
Aqilla menangis histeris sejenak. Ia kemudian berdiri dan berlari meninggalkan ruang IGD. Ia melangkahkan kakinya yang sudah tak menggunakan alas kaki ke ruangan dimana ia pikir Bram pasti ada di sana.
Brak!! [Pintu ruang rawat Tuan Yohannes terbuka dengan kasar]
Tuan Yohannes yang dalam masa pemulihan nampak terkejut dan mengusap dada kirinya yang sedikit berdenyut. Aqilla mendapati Bram tengah duduk disebuah sofa dengan santainya, menatap dirinya yang sudah berantakan.
"Ada angin apa kau mendatangi ku? Belum dua puluh empat jam kita berpisah apa kau sudah tak sanggup?" Tanya Bram yang membuat Tuan Yohannes dan Nyonya Wina menyernyitkan kedua alisnya.
"Mereka berpisah?" Tanya keduanya di dalam hati mereka masing-masing. Tiba-tiba saja kedua orang tua itu merasakan ngilu di hati mereka masing-masing, ketika melihat kedua insan dihadapan mereka sedang berusaha tegar dihadapan mereka.
Aqilla menghampiri Bram yang masih duduk di sofa dengan santainya. Aqilla duduk bersimpuh di depan Bram.
"Maafkan aku..." Ucap Aqilla dengan suara bergetar.
"Maaf atas apa?" Tanya Bram dengan suara datarnya.
"Maaf atas semuanya Bram." Jawab Aqilla yang masih menunjukkan pandangannya.
Ia sama sekali tak berani menatap mata Bram.
"Katakan lebih spesifik! Jelaskan kesalahan mu yang mana, yang harus aku maafkan Qilla, mantan istri ku." Pinta Bram pada Aqilla namun arah matanya menatap kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kesalahan ku merusak hidupmu, kesalahan ku yang menyakiti mu, kesalahan ku yang mengkhianati mu, kesalahan ku yang tak pernah menghargai ketulusan cinta mu pada ku." Terang Aqilla sembari menatapnya.
"Angin apa yang membuat mu tiba-tiba sadar seperti ini hum? Bukankah permainan mu baru saja di mulai oleh superhero mu itu?" Tanya Bram yang menangkupkan wajah Aqilla yang sudah basah dengan air mata.
Aqilla hanya diam tak menjawab pertanyaan Bram. Memang apa yang dikatakan Bram adalah benar adanya, semuanya baru saja di mulai oleh Dito. Aqilla sendiri yang mendengarnya langsung dari mulut Dito. Bagaimana ia mulai menyelesaikan apa yang menjadi harapan Aqilla sejak dahulu. Dito menceraikan Cella dan hancurnya bisnis Mahendra yang selama ini dinikmati ibu tirinya yang begitu menguasai sang Daddy.
"Jangan lemah sayang! Berusahalah kuat seperti aku yang berusaha kuat di dalam penantian ku saat ini. Sebentar lagi tangan superhero mu akan menghancurkan bisnis keluarga ku hingga berkeping-keping, seperti hidupmu dan hatimu yang hancur ketika malam kelam yang disengajakan itu terjadi, karena keegoisan kedua orang tuaku yang mau memisahkan cinta kita." Ucap Bram yang membuat Tuan Yohannes terkejut bukan kepalang.
Jantung Tuan Yohannes anfal, ia tak menyangka jika putranya mengetahui semua kejahatannya pada Aqilla. Tuan Yohannes memegangi dadanya yang tidak haya berdenyut tapi terasa tertusuk ribuan belati.
"Bram, Daddymu Bram..." Panggil Nyonya Wina pada Bram yang masih duduk dengan santainya di sofa.
Bram melirik sejenak keadaan sang Daddy yang sama sekali tak ia perdulikan. Aqilla pun melihat kearah Tuan Yohanes. Jiwanya sebagai seorang Dokter, membuatnya segera ingin beranjak dari posisinya untuk menolong Tuan Yohannes. Namun langkahnya tertahan oleh tangan Bram yang mencengkramnya.
Meskipun Tuan Yohannes selalu menekan dirinya dan menjadikannya sebuah boneka hidup yang menghasilkan keuntungan untuknya. Tapi tetap saja Bram merasa sedih membiarkan sang Daddy pergi untuk selama-lamanya tanpa mengizinkan Aqilla membantunya.
