Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 44


__ADS_3

Bram terus saja bertepuk tangan dengan mata yang terus menitikan air matanya dan senyum getir yang tak lepas dari bibirnya. Melihat istrinya sendiri meminta diselamatkan dari dirinya yang notabennya adalah suaminya Aqilla sendiri. Suami yang begitu mencintainya dan tak pernah terlintas untuk menyakiti dirinya.


Bram berjalan menghampiri keduanya yang saling berpegangan satu sama lainnya melalui celah pagar yang ada.


"Qilla, tidakkah hatimu merasakan luka yang aku rasakan kini, melihat tingkahmu yang diluar batas seperti ini?" tanya Bram yang mentap dalam mata Aqilla yang juga sedang menatapnya.


Aqilla terdiam, ia terus memperhatikan air mata Bram yang berlinang membasahi rahang tegasnya. Hati Aqilla tersentuh dengan air mata Bram. Aqilla mulai berkaca-kaca menatap wajah Bram, namun tangannya yang berpegangan pada kedua tangan Dito, meremas kuat tangan Dito. Seakan dirinya butuh Dito untuk menguatkan hatinya agar tak goyah dengan air mata Bram. Dito yang mengerti pun mempererat genggaman tangannya.


"Maafkan aku, Mas Bram. Izinkan aku bahagia meski tidak bersama mu." ucap Aqilla yang juga menitikan air matanya dan menundukkan kepalanya setelah itu.


Aqilla seakan tak ingin melihat kepedihan hati Bram saat ini. Kali ini Aqilla kembali memanggil Bram dengan panggilan Mas. seperti yang Bram inginkan sejak tadi.


Bram mencoba mengikis jarak antara dirinya dan Aqilla. Dia tak memperdulikan dengan kedua tangan mereka yang saling berpegangan tangan begitu erat, seakan Bram adalah orang yang amat sangat jahat dan memgerikan. Bram meraih wajah Aqilla agar kembali menatapnya. Ia pandangi wajah Aqilla yang sudah basah dengan deraian air mata.


"Aku mencintai mu, sangat mencintaimu. Di hati ku hanya ada nama mu sejak dulu hingga detik ini hanya ada nama mu Qilla." ucap Bram yang menangkupkan wajah aqilla dan Aqilla malah memejamkan matanya. Ia benar-benar tak ingin melihat wajah sedih yang begitu nampak di wajah Bram.


"Maafkan aku, tolong hentikan perasaan cinta mu pada ku Mas. Aku tak bisa menjadi Aqilla yang kau harapkan." balas Aqilla yang masih terus memejamkan matanya.


"Kenapa? Tak bisakah kamu menerima kesalahan ku, seperti aku yang selalu menerima kesalahan yang selalu kau perbuat dan keadaan mu saat ini?" tanya Bram yang makin mengeratkan tangkupan wajah Aqilla agar ia menatap dirinya.


"Bram!! Jangan kasari dia!" Ucap Dito yang memperingatkan Bram agar tak berbuat kasar pada Aqilla.


"Aku tak bisa berdamai dengan dendam ku pada kedua orang tua mu, Mas. Aku tak bisa menerima perselingkuhan mu disaat aku melewati masa kelam ku seorang diri, Mas. Tolong izinkan aku pergi dari hidup mu." Tutur Aqilla yang menggoreskan belati di hati Bram.


Bram menggigit bibirnya, guna menahan kesedihannya. mendengar ucapan Aqilla yang begitu menyakiti hatinya.


"Jadi karena itu, seberat dan separah itu kesalahan aku dan keluarga ku hingga sulit bagi mu berdamai pada dendam dan dirimu sendiri." Bram masih menatap wajah Aqilla yang masih tak mau melihat dirinya.


"Tatap aku, katakan pada ku jika kau sudah tak mencintai ku!" pinta Bram yang lagi-lagi menguncangkan tangannya yang menangkup wajah Aqilla.

__ADS_1


Suasana hening, ketika Bram meminta Aqilla mengatakan hal itu padanya. Aqilla diam membisu, hanya air mata yang makin mengalir deras dari kelopak matanya yang tertutup.


"Kau diam, kau menangis. Itu artinya kau masih mencintai ku,Qilla. Kau mencintai kami berdua. Bukan begitu Qilla?" Pungkas Bram yang tersenyum getir menatap aqilla lalu menatap Dito yang terus menatap Aqilla.


"Katakaan kau tak lagi mencintainya Qilla, jangan buat hati ku sakit dan kecewa pada mu." batin Dito yang tak melepaskan pandangan matanya ke wajah Aqilla.


"Mas, dulu memang aku mencintai mu, tapi tidak dengan saat ini. Aku sangat mencintai Mas Dito. Aku tak sanggup hidup tanpa dirinya, tapi aku sanggup hidup tanpa dirimu." ucap Aqilla yang memberanikan diri untuk membuka matanya.


Bram menatap manik mata Aqilla yang tersirat dusta di dalamnya.Jujur apa yang dikatakan Aqilla sangat bertolak belakang dengan perasaan hatinya. Sesungguhnya tebakan Bram memang benar adanya, hanya saja hatinya mengatakan jika ia berkata sejujurnya, ia akan menyakiti hati Dito yang selama ini selalu setia berada di sampingnya, menjadi sadaran hidupnya disaat ia dalam situasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Bram kembali tertawa getir dan sejenak membuang pandangannya asal. Ia tahu betul Aqilla sedang berbohong saat ini. Ia menatap Dito yang tak lepas menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta.


