
Setelah menikah hari ini juga, Dito mengajak Aqilla dan Tita ke apartemen Aqilla yang Dito berikan. Dito meminta Aqilla membawa beberapa setel pakaian untuk dia menginap selama satu minggu lamanya.
Berkali-kali Aqilla bertanya, mereka akan kemana, namun Dito tak mau menjawabnya. Ia malah tersenyum penuh arti bersama Tita dihadapan Aqilla.
"Hai, kalian berdua sepertinya sedang merahasiakan sesuatu ya? Awas ya kalian!" Ucap Aqilla yang malah memeluk Tita dan menghujani gadis kecil itu dengan ciuman.
"Mami, lepaskan ini geli. Sudah berhentilah menciumi ku!" ucap Tita yang melirik Dito, seakan ia sedang meminta pertolongannya.
"Mami sudahlah, kasian anak mu, dia sudah mual dengan ciuman mu yang begitu banyak itu." Ucap Dito sambil tertawa dan ia segera mengambil Tita dari pelukan Aqilla dan menggendong putrinya dalam pelukannya.
Bahagia. Ya. Mereka tampak seperti keluarga bahagia di depan Tita. Namun di dalam lubuk hati mereka, semua rasa ini terasa sangat berkecamuk. Dito dan Aqilla merasa dilema.
Akankah mereka terus bersama karena kepura-puraan ini? Kepura-puraan saling menyayangi satu sama lain hingga membuat mereka terbiasa bersama.
Atau akankah Dito menepati janjinya pada Bram, yang akan mengembalikan Aqilla padanya setelah tugas Aqilla membahagiakan Tita telah selesai? Meski hati kecilnya masih menginginkan Aqilla terus bersamanya, untuk menghapus nama Angel di hidupnya.
"Sudahkah?" Tanya Dito saat Aqilla mengunci koper pakaiannya.
"Sudah Mas," jawab Aqilla.
"Tolong tuntun dia, biarkan aku yang membawa koper mu," pinta Dito yang menurunkan Tita dari gendongannya.
Aqilla menghampiri Tita dan menggandengnya, sedang Dito menarik koper yang cukup besar yag berisi pakaian dan peralatan yang Aqilla butuhkan. Mereka berjalan bersama menuju parkiran mobil. Aqilla mengikuti langkah kaki Dito bersama Tita.
Aqilla mulai merasa aneh ketika mereka melewati mobil sedan mewah yang selama ini Dito gunakan sehari-hari.
"Mas kok kita gak naik mobil kamu, kita mau naik mobil yang mana?" Tanya Aqilla pada Dito yang kembali hanya di jawab dengan senyuman.
"Tara," ucap Dito di saat mereka berada di depan sebuah mobil motorhome berwarna hitam.
Sebuah mobil yang didesain khusus dengan fasilitas layaknya sebuah rumah yang begitu nyaman untuk ketiganya gunakan selama bepergian yang entah kemana tujuannya, Aqilla.sama sekali belum tahu.
__ADS_1
Dito memasukkan koper Aqilla ke dalam mobil, dan meminta Aqilla untuk masuk dan merapikan kembali barang-barang bawaannya ke dalam lemari pakaian yang ada di dalam mobil itu.
"Kamu kayanya ngerjain aku Mas, seharusnya kamu bilang dong. Jangan kaya gini! Ampun deh Tita, Papi mu ini! Ngeselin sekali. Baru saja dimasukin sekarang dikeluarin lagi." Gerutu Aqilla sembari merapikan pakaiannya ke dalam lemari.
Dito dan Tita hanya tersenyum mendengar Aqilla yag mengomel karena kesal.
"Papi, Mami marah-marah," ucap Tita dengan senyum bahagianya melirik kearah Dito.
"Biarkan, Mami mu itu sangat lucu jika sedang marah-marah bukan?" Balas Dito yang kemudian mengecup kening putrinya.
"Iya Papi, Mamo selalu lucu kalau marah hehehe..." Ucap Tita dengan senyum terbaiknya.
"Teruslah tersenyum seperti ini Nak, Papi akan membuat mu bahagia sebelum kamu berjuang di meja operasi nanti, bersama tiga wanita yang sangat menyayangi mu." Gumam Dito di dalam hatinya.
Ia mengabaikan Aqilla yang terus mengomel tanpa henti karena rasa kesalnya pada Dito dan membiarkan Tita terus tersenyum mendengar ocehan Aqilla yang seperti radio rusak.