Pengorbanan yang sangat bodoh yang kini Bram lakukan hanya demi rasa cintanya pada Aqilla, hingga membuatnya sekejam dan sebodoh ini. Menutup akal sehatnya sebagai seorang anak.
Aqilla berdiri mematung menatap Yohannes yang menghembuskan nafas terakhirnya, tanoa menerima pertolongan dari dirinya. Nyonya Wina menjerit ketika ia dapati suaminya berhenti bernafas di depan matanya, dengan mata dan mulutnya yang menganga.
"Bram biarkan Aqilla menolong Daddy mu, Bram." Ucap Nyonya Wina dengan wajah sedih dan frustrasinya. Ia berusaha melepaskan tangan Bram yang terus mencengkram tangan Aqilla.
__ADS_1
"Tidak, biarkan pria tua bangka yang kejam itu pergi untuk selama-lamanya, aku sudah lelah mengikuti semua kemauannya Mom. Kematian adalah jalan yang terbaik untuk dia yang tak punya perasaan." Balas Bram masih dengan deraian air matanya.
"Mommy tak bisa hidup tanpa Daddy mu Bram, biarkan dia menolong Daddy mu." Ucap Nyonya Wina yang masih berusaha melepaskan cengkraman tangan Bram yang ia tindih dengan kepalanya yang bersandar pada tangan Aqilla.
Sementara Aqilla hanya bisa diam berdiri mematung dan menitikan air matanya. Ia menitikan air mata bukan karena menangisi kepergian Tuan Yohannes, tapi karena merasakan kepedihan hati Bram saat ini. Air mata Bram berhasil membasahi tangan Aqilla yang ia cengkram.
"Mommy tak bisa hidup tanpa Daddy, bagaimana aku selama ini, yang tak bisa hidup tanpa Aqilla? Aku hancurkan hidup ku agar kalian sadar, tapi bukannya membuat kalian sadar, kalian malah semakin menjadi pemaksa di dalam hidupku. Aku membenci kalian. Jika saja aku tahu akan dilahirkan dari orang tua macam kalian, tentu aku lebih memilih mati dari pada harus menjadi bagian dari hidup kalian yang kalian sakiti dan sia-sia kan," ungkap Bram dengan berapi-api.
"Bram, maafkan Mommy, Mommy tak bermaksud membuat hidup mu seperti ini." Ucap Nyonya Wina yang telah banjir air mata.
"Apa permintaan maaf Mommy akan mengembalikan keadaan? Apa permintaan maaf Mommy akan mengembalikan keperawanan Aqilla? Apa permintaan maaf Mommy akan membuat luka hati Aqilla hilang begitu saj? Karena Mommy kami menderita, karena Mommy dan Daddy kami harus berpisah dan berpisah lagi. Apa kurang cukup selama ini penderitaan kami Mom?"
"Bram..." Nyonya Wina tak bisa berkata-kata lagi. Ia menyadari betul kesalahannya pada sang putra dan juga mantan menantu yang tak pernah ia anggap ada.
Tiba-tiba saja suara hening diantara mereka tercipta, tak ada satupun diantara mereka ada yang mengeluarkan suara. Dan tiba-tiba saja Nyonya Wina merasa nafasnya tercekat dan mulai kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh lunglai ke atas lantai. Ia benar-benar tak bisa hidup tanpa Tuan Yohannes. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di antara kaki Aqilla dan juga Bram.
Bukannya menangis melihat sang Mommy menyusul sang Daddy, Bram malah tertawa pilu melihat semua yang begitu cepat terjadi di hadapannya.
"Aku hanya tinggal seorang diri Qilla, Calista sudah mengajukan gugatan cerainya pada ku. Wanita itu menyerah dan pergi. Dan sekarang aku meminta mu untuk pergi dan selesai apa yang harus kau selesaikan! Jangan perdulikan bagaimana keadaan ku saat ini! Aku janji akan baik-baik saja, meskipun kedepannya aku akan kau buat terluka." Ucap Bram yang kini berdiri menatap Aqilla dan menyatukan kening keduanya.
"Aku akan bersabar, meski aku harus menunggu hingga azal lebih dahulu menjemputku." Ucap Bram.
__ADS_1
"Mas..." Cicit Aqilla.
"Ku mohon jangan berhenti ditengah jalan Qilla! Kau sudah terlanjur melangkah sejauh ini." Ucap Bram yang mengecup bibir Aqilla sekilas dan pergi meninggalkan Aqilla di ruang rawat Tuan Yohannes begitu saja.