
Bram terus memeluk Aqilla hingga suara isak tangis Aqilla tak terdengar lagi. Ia meninggalkan Aqilla yang telah tertidur dan menyelimuti tubuhnya. Bram berjalan dengan rumah yang selalu dibiarkan gelap gulita saat malam oleh Sandra.
Seolah kaki Bram telah hapal dengan sudut ruang rumah mewah Sandra. Ia berjalan menghampiri Sandra yang tak pernah tidur dikamar tidurnya. Ia tetap berada diposisi duduknya semula. Diruang tamu, menunggu Tuhan mengembalikan sang Mommy yang pergi menghilang entah kemana.
"Apa kau sudah tidur?" Tanya Bram yang tak dapat melihat wajah Sandra.
"Belum." Jawab Sandra dengan suara seraknya.
"Apa semuanya sudah siap ketika Aqilla nantinya akan mengakhiri semuanya?" Tanya Bram yang mendudukan dirinya kembali di sebuah sofa.Ia menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan kepala yang mendongak ke atas.
"Semuanya sudah siap sebelum Aqilla kembali Bram." Jawab Sandra.
"Kenapa mencintainya begitu menyakitkan seperti ini San?" Tanya Bram yang mencurahkan isi hatinya pada sepupunya itu.
"Dia tak akan menyakitimu jika saja orang tua mu tak bersikap egois dan tega menghancurkan kehidupannya hanya untuk menjauhkan dirinya dari mu." Jawab Sandra yang memang benar adanya.
"Apa setelah hari ini aku akan kuat di hantam badai dan gulungan ombak, San?" Tanya Bram lagi yang kembali menitikan air mata.
Ia sudah membayangkan hal yang terburuk terjadi pada dirinya setelah hari ini. Perpisahannya dengan Aqilla seakan memulai babak baru dari kehancuran orang-orang yang telah menyakiti dan menghancurkan hidup seorang wanita malang seperti Aqilla. Yang terabaikan dan terbuang oleh keegoisan orang tuanya dan terenggut kehormatannya demi keegoisan orang-orang yang ingin menyingkirkan dirinya dari Bram, pria yang amat sangat ia cinta. Pria yang ia impikan akan memberikan secercah kebahagiaan dimasa depan.
"Kau laki-laki Bram, beruasahalah untuk tidak rapuh dan lemah. Jika kau melangkah mundur, kau tahu semua ini akan karam." Jawab Sandra yang menjadi akhir perbincangan mereka malam itu.
__ADS_1
Pagi hari datang, sang Fajar telah menyambut dengan cahaya mentari yang begitu cerah. Aqilla terbangun dan mencari Bram yang semalam menemaninya tidur, ia berlari mencari Bram tapi tak kunjung ia temui, begitu pula dengan Sandra yang sudah pergi entah kemana. Ia ditinggal seorang diri.
"Kemana mereka Bi?" Tanya Aqilla pada Bi Ipah.
"Sudah pergi pagi-pagi sekali Non," jawab Bi Ipah singkat.
Bi Ipah menyiapkan sarapan untuk Aqilla santap pagi ini.
"Apa Mas Bram dan Sandra sudah makan Bi?" Tanya Aqilla lagi pada Bi Ipah.
"Mereka tidak pernah sarapan ataupun makan di rumah ini setelah Non Aqilla menghilang beberapa tahun yang lalu." Jawab Bi Ipah sembari menuangkan susu jahe kesukaan Aqilla.
"Mereka berdua terpukul saat tahu Non menghilang karena di perkosa, mereka terus cari Non kemana-mana. Den Bram sampai dua kali memcoba melakukan percobaan bunuh diri. Tapi Tuhan sepertinya belum mau Den Bram pergi, setiap kali melakukan bunuh diri selalu saja bisa diselamatkan." Ucap Bi Ipah yang malah duduk di samping Aqilla.
"Den Bram sangat mencintai Non Qilla, maafkan Den Bram yang suka main perempuan, tidak semua perempuan yang bersama Den Bram ditiduri oleh Den Bram, Non. Hanya perempuan yang wajahnya mirip Non Qilla-lah yang ditiduri Den Bram. Yang lain hanya dibayaran dan dikasari." Ungkap Bi Ipah lagi.
