Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 25


__ADS_3

Sebenarnya tak ingin aku membawa mu kembali, itu sama saja akan membiarkan mu pergi dari sisi ku. Mungkin kamu akan melupakan segala ingatan tentang pahit, getirnya hidupmu yang kau lalui bersama ku, dan meraih bahagia hidup bersama dia yang menjadi pemilik sah akan dirimu. Jujur saja, setelah kamu kembali ke negara asal kita, aku akan memutuskan untuk membiarkanmu pergi dari hidup ku. Kau berhak bahagia meski tanpa diriku. Meskipun nanti hari-hari yang aku lalui kedepannya akan tak baik-baik saja. Dito.


Pesawat Jet pribadi milik Dito telah mendarat sempurna di bandara internasional ibu kota. Dito bersama Aqilla, Sandra dan Dwi menaiki sebuah mobil MPV tipe premium milik Dito. Mobil itu membawa mereka kesebuah aparteman di kawasan pusat kota.


Ya. Mobil itu membawa mereka ke gedung apartemen mewah milik Dito. Kemajuan bisnisnya membuat Dito memiliki gedung aparteman yang di impikan kalangan pebisnis muda seperti dirinya.


"Kalian tinggallah di apartemen milik ku ini. Aku telah menyiapkan dua unit eksklusif untuk kalian bertiga." Ucap Dito saat mereka berada di dalam lobby.


Dito mengambil kunci unit apartemen yang telah di siapkan oleh bagian manajemen penasaran. Mereka menitipkan kunci tersebut pada bagian resepsionis. Masing-masing diantara mereka diberikan kunci unit apartemen mereka.


Tania dan Dwi merasa senang mendapatkan unit apartemen eksklusif dari Dito secara cuma-cuma.


"Makasih Dit, kamu memang sepupu yang sangat baik," ucap Tania sambil memeluk suaminya, Dwi.


"Hahaha... bisa saja kau memuji ku baik Tania. Aku tak sebaik yang kau kira. Kau bisa anggap ini adalah kado pernikahan ku untuk kalian." Balas Dito yang tertawa geli dikatakan baik oleh sepupunya itu.

__ADS_1


Berbeda dengan Tania dan Dwi. Aqilla terlihat sedih melihat kunci apartemen yang ada di tangannya.


"Mas, apa ini tak terlalu berlebihan? Aku bisa tinggal di apartemen ku yang lama bukan?" Tanya Aqilla yang ingin mengembalikan kunci unit apartemen yang diberikan Dito padanya.


"Silahkan kembalilah ke apartemen itu yang sudah rata dengan tanah. Kau tahu Tuan Yohannes membeli semua unit yang ada di sana dan meratakan gedung tinggi itu dengan tanah. Dia ingin kau tak kembali lagi Qilla dan menghapus jejak kehidupan mu dari putranya." Jawab Dito yang membuat Aqilla terkejut.


Aqilla terdiam tanpa kata-kata. Otaknya lelah sudah untuk berpikir tentang kejahatan Tuan Yohannes yang tak ada hentinya memisahkan dirinya dengan Bram. Jika tak ada Dito, entah nasib buruk apa yang terjadi dengannya.


"Jika apartemen ku saja di ratakan seperti itu, bagaimana jika aku kembali ke rumah sakit tempat aku dulu bekerja, bukankan kata mu mereka sudah mendepakku?" Tanya Aqilla setelah cukup berapa lama dia terdiam.


Keempatnya naik ke dalam satu lift bersama. Unit apartemen mereka berada di lantai yang sama. Tepat di lantai tertinggi 47 lift khusus itu berhenti.


Ke empatnya berjalan bersama. Dito terlihat berjalan lebih dahulu diantara mereka bertiga. Sedang Aqilla memilih berada di paling belakang dari pasangan pengantin baru ini.


Melihat ke romantis dan ke harmonisan sepasang pengantin baru ini, Aqilla merasa tercubit hatinya.

__ADS_1


"Andai saja, aku dan Mas Bram dulu bisa seperti mereka. Mungkin saat ini kami sudah hidup bahagia berdua bahkan bisa bertiga atau berempat, jika Tuhan memberikan kami keturunan." Gumam Aqilla begitu lirih di dalam hatinya.


Dito yang menghentikan langkahnya dan memperhatikan Aqilla sudah dapat membaca, apa yang dipikirkan Aqilla saat ini di dalam isi kepalanya.


"Kau pasti sedang memikirkan nasib rumah tangga mu yang tak seindah mereka bukan? Bersabarlah jika masih ada setitik rasa untukku, aku akan memperjuangkan mu setelah Tita sembuh." Gumam Dito di dalam hatinya.


Setelah menunjukkan unit apartemen sepasang pengantin baru ini. Dito mengantarkan Aqilla ke unit apartemen miliknya. Unit apartemen yang berhadapan langsung dengan unit apartemen milik Aqilla.


"Unit apartemen ku ada di depan unit apartemen mu, jika kau membutuhkan aku, kau bisa datang langsung ke unit ku. Barang-barang mu dari apartemen mu yang dulu sudah tertata rapih di dalam apartemen ini sejak tiga tahun silam. Jadi kamu tak perlu memikirkan kemana barang-barang berharga mu yang dulu humm.." ucap Dito saat mereka berada di muka pintu unit apartemen mereka masing-masing.


Dito seolah enggan untuk mengantar masuk ke dalam unit apartemen Aqilla. Ia takut tergoda ingin kembali menjamah tubuh patner ranjangnya yang sudah lama tak ia sentuh.


"Aqilla, andai saja kau tahu, aku sangat merindukan lenguhan mu dibawah kungkungan ku." Gumam Dito di dalam hatinya.


"Mas Dito, aku merasa kau terus menghindariku, apa karena aku sudah menikah dengan Mas Bram? Jujur aku merindukan sentuhan mu." Gumam Aqilla yang seakan melupakan statusnya yang sudah menjadi istri kedua seorang Bram.

__ADS_1


__ADS_2