
Tiga minggu sudah keluarga kecil Dito tinggal di motorhome. Mereka tinggal di sebuah tepi pantai yang tak jauh dari rumah Bram dan Aqilla. Rumah yang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka. Berawal dan berakhir di sana.
Entah apa maksud Dito membawa Aqilla dan Tita untuk camping di sana. Yang pasti Dito telah membuat hati Aqilla tak nyaman. Apa ini merupakan tindakan Dito yang menyakiti perasaan Aqilla secara halus. Sebagai balasan rasa kecewanya pada Aqilla yang masih mencintai Bram. Meskipun sudah banyak yang Dito lakukan untuk Aqilla.
Aqilla benar-benar tak bisa menebak apa mau Dito sebenarnya. Meskipun begitu, Aqilla tak sama sekali bertanya atau pun membahas mengapa mereka harus camping di sini. Beberapa kali Aqilla melihat Bram dari kejauhan, namun saat melihat Bram, ia kembali melihat Dito yang tampak tak perduli dengan keberadaan Bram.
"Apa kabar Nyonya Dito? Sepertinya kalian sedang ingin makan siang? Boleh saya bergabung Tuan Dito?" Sapa Bram saat mendatangi mereka yang baru saja ingin menyantap makan siangnya.
"Silahkan Tuan Bram, bergabunglah bersama kami, makanan yang dimasak istri saya cukup untuk dimakan empat orang." Sahut Dito yang mempersilahkan Bram untuk duduk.
Bram duduk di samping Tita yang tengah menyantap French fries buatan Aqilla.
"Hai cantik, kamu sudah lebih membaik ya sekarang?" Sapa Bram yang dijawab Tita hanya dengan senyuman.
Tita menjawab dengan seyuman bukan karena dia sonbong atau tidak bisa menerima Bram, namun itu karena ia diajarkan Aqilla untuk tidak bicara saat sedang makan.
"Senyum mu manis sekali seperti senyum Mami mu." Puji Bram pada Tita, namun matanya menatap wajah Aqilla.
Dito yang mendengar pujian Bram ikut tersenyum. Dito paham betul jika Bram tengah memuji istrinya, tidak benar-benar memuji putrinya.
"Ambilkan dia makan, dia tak akan makan jika tidak di layanin oleh Mih!" Perintah Dito pada Aqilla.
Aqilla dibuat kikuk seketika mendengar perintah suaminya untuk melayani makan mantan suaminya.
"Ah, a-apa Mas?" Tanya Aqilla yang tergagap.
__ADS_1
"Layani dia makan!" Jawab Dito lagi tanpa menatap wajah Aqilla.
Dengan keraguan dan rasa tak enak hati, Aqilla melayani Bram, ia mengambilkan makan untuk mantan suaminya itu.
"Sudah cukup! Jangan terlalu banyak!" Ucap Bram yang melihat Aqilla menyendokkan nasi dan lauk pauk untuknya.
Aqilla memberikan piring yang berisi lauk pauk kepada Bram di depan Dito. Jujur Dito sengaja menundukan kepalanya, menahan gejolak rasa cemburu di hatinya. Melihat Bram ada diantara mereka.
Selama tiga minggu bersama dengan hubungan yang sehat tanpa mengedepankan nafsu. Telah mampu membuat Dito menyadari, jika saat ini dia benar-benar mencintai dan menyayangi Aqilla.
Ada rasa ingin mengingkari janjinya terhadap Bram. Ingin kembali lagi ia bersikap egois namun ia lagi-lagi harus memikirkan bagaimana perasaan Aqilla yang sudah cukup tersiksa selama ini. Selesai makan siang bersama. Bram dan Dito duduk berdua di tepi pantai sembari menghisap rokok bersama.
"Kau sudah harus membawa putri mu kembali, dia harus segera dioperasi Dit," ucap Bram mengingatkan Dito.
"Membawanya kembali sama saja mendekatkan dia pada pintu kematian Bram." Sahut Dito dengan wajah gusarnya.
"Kenapa kau masih mau berbuat baik pada ku? Padahal aku telah banyak berbuat jahat pada mu Bram?" Jawab Dito yang malah bertanya hal lain pada Bram.
"Kita sama-sama manusia yang pernah melakukan kesalahan Dit. Aku tak pernah berbuat baik padamu, aku hanya membalas kebaikan mu selama ini pada Qilla." Ungkap Bram yang membuat Dito tersenyum getir.
