Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 47


__ADS_3

Aqilla yang sudah mengambil barang-barangnya di ruang praktiknya. Segera melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Tita. Ia akan berpamitan pada anak Dito, jika untuk beberapa hari ia tak bisa menemaninya di rumah sakit.


"Maafkan tante sayang, Tante ada tugas keluar kota, jadi gak bisa nginep dulu. nanti kalau sudah selesai tugas Tante. Tante akan nginep lagi kok," ucap Aqilla pada putri Dito yang harus ia bohongi.


Tita menangis sedih, karena aqilla tak akan menemaninya lagi di malam hari. " Hai sayang, putri Papi kenapa menangis, jika tante Qilla tak menginap di sini. Papi akan tetap menginap di sini. Kita akan tunggu Tante Qilla kembali ke sini sama- sama ya," ucap Dito yang mencoba menenangkan tangis putrinya.


"Kau akan kembali menemani putriku setelah ini bukan lagi menjadi seorang Tante, tapi menjadi seorang ibu pengganti untuknya dan anak-anak kita nantinya." ucap Dito di dalam hatinya saat memeluk putrinya dan menatap wajah Aqilla yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Sayang, tante pergi dulu ya,karena tante harus siap-siap." pamit Aqilla yang merundukkan tubuhnya untuk memeluk tubuh ringkih Tita.


"Berjanjilah akan kembali tante." PintaTita dengan isak tangisnya.


"Tentu sayang. Tante akan segera kembali untuk mu." jawab aqilla yang mencium seluruh bagian wajah Tita.


Aqilla pun beranjak pergi meninggalkan ruang rawat Tita di temani oleh Dito,


"Sudah sampai sini saja, Tita butuh kamu sekarang!" cegah Aqilla pada Dito saat mereka sudah berada di ambang pintu.


"Aku pasti akan merindukan mu sayang," ucap Dito yang merangkuh pinggang ramping Aqilla.


"Kita berpisah untuk sementara waktu bukan untuk selama-lamanya Mas." balas Aqilla yang tersenyum manis pada Dito.


Dito mencium Aqilla dengan penuh hasrat yang menggebu seperti biasanya. Aqilla pun membalasnya. tanpa di sadari sepasang mata tengah mengamati mereka dari sebrang sana. Sepasang mata elang Bram yang terus menatap penyatuan bibir mereka.


"Nikmatilah selagi kau bisa menikmatinya, karena kau hanya memiliki tubuhnya tapi tidak dengan hatinya." gumam Bram di dalam hatinya.


"Teruslah sakiti aku, hingga aku terbiasa dengan rasa sakit yang terus kau torehkan dihati ku Qilla," gumam Bram lagi yang tersenyum getir saat ia merasakan nyeri di hatinya.

__ADS_1


Aqilla pergi meninggalkan rumah sakit. ia melajukan mobilnya, kesebuah perumahan elit di tengah kota. Pintu gerbang yang menjulang tinggi terbuka saat Aqilla membuka jendela kaca mobilnya. Ia turun dan masuk ke dalam rumah yang sudah bertahun-tahun tak ia kunjungi.


"Kau datang juga ke rumah ini Qilla." ucap seorang wanita yang duduk di sofa dalam keadaan ruangan yang gelap.


"Kemana lagi aku harus pergi, ketika hati ku sudah tak sanggup menahan luka hidup ku." jawab Aqilla yang ikut duduk di sofa dengan suasana ruangan yang sangat gelap.


"Kau yang memilih jalan hidup mu seperti ini, jadi kau yang harus menanggung sendiri semua kesedihan mu ini Qilla." ucap wanita itu yang tak lain adalah Sandra.


"Kau tak berada didalam posisiku San,"


"Aku memang tak berada di dalam posisi mu, tapi aku tak akan mempertahankan keegoisan ku yang akan menyakiti hatiku lebih dalam lagi. Apa kau sudah puas dengan perceraian mu ini Qilla?"


"Kau pikir aku bahagia berpisah dengan suami yang sangat aku cintai, melupakannya saja aku tak sanggup apalagi aku harus berpisah dengannya sepert ini."


"Tapi kau menginginkannya bukan?" tanya Sandra yang membuat Aqilla terdiam.