"Dia hanya mencintaiku, tapi dia ingin bersama mu, pasti ada sesuatu yang ia harapkan dari dirimu Dito, dan aku tak ingin menjadi penghalang baginya." batin Bram saat menatap Dito.


"Kau yakin, jika aku melepaskanmu. Dia akan membuat mu bahagia?" tanya Bram pada Aqilla.


"Tolong ceraikan aku!" pinta Aqilla saat ia menundukkan kepalanya.


"Ok, aku akan menceraikan mu." jawab Bram yang melepaskan tangannya dari wajah Aqilla dan juga melepaskan genggaman tangan Aqilla dengan Dito.


"Ikut aku, aku akan menceraikan mu setelah ini.Dan kau tunggulah dengan sabar calon mantan istriku ini di sini." ucap Bram yang kemudian membawa masuk Aqilla dengan meggendongnya.


Aqilla menatap Dito yang tak bisa melakukan apapun, karena para pengawal Bram sudah menodongkan senjata di kepalanya.


Bram membawa Aqilla ke kamar tempat dimana pertama kalinya mereka bermadu kasih. Bram menurunkan Aqilla tepat di ambang pintu kamar itu.Terpampang sebuah foto pernikahan mereka yang terpasang di dinding kamar mereka.


Aqilla menjatuhkan tubuhnya di atas lantai dan menangis tersedu-sedu saat melihat foto pernikahan mereka. Ia menangisi jalan pernikahannya dengan pria yang selama ini selalu ia cintai, namun selalu merasa terluka dengan rasa cintanya dengan Bram.


"Maafkan aku Mas, maafkan aku. Sejujurnya aku masih mencintai mu. Tapi aku tak kuat dengan rasa sakit ini." ungkap Aqilla di sela tangisnya yang menyayat hati Bram.

__ADS_1


Bram mengangkat tubuh Aqilla. Ia menghapus air mata Aqilla yang mengalir begitu deras.


"Lihat aku Qilla!" pinta Bram yaang dibalas gelengan kepala dari Aqilla.


"Aku tak sanggup menatap wajah mu Mas, aku terlalu sakit melihat mu merasakan kepedihan yang juga aku rasakan. Aku gak sanggup Mas, Aku gak sanggup mencintai mu dengan rasa sakit ini." tolak Aqilla yang membuat Bram kembali menitikan air matanya.


"Maafkan atas ketidak berdayaanku melindungimu. Jika dia yang memang terbaik untuk mu. Aku ikhlaskan kamu untuknya. Pergilah sejauh apa yang kamu mau. Tapi tolong berikan aku ciuman terakhirmu untuk ku." ucap Bram yang malah membuat tangis Aqilla pecah.


"Maafkan aku yang menyakiti mu Mas, tolong maafkan aku yang menyerah dengan perasaan cinta kita ini. Aku tak sanggup bertahan dan tak juga mau berjuang. Karena dinding pemisah kita begitu tinggi untuk ku runtuhkan." ucap Aqilla dengan tangis yang tak kunjung reda.


"Beri aku sebuah ciuman terbaik mu, sebelum bibirku ini mengucapkan kalimat talak untuk mu." lagi-lagi Bram meminta sebiuah ciuman pada Aqilla.


Aqilla memandang wajah tampan Bram, ia sentuh bagian wajah Bram tanpa ada yang terlewatkan dengan jemrinya.Wajah yang selalu menyiksanya dalam kerinduan selam bertahun-tahun lamanya.


"Wajah ini yang selalu ku rindukan, ketika Cella dan Bastian menghancurkan hidup ku. Aku selalu ingin melihatmu, namun aku tak punya keberanian untuk menemui mu. Seandainya saja saat itu aku memiliki keberanian untuk menemui mu, mungkin tak akan seperti ini jalan kisah cinta kita Mas. Perpisahan selalu saja menyakitkan bukan? Apalagi berpisah dengan orang yang sangat aku cintai." tutur Aqilla yang malah membuat keduanya kembali menangis.


"Kita masih bisa bersama Qilla, asal kamu sanggup berdamai dengan dirimu sendiri." balas Bram yang membuat Aqilla mengelengkan kepalanya.


"Aku tak bisa menahan amarahku, kecewaku pada keluarga mu yang menjadi sumber luka dalam hidup ku." balas Aqilla yang dapat dipahami oleh Bram.


"Cepat berikan aku ciuman terbaik mu! Jangan biarkan dia menunggu mu terlalu lama diluar sana!" pinta Bram dan mengingatkan Aqilla tentang Dito.


Aqilla mengangguk dan mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Bram. Bibir mereka bersatu namun keduanya malah kembali menangis. Seakan tak sanggup melakukan hal yang sangat mudah untuk mereka lakukan sebenarnya.


"Aku tak sanggup Mas, ini terlalu menyakitkan ku." ucap Aqilla yang malah menolak memberikan ciuman pada Bram.


"Aku tak akan menceraikan mu jika kau tak memberikan ku ciuman terbaik mu untukku." ucap Bram yang sengaja melakukan hal ini.


Bram berhasil mengetahui perasaan terdalam Aqilla. Aqilla sangat pandai menyembunyikan dengan baik perasaan cintanya dengan menonjolkan keangkuhan hatinya sebelum ini.

__ADS_1


__ADS_2