Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 60


__ADS_3

Di dalam ruang ganti pakaian. Tania, Angel dan Aqilla menangis sejadi-jadinya. Cukup lama mereka menangis sebelum menguatkan diri mereka masing-masing. Angel membawa pakaian ganti untuk Tita.


Jika biasanya pakaian pasien akan digantikan oleh para tim perawat, ini Angel sendiri yang selaku Dokter mengganti pakaian pada Tita.


"Simpan pakaian ini!" Perintah Angel pada perawat yang mendampingi dirinya.


Setelah menggantikan pakaian Tita, Angel kembali mencium Tita.


"Tita, berjanjilah untuk bangun saat ibu membangunkan mu nanti ya! Kamu akan di suntik bius oleh Ayah Danu dan akan tertidur sangat lelap untuk sementara waktu." Ucap Angel pada Tita.


"Iya bu," jawab Tita singkat dan kembali tersenyum memeluk tubuh Angel.


Brankar Tita pun di bawa kedalam ruang operasi. Kali ini Danulah yang mengangkat tubuh Tita. Ia memindahkan Tita ke atas meja kesakitan.


"Sudah siap cantik?" Tanya Danu pada Tita.


"Sudah Ayah," jawab Tita singkat.


"Ini akan sedikit sakit seperti digigit semut ya," ucap Danu yah memberi tahu Tita.


"Iya Ayah." Jawab Tita lagi.


"Selamat tidur putri Ayah," ucap Danu sebelum menyuntikan obat bius total pada tubuh Tita.


"Iya Ayah terimakasih." Jawab Tita lagi dan Tita pun terlelap.


"Silahkan Dokter Tania!" Ucap Dokter Danu mempersilahkan Tania untuk segera melakukan tugasnya.


Selama dua jam Tania melakukan tindakan operasi tumor otak yang diderita Tita. Namun dipertengahan jalan detak jantung Tita merosot. Aqilla memulai menjalankan tugasnya, namun Tuhan seakan berkata lain. Tita pergi selama-lamanya sebelum operasi selesai dilaksanakan.


Angel menjerit ketika suara bunyi monitor memecahkan keheningan ruang operasi. Danu yang tidak keluar dari ruangan operasi berusaha menenangkan istrinya. Sedang Aqilla berusaha menguatkan diri untuk melanjutkan proses penjahitan kepala Tita bersama Tania. Meski tangan keduanya bergetar hebat dan air mata tak henti-hentinya menetes dari keduanya.

__ADS_1


"Maafkan Mami sayang, berbahagialah di sana." Ucap Aqilla saat selesai menjahit kembali kepala Tita bersama Tania.


Ia peluk tubuh putri sambungnya yang selama ini ia temani dalam perjuangannya melawan penyakit berat ini. Tidak ada satu orangpun di ruangan ini yang tak menangis. Angel yang sudah melihat putrinya sudah selesai di tutup kembali kepalanya. Segera menghampiri dan menyingkirkan Aqilla dari tubuh Tita.


"Minggir Qilla, dia putri ku!" Ucap Angel yang menyingkirkan Aqilla dan Tania.


Ia memeluk tubuh Tita yang tak bernyawa lagi. Aqilla keluar dan berlari dari ruang operasi masih dengan pakaian scrub suitsnya. Dito yang melihat Aqilla keluar dengan berlari segera berdiri dari duduknya. Saat melihat Dito. Ia berlari memeluk Dito dan menangis di dalam pelukan suaminya.


"Maafkan kami, Tita telah pergi di tengah perjalanan." Ungkap Aqilla yang meruntuhkan hidup Dito.


Dito hampir saja terjatuh jika Aqilla tak memeluknya. Tanpa kata-kata Dito mengeluarkan pistol dari balik jasnya. Ia menembak kepalanya sendiri saat Aqilla masih memeluknya.


Dorr [Satu tembakan menembus kepala Dito].


Dito jatuh tersungkur bersama Aqilla. "Mas, Apa yang kau lakukan?" Tanya Aqilla pada tubuh Dito yang sudah tak bernyawa lagi.


Nyonya Sarah berteriak ketika melihat putranya bunuh diri dihadapannya. Dalam satu hari ia harus kehilangan dua orang sekaligus. Putranya dan juga cucunya.