"Seharusnya dari awal mula kejadian itu, kau harusnya datang kerumah ini, bukan pergi menelan semuanya seorang diri Qilla. Tak mungkin kau akan merasakan sakit yang sesakit ini bukan." ucap Sandra yang menghentikan langkah Aqilla menuju kamar yang biasa ia tempati ketika menginap di kediaman sahabatnya.


"Kau kira menjadi korban pemerkosaan, masih bisa membuat mu berpikir jernih. Yang ada hanya merasa kotor dan terhina." balas Aqilla yang kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia membiarkan dirinya tidur dalam keadaan kamar yang gelap, tanpa menyalakan lampu ataupun menganti pakaiannya.


Ia meringkuk diatas ranjang, menangis tersedu-sedu meluapkan segala sesak di dada yang sejak tadi ingin ia tumpahkan.


Sementara itu di ruang tamu, Sandra yang duduk tak seorang diri. Hanya bisa menangis, ikut larut dalam kesedihan yang Aqilla rasakan.


"Kau dengar sendiri Bram, dia sedang bermain peran demi tujuannya. Dia masih milik mu, bertahanlah, aku rasa ini tak akan lama, jika kau masih mencintainya." ucap sandra saat Bram beranjak dari sofa yang ia duduki.


Bram melangkahkan kakinya menuju kamar Aqilla. Ia ikut berbaring di ranjang yang sama. Memeluk Aqilla yang tengah menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Maafkan aku, menangislah. Aku akan sabar menunggu mu menyelesaikan semuanya dan bersedia terluka tanpa akan membalasnya." ucap Bram yang memeluk tubuh Aqilla.


"Jangan pergi lagi! Jangan sentuh wanita lain lagi! Aku tak mau dan tak rela kau disentuh wanita lain. Kau hanya milikku." ucap Aqilla yang terkesan begitu egois.


"Iya aku akan meninggalkannya untuk mu. Beri aku waktu, dia masih terlalu muda untuk begitu saja aku campakkan," jawab Bram yang mempererat pelukannya.


"Tidurlah Qilla, aku tahu kau lelah. Aku akan menemani dan memeluk tubuh mu hingga pagi datang menjemput mu pergi dari pelukan ku." ucap Bram.


Aqilla memejamkan matanya dengan nafasnya yang masih sesenggukan karena isak tangisnya.


Sementara itu, di sebuah restauran mahal. Cella sedang menikmati makan malamnya bersama teman-teman sosialitanya, canda tawa terlihat di sana. Cella terlihat begitu bahagia bersama dengan teman-temannya. Siapa sangka kebahagiaan itu sirna ketika Cella gagal melakukan pembayaran makan malam mereka.


"Mona, pinjam uang mu dulu, Semua kartuku tak bisa digunakan. Aku akan menggantinya setelah menemui suamiku nanti." ucap Cella pada teman dekatnya.


"Ini pasti karena kamu tidak nongol-nongol di rumah sakit beberapa hari ini, seharusnya kamu jangan mengabaikan anak mu yang sedang sakit itu Cella." ucap Mona yang mengingatkan Cella. Ia memberikan kartu kreditnya pada Cella dan Cella memberikannya pada pelayan.


"Mas Dito, ada apa dengan mu hah? Apa hanya karena aku tak datangi Tita selama ini, kamu sampai memblokir semua kartu ku." gumam Cella yang sudah memiliki firasat tak enak di hatinya.


Cella kembali ke mansion Dito setelah acara makan malam bersama teman-temannya berakhir tak mengenakan. Sesampainya di depan pintu gerbang kediamannya. Cella tak diizinkan masuk ke dalam.


"Buka pintunya Pak!" Perintah Cella pada petugas keamanan yang ada di derpan gerbang mansion.


"Mohon maaf Nyonya, Tuan Dito sudah melarang Anda untuk masuk ke dalam masion ini." ucap salah satu petugas keamanan.


"Apa?" Cella terkejut dengan apa yang dikatakan petugas keamanan.


"Mas Dito, apa sebenarnya mau mu hah?" Gumam Cella di dalam hatinya.Ia segera masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke arah rumah sakit tempat dimana putrinya di rawat. Ia yakin Dito ada di sana bersam Aqilla.

__ADS_1


__ADS_2