Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 40


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Tuan Yohannes akan melaksanakan operasi pemasangan ring jantung melalui pangkal pahanya. Prosedur pemasangan ring jantung atau Percutaneous Coronary Intervention (PCI) biasanya hanya akan memakan waktu satu sampai tiga jam.


Tuan Yohannes sudah berada di ruang operasi lebih dahulu daripada Aqilla. Nyonya Wina bersama anak dan menantunya duduk di ruang tunggu operasi yang berada di depan pintu ruangan tersebut. Aqilla yang baru datang dengan rambut yang basah serta tanda merah di leher jenjangnya sangat mencuri perhatian Bram.


Hati pria mana yang tak sakit melihat tanda kepemilikan di tubuh istri yang dicintainya. Bram mengepalkan kedua tangannya hingga terlihat putih memucat. Jika tidak mengingat sang Daddy yang berada diruang operasi. Ingin sekali Bram menghampiri dan menarik tubuh Aqilla dan menghukumnya di atas ranjang atas perbuatannya bersama Dito semalam, yang ia lihat sendiri dengan jelas Aqilla mengutarakan isi hati dan menyerahkan dirinya untuk dicumbu pria yang selalu menjadi saingannya itu.


Lain halnya dengan Bram yang sedang menahan rasa amarahnya. Untuk pertama kalinya Calista melihat madu sekaligus adik tirinya. Ia terperangah melihat dialah Dokter yang akan melakukan operasi pada mertuanya.


"Mom, Aqilla yang---" tanya Calista yang terpotong karena Nyonya Wina langsung menjawabnya.


"Jangan permasalahan masalah Aqilla saat ini Calista! Saat ini Daddy mu membutuhkan dia. Kau tak perlu khawatir. Madu mu itu sudah tak menganggap suami tercinta mu itu sebagai suaminya." Sambung Nyonya Wina yang mengingatkan Bram dengan prilaku dan penuturan Aqilla kala itu.


Bram kembali menunjukkan sisi rapuhnya tanpa memandang tempat lagi. Ia tertawa penuh kepedihan sambil menitikan air matanya. Calista melirik suami yang duduk di sampingnya dengan tatapan rasa bersalahnya. Tak pernah ia melihat suaminya serapuh ini.


"Puas kau menjadi penghalang cintaku pada Aqilla, Cals? Karena keegoisan hati mu, ada dua hati yang tersakiti. Sudah cukup lama kita seperti ini, apa kau belum menyerah?" Tanya Bram yang menatap nanar wajah Calista dengan air mata yang terjun bebas dari kelopak matanya.


"Bram! Tidakkah kau bisa melihat aku yang mencintamu, semua yang aku lakukan hanya untuk mempertahankan mu." Jawab Calista yang mencoba menghapus air mata Bram, namun di tepis oleh Bram.


"Jangan sentuh tubuhku dengan tangan kotormu, Cals! Kau benar-benar perempuan yang menjijikan." Ucap Bram yang bangkit dari tempat duduknya.


Ia pergi meninggalkan istri dan Mommynya di ruang tunggu operasi. Saat ia menenangkan dirinya didepan pintu ruang tunggu. Bram melihat jelas Dito sedang berjalan ke arah ruang operasi. Lagi-lagi kedua pria ini bertemu di muka pintu.

__ADS_1


Tanpa menganggap keberadaan Bram, Dito masuk ke dalam. Tak hanya satu pintu yang ia buka tapi pintu kedua yang harusnya tak dimasuki orang luar pun ia buka.


Dilihatnya dengan jelas dari kaca pintu yang berada di tengah pintu. Aqilla datang menghampiri Dito masih mengenakan baju yang sama. Ia memberikan ponsel Aqilla yang tertinggal di ruang rawat putrinya. Aqilla mencium mesra bibir Dito sebelum Dito benar-benar pergi meninggalkannya untuk bekerja.


"Hati-hati sayang, sampai jumpa nanti malam ya," ucap Aqilla yang melambaikan tangannya ketika Dito membuka pintu untuk pergi.


Lambaian tangan Aqilla terhenti ketika sepasang mata menatapnya dengan tatapan yang begitu sendu. Senyum bahagianya yang mengantar Dito pergi luntur begitu saja dari wajah cantiknya, ketika melihat Bram menitikan air mata tanpa rasa malu.


"Seharusnya aku yang kau perlakukan seperti itu. Karena aku ini suami mu Qilla. Dia bukan siapa-siapa mu." Batin Bram yang merasakan kepedihan seorang diri.


"Masuklah Qilla!" Perintah Dito tanpa suara.


