Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 36


__ADS_3

"Apa menurutmu aku harus menceraikannya?" Tanya Bram yang menatap manik kesedihan di mata Nani.


"Kenapa Om balik bertanya padaku? Seharusnya Om tanyakan pada diri Om sendiri." Sahut Nani yang juga menatap manik mata Bram yang begitu rapuh.


"Secinta itukah dirimu padanya Om? Hingga aku melihatmu begitu rapuh. Aku tak pernah melihatmu serapuh ini Om. Meski Daddy mu kerap kali menghukummu tapi kau tak pernah serapuh ini." Gumam Nani di dalam hatinya.


Selain menjadi patner ranjangnya, Nani adalah tempat dimana Bram bersandar. Meluapkan segala kesedihan dan kepedihan hidupnya. Menjadi pembangkang Yohannes tidaklah mudah, kerap kali membuat Yohannes melakukan kekerasan fisik pada putra semata wayangnya.


Nani yang saat ini menjadi incaran Yohannes, tak dapat tersentuh karena tinggal di apartemen milik Dito yang tak bisa terjamah oleh kekuasaan Yohannes. Di tambah lagi Nani adalah anak buah dari Mami Christiana. Mucikari yang memiliki backingan dari pengusaha besar di negri ini.


"Aku tak tau harus mengambil keputusan seperti apa Nan, cinta ku padanya hanya sebuah luka baginya. Selama ini dia pergi dan menghilang karena diriku. Aku tak pernah bisa menjadi pelindungnya. Seperti aku yang tak bisa melindungi dirimu." Jawab Bram yang malah menitikan air matanya.


Air mata yang keluar dari ketidak berdayaannya sebagai seorang lelaki yang tak bisa melindungi wanita yang dicintainya.


"Aku bisa melindungi diriku sendiri Om, Om tak perlu khawatirkan tentang diriku." Balas Nani yang menghapus air mata Bram dengan jemari lentiknya.


"Aku tahu kau memang tak memerlukan perlindungan ku, karena ada Mami Christiana yang melindungi mu, tapi tak mungkin selamanya Mami Christiana akan melindungi mu, Nan. Kau juga perlu berhati-hati dengan Daddy ku." Tutur Bram yang menghentikan pergerakan tangan Nani yang sedang menghapus air matanya.


"Apa Om bicara seperti ini karena Om juga sedang mengkhawatirkan diriku?" Tanya Nani dengan tatapan sendunya.


"Tentu aku mengkhawatirkan mu, aku takut kau akan terluka karena diriku. Tapi tolong jangan salah artikan rasa khawatir ku ini pada mu, Nani. Karena rasa khawatir kubpada diri mu dan Aqilla istri kedua ku subgguh berbeda. Tolong jangan salah artikan hubungan kita ini. Kau harus ingat kau hanya sebatas patner ranjangku." Jawab Bram yang menohok perasaan Nani.


Selama ia melayani nafsu birahi Bram, ada sedikit rasa ingin memiliki Bram di hati kecilnya. Ingin mengisi kekosongan dan mengobati luka hati Bram. Namun sayang rasa yang ia miliki tersingkirkan oleh kata-kata Bram barusan.


Kata-kata Bram berhasil membuat Nani menitikan air matanya. Ia tersenyum getir menatap Bram yang kini malah menatap langit malam yang nampak kosong dalam sekejap. Entah kemana bintang-bintang yang tadi menghiasi langit malam ini dengan begitu indahnya. Saat ini bintang-bintang seolah meredup, seperti hati Nani malam ini.


*

__ADS_1


*


*


Pagi dini hari Bram sudah berada di area parkir rumah sakit Betrania. Ia berharap bisa menenmui sang istri keduanya di sini. Namun setelah lama menunggu hingga jadwal ketemu dengan Aqilla untuk membicarakan mengenai rencana pemasangan ring sang Daddy datang. Sosok Aqilla tak muncul batang hidungnya.


"Kemana dia? Apa dia tidak bekerja hari ini? Apa dia menghindariku?" Ucap Bram yang bermonolog di dalam hatinya.


Sedangkan di paviliun Tita, Aqilla baru saja selesai mandi dan menyiapkan sarapan untuk Dito dan juga Tita yang sudah dibawakan oleh Bi Lastri dari rumah.


"Mas, bangun Mas, sudah pagi, kamu ke kantor ga?" Ucap Aqilla saat ia membangunkan Ditonyang masih tertidur.


Meskin hanya bermain satu ronde, Dito nampak terlihat sangat lelah. Mungkin memang karena dia terlalu lelah sebelumnya namun ia tak bisa menahan hasrat ingin bercinta saat didekat Aqilla.


"Hemmmm, jam berapa sekarang?" Tanya Dito pada Aqilla dengan mata yang mengerjap-ngerjap.