"Kenapa cara mu mengembalikan dia padaku seperti ini Dit? Kau tetap memilih mati sia-sia tanpa mau berjuang mengarungi hidup mu kembali." Ucap Bram yang memilih pergi meninggalkan rumah sakit.


Ia melajukan mobilnya ke rumah dirinya dan Aqilla. Ia akan menanti Aqilla datang kembali ke rumah itu, entah sampai kapan ia akan dibuat menunggu oleh Aqilla di sana.


Prosesi pemakaman Dito dan Tita dilakukan dalam satu liang lahat, sesuai keinginan Dito dalam surat wasiatnya. Aqilla dan Angel tak henti-hentinya menangis. Apalagi tak ada lagi orang yang menguatkan diri Aqilla saat ini.


"Mas, kenapa harus memilih pergi dengan cara seperti ini. Maafkan aku Mas," ucap Aqilla yang tak henti-hentinya menangis di pusara suaminya seorang diri.


Aqilla pulang ke apartemen. Ia terkejut dengan tak ada lagi barang-barang miliknya di unit apartemen dirinya maupun di unit apartemen Dito.


Sebuah surat yang tergeletak di atas nakas. Mencuri perhatiannya, ia mengambilnya dan membaca surat itu. Ya. Surat yang di titipkan oleh Dito pada Tania, di letakkan Tania di unit apartemen Dito.


Aqilla istri ku,

__ADS_1


Terima kasih sudah menjadi istri yang baik selama satu bulan ini untuk diriku. Terima kasih karena selalu membuat aku dan Tita bahagia selama satu bulan ini.


Jujur, aku ingin sekali mengingkari janjiku pada pemilik hati mu yang telah menyelamatkan nyawaku, pada saat aku ingin mengakhiri hidup ku untuk pertama kalinya.


Dia pria yang sangat baik Qilla, banyak hal yang tak kau ketahui tentang dirinya. Banyak hal yang tak pernah kau tahu tentang perjuangannya mempertahankan cintanya terhadap dirimu.


Banyak hal yang tak pernah aku lakukan untuk memperjuangkan cinta ku pada Angel namun dilakukan Pria itu untuk mu. Jika kamu peka dengan apa yang aku rasakan. Tentunya kamu tahu jika batin ku tersiksa tak bisa memiliki Angel dan juga dirimu.


Angel sudah memiliki kehidupan baru yang bahagia, aku tak mau merusak kebahagiaannya demi keegoisan ku. Aku memilih pergi bersama Tita, putri ku satu-satunya dari wanita yang sangat aku cintai.


Aku juga mencintaimu Qilla, namun hati ku lebih mencintai Angel. Tolong maafkan segala kesalahan yang pernah aku buat pada mu. Maafkan aku yang tak bisa lagi melindungi dan menjaga mu. Aku harap dia akan menjaga dirimu selah aku pergi dari hidup mu, Qilla.


Jika kau tanya kemana barang-barang mu. Barang-barang mu sudah ku kembalikan pada pemilik hati mu. Apartemen ini sudah ku berikan pada Tania sepupuku. Kau bisa tetap menempatinya jika ia mengizinkannya.


Berbahagialah bersamanya Qilla. Dia saat ini pasti sedang menunggu mu, ditempat aku merebut mu dari dirinya. Selamat tinggal Qilla. Salam cinta dan sayang ku untuk mu. Dito.


Aqilla membaca surat itu dengan deraian air mata.


"Mas Dito." Cicit Aqilla yang menangis tersedu-sedu.


Cukup lama Aqilla menangis di dalam unit apartemen Dito. Ia memutuskan untuk meninggalkan apartemen Dito, ia memutuskan pulang ke rumah Sandra.


Seperti biasa, Aqilla datang dengan disambut kegelapan di seluruh ruangan. Rumah mewah ini nampak seperti sebuah Goa ketika malam hari.


Suara isak tangis dalam kegelapan menyapa kedatangan Aqilla kali ini.


"Sandra. Ada apa dengan mu?" Tanya Aqilla pada Sandra yang tengah menangis tersedu-sedu.


"Qilla," panggil Sandra yang berlari memeluk tubuh Aqilla.


"Kamu kenapa Sandra? Ada apa dengan mu? Kenapa kamu menangis seperti ini?" Tanya Aqilla saat Sandra menangis di pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2