Aqilla yang mengerti ucapan Dito tanpa suara itu segera kembali masuk keruang ganti baju. Ia seakan memgabaikan rasa kepedihan yang dirasakan suami yang tak ia anggap lagi fungsinya.


Saat Dito berpapasan lagi dengan Bram, kali ini Bram tak bisa menahan emosinya. Ia langsung meninju Dito membabi buta. Perkelahian tak dapat dihindari lagi. Banyak pengunjung rumah sakit yang berteriak meminta tolong karena perkelahian mereka. Dito tak sama sekali melakukan perlawanan, ia biarkan Bram memukulinya hingga sudut bibirny mengeluarkan banyak darah.


"Dasar pria brengsek. Kau sentuh dan perlakukan istri ku seakan kau adalah suaminya." Ucap Bram dengan geram ketika menghujani Dito dengan tinjuannya. Hatinya terlalu sakit melihat semua keromantisan mereka.


"Aku akan segera menggantikan posisi mu, lepaskan dia dan biarkan dia bahagia bersama ku. Kau laki-laki yang tak becus untuk melindunginya." Balas Dito yang membuat Bram menghentikan pukulannya diwajah Dito yang sudah berlumuran darah.


Dito mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan banyak darah. Untungnya darah tersebut tak mengenai pakaian kerjanya.

__ADS_1


Kata-kata Dito yang menyebutnya tak becus menyadarkan dirinya, bagaimana ia selama ini tak melakukan apapun untuk melindungi Aqilla dari kekejaman sang Daddy.


Saat Bram mulai terdiam, Dito bangkit dari posisinya yang di kungkung oleh tubuh kekar Bram. Ia menyingkirkan Bram hanya dengan sekali hentakan saja.


"Sebenarnya aku bisa saja melawan mu, memukuli mu sampai kau mati kalau perlu. Tapi aku tak ingin mengotori tangan ku dan juga membuat Aqilla menangis. Aku memang brengsek meniduri dan memiliki istri orang lain. Tapi perlu kau ketahui, kami saling mencintai." Ucap Dito lagi yang kemudian merapikan jas yang ia kenakan lalu pergi meninggalkan Bram yang masih terduduk di posisi yang sama.


"Bram bangunlah!" Pinta Calista yang terlihat malu.


Ia malu karena suaminya menjadi bahan tontonan orang banyak. Sedang Nyonya Wina hanya bisa tertunduk di kursi yang ia duduki sejak tadi. Hatinya tercubit dan baru menyadari kepedihan sang putra karena keegoisan dirinya dan sang suami.


Ia tak mau melangkahkan kakinya untuk melihat kondisi putranya yang masih tertegun di lantai. Beberapa pengawal mencoba membangunkan Bram namun Bram menolaknya. Ia tetap duduk di lantai dan menangis kembali. Meratapi hidupnya seperti orang yang tak waras di sana.


Tak sampai tiga jam, Aqilla keluar dari ruang operasi, ia sudah mengganti pakaiannya kembali. Ia keluar di sambut dengan pertanyaan yang di lontarkan Nyonya Wina saat menghampiri dirinya.


"Bagaimana kondisi Daddy Qilla? Apa dia baik-baik saja? Apa operasinya berjalan lancar?" Tanya Nyonya Wina yang membuat Aqilla tersenyum getir.


"Daddy? Apa yang Anda maksud Tuan Yohannes, Nyonya?" Jawab Aqilla yang malah pura-pura tak mengerti maksud perkataan Nyonya Wina.


"Iya Qilla, Tuan Yohannes adalah ayah mertuamu." Balas Nyonya Wina yang berharap dapat meluluhkan hati Aqilla.


"Maaf Nyonya, tolong jangan salah paham dengan apa yang saya lakukan pada suami Anda. Suami Anda adalah pasien rumah sakit ini. Saya bekerja di rumah sakit ini. Tidak ada maksud lain dari apa yang saya lakukan pada Tuan Yohannes, suami Anda. Selain menjalankan tugas saya sebagai Dokter. Operasi suami Anda berjalan dengan lancar, kondisinya dalam keadaan yang stabil, mungkin dua puluh menit ke depan dia akan di baw kembali ke ruang rawat." Jawab Aqilla dengan tegas.

__ADS_1


Kalimat jawaban yang diberikan Aqilla sangat menohok Nyonya Wina. Pedih, sakit itulah yang kini Nyonya Wina rasakan atas sikap dingin Aqilla. Sangarlah wajar jika sang anak meratapi kepedihannya karena kerasnya hati Aqilla yang sudah tak ingin bersama mereka yang menjadi sumber luka di hidupnya.


__ADS_2