Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 37


__ADS_3

Dito mengejar langkah Aqilla hingga keluar kamar rawat putrinya tanpa sepengetahuan Aqilla. Dito menarik tangan Aqilla hingga Aqilla jatuh ke dalam pelukan Dito.


"Mas Dito," panggil Aqilla ketika ia berusaha melepaskan pelukan Dito darinya.


"Kenapa ikutin aku dan tarik tangan aku? Aku hampir saja jatuhkan." Cicit Aqilla yang merapikan jas putih yang ia kenakan. Kini ia berdiri menatap wajah Dito yang menyimpan tanya padanya.


"Aku mau tahu, kenapa kamu mau menemani Tita di sini? Seharusnya gak perlu, sudah ada Bibi yang menjaga dia. Ibu kandungnya saja tidak sudi untuk menemaninya, kenapa kamu---" Tanya Dito yang terpotong, ia terlihat sangat membutuhkan penjelasan dari Aqilla.


Jujur saja Dito masih merasa khawatir, Aqilla akan memberikan harapan palsu dengan kebersamaannya kali ini. Karena walau bagaimana pun status Aqilla masih menjadi istri Bram.


"Aku menyayangimu, mencintaimu dan aku juga harus menyayangi putrimu juga kan Mas? Tita butuh aku, dia butuh sosok ibu yang menyayanginya. Jika ia tak mendapatkan sosok seorang ibu yang menyayanginya dari Cella, dia bisa mendapatkannya dari aku. Izinkan aku berada didekatnya dan ikut merawatnya, Mas. Meskipun aku belum bercerai dengan Mas Bram." Sambung Aqilla yang membuat Dito tersenyum bahagia.


Pria mana yang tak tersenyum bahagia mendengar jawaban yang diucapan Aqilla barusan. Dito tak mampu menanggapi perkataan Aqilla, rasa bahagia membuat mulutnya membisu tak bisa mengularkan sepatah kata apapun. Hanya di dalam hatinya saja yang terus memanggil nama Aqilla


"Tapi kamu jangan khawatir, aku sudah katakan pada Sandra tentang keinginan ku berpisah dengannya kemarin. Pernikahan kami belum tercatat secara hukum negara, aku hanya menunggu kata cerai dan talak darinya." Ucap Aqilla lagi yang makin membuat Dito tersenyum bahagia.


Salahkah dia yang berbahagia dengan perpisahan yang akan dilakukan Aqilla?


Salahkah dia yang berbahagia dengan kesedihan yang akan dialami Bram dengan perpisahan ini?


Salahkah caranya yang terus berusaha mendapat hati Aqilla meski ia sudah dimiliki oleh Bram?


Salahkah?

__ADS_1


Dito benar-benar tak bisa berkata-kata mendengar semua ucapan Aqilla. Ia hanya tersenyum dengan wajah yang berbinar. Melihat Dito tersenyum Aqilla pun tersenyum.


"Pulanglah dan bawa pakaian ku ke sini hum! Sekarang aku harus bekerja, sampai jumpa nanti malam oke?" Ucap Aqilla yang menepuk lembut pipi Dito.


Dito mengangguk seakan patuh dengan apa yang dikatakan oleh Aqilla. Sewaktu Aqilla ingin melangkahkan kakinya ingin pergi, lagi-lagi Bram mencekal langkahnya dengan menarik lengannya.


"Kau lupa sesuatu sayang?" Ucap Dito yang belum melunturkan senyum di wajahnya.


"Ah. Aku lupa. Bisakah di rapel nanti malam, aku takut ada yang lihat Mas, aku malu." Balas Aqilla yang membuat Dito memanyunkan bibirnya.


Tak ingin Dito kecewa dan sedih, Aqilla pun kembali mendekat dan memberikan ciuman di seluruh bagian wajah Dito tanpa terlewatkan.


"Sudah ya, aku kerja dulu. Bye Mas." Pamit Aqilla yang kali ini dibiarkan pergi oleh Dito.


Di sisi yang berbeda, tepat di lorong lain yang bersebrangan dengan ruang rawat Tita. Ada seorang pria yang menitikan air matanya. Melihat wanita yang begitu ia cintai yang masih berstatus istri sahnya tengah bermadu kasih dengan pria yang merupakan rival bisnisnya.


Pria itu kembali memperlihatkan sisi rapuhnya. Takdir seakan tak pernah berpihak padanya. Niat hati ingin ke ruang rawat sang Daddy sebelum menemui Aqilla. Ia malah melihat Aqilla dan Dito sedang beradegan mesra.