"Akh... Akhirnya selesai juga." Gumam Aqilla yang lelah dan malah membaringkan tubuhnya yang lelah di ranjang queen size yang ada di dalam mobi itu.
"Iya sayang, ini karena Papi kamu yang gak mau jujur kita mau kemana dan naik apa. Hufttt hari ini Papi mu menyebalkan sekali." Jawab Aqilla yang masih nampak kesal namun rasa kesal Aqilla ini mampu membuat Tita tersenyum bahagia.
"Hai, kalian berdua sedang apa?" Tanya Dito yang baru saja memanaskan mobil yang kereka naiki sebelum melakukan perjalanan panjangnya.
Pertanyaan Dito sama sekali tak dijawab oleh Tita maupun Aqilla. Keduanya seakan kompak mengacuhkan Dito.
"Hei, kalian berdua kenapa diam saja? Hummm Papi tahu, kalian berdua ngambek ya. Ya sudah kalau ngambek, kita gak jadi pergi ya?" Ancam Dito yang membuat Tita segera bersuara.
"Jangan Papi! Tita mau camping di pantai sama Papi dan Mami, ayo sekarang kita berangkat!" Sahut Tita yang bangun dan memeluknya pinggang Dito.
"Hummm baiklah sayang, bagaimana dengan Mami mu, nampaknya dia sedang merajuk dengan Papi." Balas Dito yang melirik Aqilla yang masih saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Cium saja Papi, pasti Mami gak akan merajuk lagi kalau dicium seperti aku." Saran Tita yang diangguki oleh Dito.
__ADS_1
"Ah... Begitukah, baiklah... Sayang."
Dito ikut merebahkan tubuhnya di samping Aqilla, ia menatap wajah Aqilla yang nampak kesal padanya.
"Apa lihat-lihat hum? Mau ngerjain aku lagi, kamu tahu betapa lelahnya mengepak pakaian ini ke dalam koper dan belum berapa lama kamu menyuruhku untuk mengeluarkannya kembali. Menyebalkan sekali kamu Mas!" Omel Aqilla yang hanya ditanggapi Dito dengan senyuman.
"Kamu sudah persis seperti ibu-ibu pada umumnya ya, suka marah-marah jika disuruh oleh suaminya." Sahut Dito yang melirik Aqilla yang tidur di sampingnya.
Tita pun ikut berbaring di samping Dito, ia jadikan lengan Papinya sebagai bantalan kepalanya. Lelah dan mengantuk itulah yang Tita rasakan saat ini.
Hati Tita saat ini sangat bahagia karena Aqilla sudah menjadi istri sang Papi. Untuk pertama kalinya Tita merasa mengantuk tanpa meminum obat sebelumnya. Memiliki keluarga yang hangat seperti inilah yang di impikan Tita selama ini. Ia tertidur dengan pulasnya ditengah-tengah kehangatan sebuah keluarga yang tak pernah ia rasakan.
"Ya tentu saja. Apa kamu keberatan kalau aku marah-marah seperti ini?" Sahut Aqilla.
"Tidak, lakukan apa saja yang kau inginkan selama kau menjadi istri ku Qilla." Jawab Dito dengan tatapan mata yang tersirat.
Aqilla bangun dari posisi tidurnya, ia melihat Tita yang berbaring di samping Dito. Mata Dito terus mengikuti pergerakan Aqilla.
"Dia cepat sekali tertidur." Ucap Aqilla yang melihat Tita tertidur.
"Memangnya kenapa jika Tita tertidur? Apa kau mau aku?" Tanya Dito dengan tatapan mata yang hangat menatap wajah Aqilla.
"Hahaha, bukankah kau berjanji untuk tidak menyentuh ku Mas?" Ucap Aqilla yang mengingatkan Dito dengan perkataannya sembari tertawa.
"Ya kau benar Qilla, aku akan berusaha untuk tidak menyentuh mu dan itu akan sangat sulit bagi ku, karena selama ini kau adalah patner ranjang ku." Balas Dito sembari menatap langit-langit mobil.
"Kita mau kemana sekarang, hari sudah mulai gelap, apa tidak bisa besok saja perginya?" Tanya Aqilla yang mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak, kita tak boleh menunda sesuatu yang diinginkan Tita. Karena kita tak tahu kapan azal akan menjemput putri ku." Jawab Dito yang malah menitikan air mata.
"Mas, kuatlah hati mu. Aku akan menemani mu hingga Tita sembuh, kau tak akan sendirian lagi." Aqilla menghapus air mata Dito dan memeluk tubuh Dito.
__ADS_1