"Jika kau ingin tahu kapan aku membawa mereka kembali. Jawabannya sore ini, aku akan membawa anak dan istriku kembali ke kota. Aku akan langsung membawa Tita ke rumah sakit. Setelah operasi putriku selesai. Berhasil ataupun tidak. Aku berjanji akan mengembalikan Aqilla pada mu." Tutur Dito yang bangun dari posisi duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Bram.
Sedih. Ya. Rasa sedih dan berat itulah yang saat ini Dito rasakan. Tak mudah merelakan dua orang yang di sayanginya secara bersamaan.
Melihat Dito pergi meninggalkannya. Bram hanya bisa melihat punggung Dito dengan sebuah senyuman getir. Ia bisa memahami perasaan pria rapuh yang ingin bunuh diri di club malam waktu itu.
__ADS_1
Ya. Dito dan Bram bertemu di Club malam yang ada di dalam hotel milik Bram. Dito datang lebih dahulu ke Club itu. Melihat kebahagiaan Angel dan Danu membuat nafasnya tercekal, apalagi dia hanya seorang diri memperjuangkan buah hatinya bersama Angel yang tengah sakit parah.
Ditambah lagi hari itu Aqilla memberikan beban pikiran padanya, dengan banyaknya pertanyaan yang di lontarkan Aqilla pada dirinya, sehingga membuat pikiran Dito begitu kalut. Ia tak lagi bisa berdiri pada tujuan hidupnya yang sudah ia rencanakan.
Saat Dito ingin menembak kepalanya dengan pistol, tiba-tiba saja Bram menghentikan aksinya. Bram membawa Dito ke kamar pribadinya. Mengajak Dito untuk bicara empat mata. Dengan tanpa malu Dito yang dalam pengaruh alkohol menceritakan kisah hidupnya pada Bram.
Bram merasa Dito dan dirinya sama-sama menderita karena keegoisan kedua orang tua mereka. Menjodohkan putra mereka dan memisahkan putra mereka dengan wanita yang dicintai oleh putra mereka, demi sebuah bisnis dan perusahaan.
Terkadang memang Harta, kekayaan dan kedudukan membuat orang menjadi silap mata. Yang ujungnya hanya akan menghancurkan kehidupan mereka cepat atau lambat.
"Kenapa kita harus kembali secepat ini Mas? Bukankah operasinya masih pekan depan?" Tanya Aqilla pada Dito yang mulai sibuk merapihkan barang-barang mereka.
"Sepertinya tinggal di sini bersama ku, membuat mu lupa akan prosedur sebelum melakukan operasi Qilla." Sahut Dito yang maah menghampiri Aqilla dan memeluk Aqilla yang berdiri mematung.
"Jangan pernah rindukan semua ini Qilla! Karena kita tak akan pernah mengulangnya kembali." Ucap Dito yang memeluk erat tubuh Aqilla.
"Mas..."
"Maafkan aku yang pernah terlalu egois pada mu Qilla. Tolong maafkan aku."
"Mas, kamu kenapa? Tidak perlu meminta maaf. Kami tidak pernah salah. Aku yang banyak salah pada mu, Tita dan juga Angel " tanya Aqilla yang mengurai pelukan Dito.
"Aku tidak apa-apa, semoga setelah ini hidup mu bisa bahagia Qilla. Aku berharap kamu akan hidup bahagia dengan semua impian mu." Jawab Dito dengan menitikan air mata.
"Jangan bohongi aku mas, kamu sedang tidak baik-baik saja. Katakan ada apa? Apa yang dia katakan hingga membuat mu seperti ini?" Tanya Qilla sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Dito.
__ADS_1
"Dia tak mengatakan apapun Qilla. Kamu beruntung dicintai pria seperti dia Qilla. Jika aku jadi dia. Mungkin aku tak akan kuat bertahan seperti dia. Aku akan memilih mengakhiri hidup ku." Jawab Dito yang setelah itu malah berlari keluar dari mobil dan berteriak sekencang-kencangnya di luar sana.
Bram yang belum lama meninggalkan mobil motorhome mereka, melihat bagaimana Dito melepaskan rasa frustasinya dengan berteriak di tepi pantai. Suara teriakannya berbaur dengan deburan ombak. Tak akan menggangu Tita yang tengah beristirahat dengan tenang di dalam mobil.