"Dia di ruang rawat Anak, apa mungkin semalam mereka bermalam bersama di sana? Apa mereka tidur dalam satu ranjang yang sama? Setega itu kamu mengkhianati ku Qilla?" Bram bermonolog dengan pikirannya. Ia bicara seakan dirinya menjaga kesetian cintanya bersama Aqilla.


Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 pagi. Aqilla di jadwalkan melakukan pemeriksaan di ruang rawat Tuan Yohannes. Jadwal ini mundur beberapa jam dari jadwal sebelumnya. Karena Dokter Miranda sedang ada jadwal operasi dengan pasiennya yang lain.


Jantung Aqilla berdetak tak menentu. Langkahnya goyah, ia ragu dan takut harus berhadapan dengan pria yang selama ini selalu mencari keberadaannya untuk menyingkirkannya di dunia ini karena sudah berani menikah dengan putranya tanpa seizin dirinya.

__ADS_1


Meski Tuan Yohannes tak lagi berkuasa seperti dulu, tentunya berhadapan dengan pria yang masih menjadi mertuanya ini adalah sebuah tantangan tersendiri bagi Aqilla.


Dengan di temani beberapa suster perawat dan seorang Dokter lain yang memang menangani kesehatan Tuan Yohannes, Aqilla dengan langkah beratnya memasuki ruang rawat Tuan Yohannes.


Deg! [Jantung Aqilla rasanya ingin berhenti berdetak ketika melihat suami yang ia sengaja lupakan tengah duduk di sebuah sofa menatap kedatangannya].


"Selamat pagi Tuan Yohannes, bagaimana kabar Tuan hari ini, apa ada sesuatu yang Tuan rasakan?" Tanya Dokter Miranti, Dokter yang sebelumnya menangani Tuan Yohannes.


"Sedikit lebih baik, hanya saja saya masih sulit memejamkan mata saat tengah malam." Jawab Tuan Yohannes pada Dokter Miranti.


"Oh. Baik kalau begitu nanti kami coba akan lakukan pemeriksaan kembali ya Tuan. Sesuai janji saya, hari ini saya membawa Dokter terbaik rumah sakit ini yang sudah meneruskan pendidikan spesialis kedokterannya di New York dengan lulusan terbaik dan sempat bekerja di rumah sakit ternama di kota New York. Perkenalkan rekan kerja saya yang hebat ini Tuan. Dokter Aqilla." Ucap Dokter Miranti yang memperkenalkan Aqilla dengan segala pujiannya pada Tuan Yohannes.


Tuan Yohannes menyipitkan matanya, ia tak menyangka menantu yang ingin ia singkirkan dari dunia ini, akan mengobati dirinya. Terlebih ia mendengar menantunya ini adalah lulusan terbaik dan pernah bekerja di rumah sakit ternama di negri orang.


Sungguh berlian akan tetap menjadi berlian, walaupun sudah di buang seperti sebuah sampah tak berharga. Ia akan tetap berkilau dimata semua orang, dan terlihat usang oleh para pembencinya.


Disaat inilah Aqilla memainkan perannya sebagai seorang Dokter, bukan sebagai seorang menantu yang tak diinginkan oleh mertuanya. Bak seperti orang lain yang baru pertama kali bertemu dan tak saling mengenal. Aqilla menjulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Tuan Yohannes dan juga istrinya.


"Dokter Aqilla," ucap Aqilla saat berjabatan tangan dengan Tuan Yohannes dan Nyonya Wina sang istri.


Melihat istrinya bermain peran dihadapannya dengan kedua orang tuanya, Bram tersenyum getir melihat sandiwara mereka dari sofa yang ia duduki sejak tadi.


Hampir tiga puluh menit, Aqilla melakukan pemeriksaan dan tanya jawab dengan Tuan Yohannes mengenai keluhan pada kesehatannya. Ia juga meneliti berbagai rangkaian pemeriksaan yang sebelumnya sudah dilakukan Tuan Yohannes. Setelah merasa sudah cukup dengan segala informasi yang di butuhkan Aqilla dan beberapa tim medis lain meninggalkan ruang rawat Tuan Yohannes.

__ADS_1


Tuan Yohannes dan istrinya tersenyum pada wajah datar dan kaku yang Aqilla tampilkan pada mereka saat Aqilla pamit undur diri dari ruangan mereka. Di saat Aqilla berada di muka pintu. Bram memanggil namanya.


"Dokter Aqilla. Bisa saya bicara dengan Anda sebentar di ruangan ini tanpa mereka?" Panggil Bram beranjak dari duduknya, ia melangkah mendekati Aqilla yang menghentikan langkahnya dan menatap Bram yang sedang mengikis jarak diantara mereka.


__ADS_2