Aqilla menyimak cerita Bi Ipah sembari memakan nasi goreng kunyit yang biasa Bi Ipah masak untuk mereka sarapan. Menu masakan yang sudah lama Aqilla rindukan.
"Dikasari maksudnya gimana Bi?" Tanya Aqilla.
"Digebukin Non, Den Bram pernah hampir di penjara karena salah satu wanita yang disewanya hampir tewas ia pukuli,"
__ADS_1
"Apa? Kenapa dia sekasar itu Bi? Sepertinya Mas Bram bukan orang yang kasar pada wanita." Aqilla terkenjut dengam penuturan Bi Ipah.
"Den Bram sudah berubah Non, dia sering di siksa Tuan Yohannes makanya dia jadi seperti itu. Den Bram kalau gak tinggal di hotel miliknya ya tinggal di sini, gak pernah dia pulang kerumah istrinya ataupun orang tuanya Non. Makanya Bibi tahu semuanya. Kalau pulang ke sini ya tidur di kamar tamu yang sering Non tempati." Jawab Bi Ipah yang kemudian pergi sembari mengusap air matanya yang menetes karena menceritakan tentang Bram.
Setelah menghabiskan sarapannya, Aqilla bergegas pergi meninggalkan kediaman Sandra. Ia melajukan kendaraannya menuju apartemennya. Saat ia baru melangkahkan kakinya di lobby. Ia mendengar jeritan dan tangisan dari seorang wanita yang ditarik oleh beberapa pria tinggi besar. Tak jauh dari sana ada Bram yang berdiri mematung melihat Nani dibawa kembali oleh anak buah Mucikarinya.
"Om, tolong jangan seperti ini Om! Aku mau sama Om terus, tolong jangan buang aku seperti ini Om, bisa saja aku sedang hamil anak Om, karena selama ini aku tidak meminum pil KB itu." Ucap Nani yang terus memohon pada Bram. Namun Bram hanya menanggapi permohonan Nani dengan tersenyum. Senyum yang sungguh tak enak dilihat.
"Kau tak akan pernah hamil anak ku, karena aku sudah memasang implan di lengan kiri mu, dan aku pun telah melakukan vasektomi, hanya wanita yang ku cintai yang akan mengandung anak ku nanti." Ucap Bram yang membuat Nani dan Aqilla terkejut.
Bram belum menyadari ada Aqilla di kerumunan orang yang tengah melihat keributan mereka. Nani yang terkejut dengan pernyataan Bram begitu nampak kecewa.
Nani yang kehilangan harapannya, hanya bisa pasrah dibawa kembali oleh anak buah Mucikarinya. Orang-orang yang berkerumun pun lama kelamaan membubarkan diri ketika Nani sudah pergi dibawa oleh kedua anak buah Mucikarinya. Tersisalah Aqilla yang tetap berdiri di sana. Ia menatap Bram yang juga masih berdiri di tempatnya.
"Baru semalam aku mengatakan tinggalkan dia, kamu langsung meninggalkannya, Mas." Gumam Aqilla di dalam hatinya.
"Tuhan seakan ingin membuka mata mu Qilla, aku tak menyangka kau melihat sendiri, aku menghempaskan apa yang ingin kau hempaskan dari diriku. Jika selama ini kau anggap aku diam, itu sangat salah Qilla, aku tak pernah tinggal diam. Sikap diam ku hanya untuk mengecohkan lawan-lawan ku. Aku ikut bermain dengan permainan yang kau mulai sayang, aku bermain di belakang layar. Biarkan dialah yang kau lihat sebagai superhero mu saat ini. Tapi tangan Tuhan akan menunjukkan pada mu siapakah superhero yang sebanarnya didalam hidup mu." Gumam Bram sembari berjalan melewati Aqilla begitu saja. Ia berjalan seakan tak mengenali Aqilla.
Merasa diacuhkan dengan sikap Bram yang seakan tak mengenalinya. Aqilla merasakan sesak di dadanya. Dia tertawa getir dan menitikan air mata.
"Bodoh, aku bisa mengacuhkan mu kemarin tapi aku diacuhkan oleh mu kenapa hatiku rasanya sakit sekali Mas," gumam Aqilla di dalam hatinya. Ia kembali menatap nanar jari manisnya yang sudah tak ada lagi cincin pernikahannya bersama dengan Bram.
__ADS_1