"Hari ini aku gak masuk kantor dulu, tubuhku letih sekali Bu Dokter. Lagi pula putriku bisa marah dan merajuk, jika aku tak meluangkan waktu ku untuknya." Jawab Dito yang di dengar oleh Tita. Seulas senyum terbit di wajah pucat putrinya.


"Ya sudah kalau begitu, bangun dan lekas mandi. Ayo kita sarapan bersama pagi ini." Perintah Aqilla tang malah menepuk-nepuk bokong Dito.


Tita yang melihat sang Papi di pukul Tantenya terlihat tertawa geli. Seakan ia melihat sesuatu yang sangat lucu hingga membuatnya tertawa. Melihat putrinya tertawa, Dito berpura-pura kesakitan dan mengadu pada putrinya.


"Tita lihatlah, Tante Qilla mu menyakiti Papi." Adu Dito dengan memasang wajah pura-pura sedihnya.


"Makanya Papi cepat bangun dan mandi. Jangan tidur terus!" Jawab Tita disela tawanya.


"Baiklah-baiklah, Papi akan bangun dan mandi." Ucap Dito yang ingin beranjak dari ranjang tidur.

__ADS_1


Namun saat Dito mau beranjak bangun. Aqilla malah meneriaki namanya dan membulatkan matanya. Bagaimana tidak Dito ingin melepas selimut yang sengaja Aqilla pasangkan di tubuhnya yang tak memakai sehelai benang pun.


"Mas, kau lupa apa sengaja memamerkan barang pusaka mu pada Bibi dan Tita?" Cicit Aqilla yang membulatkan matanya pada Dito.


"Aku lupa, maaf sayang." Jawab Dito yang malah mencium pipi putih Aqilla yang memerah karena marah pada sikap sembrono Dito.


Melihat sang Daddy mencium tantenya, Tita tersenyum senang. Ia seakan ingin Daddynya segera menjadikan Aqilla sebagai ibu tirinya.


"Papi apa Papi mencintai Tante Tita, jika ia aku akan membantu mu mendapatkan Tante Qilla. Aku pun ingin Tante Tita menjadi Mami ku sejak dulu Pih. Tante Qilla selalu ada untukku disela kesibukannya menjadi seorang Dokter, tidak seperti Mami Cella yang tak memiliki waktu meski ia tak bekerja." Batin Tita yang memandang keduanya dengan senyum bahagia yang terukir di wajahnya.


Begitu pula dengan Bi Lastri yang sejak tadi ikut memperhatikan keduanya dan juga Tita.


"Bibi tahu Non. Non Tita pasti sekarang jauh lebih bahagia dari sebelumnya semenjak Tante Qilla datang kembali dihidup Non. Semoga Mami Non Tita tidak menjadi perusak kebahagiaan Non dan Papi Non segera menikahi Tante Qilla, agar mereka tidak terus melakukan sebuah kesalahan dan dosa." Gumam Bi Lastri di dalam hatinya.


Selesai sarapan, Aqilla berpamitan pada Tita, Dito dan Bi Lastri. Dia harus bekerja hari ini. Sudah ada beberapa jadwal temu dengan pasien dan juga keluarga pasien. Sewaktu ia ingin berpamitan pada Dito. Dito tak melepaskan tangan Aqilla yang baru saja mencium punggung tangannya.


"Jam berapa kamu selesai praktek?" Tanya Dito pada Aqilla.


"Kenapa tanya-tanya humm? Takut aku tinggalkan?" Sahut Aqilla yang malah melontarkan pertanyaan yang membuat Dito menarik tubuhnya ke dalam pangkuannya.


"Sangat, kita sangat takut ditinggalkan oleh mu, Tante Aqilla." Jawab Dito yang memeluk erat tubuh Aqilla di depan Tita.


Tita kembali tertawa melihat tingkah Dito yang memeluk erat Aqilla hingga Aqilla tak dapat bergerak sedikitpun.


"Jam praktek ku hari ini sampai jam dua siang, tapi aku ada janji dengan Tania dan beberapa Dokter yang menangani Tita sebelumnya. Kami ingin mendiskusikan mengenai kondisi Tita." Jawab Aqilla yang merangkul leher Dito.


Dito terdiam, ia hanya tersenyum mendengar jawaban dari Aqilla.

__ADS_1


"Baiklah Papinya Tita, aku kerja dulu ya. Sebaiknya kau pulanglah dan ambil beberapa stel baju tidur dan baju kerja ku untuk beberapa hari. Karena Nona Tita, ingin di temani oleh ku selama berada di rumah sakit." Ucap Aqilla yang memerintah Dito untuk mengambil pakaian untuknya. Dito terlihat terkejut dan melirik wajah Aqilla dan Tita bergantian.


__ADS_2