram yang tak tega melihat tangis Aqilla, ingin sekali memeluk tubuh wanita yang dicintainya itu, namun sikap Aqilla seakan membangun benteng yang tinggi diantara mereka berdua. Membuatnya memilih untuk pergi dari hadapan Aqilla yang tengah menangis.


__ADS_2