
"Aku melepasmu untuk membuat mu kembali padaku Qilla, Percayalah cinta akan selalu kembali pulang kerumahnya. Sejauh apapun dia pergi, pasti dia akan kembali lagi. Rumah ini akan tetap menjadi rumah kita, rumah pertama dan terakhir untuk kita. Aku melepasmu dan akan tetap menunggu dirimu. Jika suatu hari nanti, kau lihat aku bersama wanita lain. Wanita itu hanya mendapatkan tubuhku tidak dengan hatiku. Karena aku tak akan sanggup menghapus dirimu yang terlajur menjadi ratu di hati ku." Ucap Bram yang kemudian ******* bibir Aqilla dengan lembut dan sangat lembut.
Mereka saling bertukar saliva dengan ditemani deraian air mata.
"Aku mencintai mu Mas, masih sangat mencintai mu. Maafkan aku yang memilih untuk pergi. Jika memang Tuhan menuliskan kaulah jodoh terakhir untukku, aku akan kembali lagi berjalan kerumah ini." batin Aqilla ketika mereka saling bertukar saliva untuk terakhir kalinya.
Mereka begitu menikmati ciuman terakhir mereka, sebelum mereka benar-benar berpisah. Rumah ini menjadi saksi bisu kisah cinta mereka. Dimana mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan di rumah ini dan berpisah di rumah ini pula.
Bram melepasan pangutannya dan menghapus salivanya yang membasahi bibir Aqilla. Ia tersenyum ketika ia tahu Aqilla menciumnya bukan karena sebuah nafsu tapi dari sebuah cinta yang terdalam dihatinya.
"Jaga dirimu saat tak lagi bersama diriku, ingatlah selalu kata-kata ku, tak selamanya yang kau lihat adalah sebuah kebenaran Qilla. Berusahalah berdamai pada dirimu sendiri setelah semua dendam mu terlampiaskan. Biarkan tangan Tuhan mengarahkan hati mu. Jangan bohongi hati mu, karena aku yakin kamu tak akan sanggup melewati hidup mu selanjutnya, jika terus berbohong seperti ini." ucap Bram.
Bram meraih tangan kanan Aqilla, mengambil cincin pernikahan yang masih Aqilla kenakan hingga saat ini. Aqilla menatap jari manisnya dengan tatapan nanar. Ia menggeleng ketika cincin itu berusaha Bram lepas dari jemarinya.
Bram menatap mata Aqilla yang kembali meneteskan air mata.
"Kau ragu? Biarkan cincin ini tersimpan di rumah ini. Kau bisa menggunakannya kembali, ketika kau memutuskan kembali pada ku Qilla." ucap Bram yang berusaha tegar meski hatinya tak sanggup.
Aqilla menarik tangannya, ia dekap tangan kanannya di dalam dadanya. Seakan tak rela Bram melepaskan cincin yang tak pernah Aqilla lepaskan selama ini.
Aqilla terus menggelengkan kepalanya ketika Bram berusaha meraih tangannya dan kembali mencoba melepaskan cincin pernikahan mereka.
"Mas...Mas Bram jangan!" Cicit Aqilla yang goyah hatinya. Kini ia tak ingin berpisah dengan Bram.
"Kita harus berpisah Qilla, selesaikan apa yang ingin kau selesaikan. Kembalilah jika kau ingin kembali pada ku. Aku akan tetap menerima mu dalam keadaan apapun." ucap Bram yang berusaha untuk kuat dan tegar.
__ADS_1
Aqilla menggeleng dan terus saja menangis. Bram memeluknya, berusaha memberikan kekuatan pada wanita yang sangat ia cintai. Membiarkan Aqilla menangis hingga tangis Aqilla kembali mereda.
Bram menatap dalam wajah Aqilla, sebelum ia mulai mengucapkan kalimat talak untuk istri yang sangat ia cintai itu. Bram menarik nafasnya panjang dan menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Aqilla Mahendra istriku, dengan ini aku talak tiga engkau, dan mulai detik ini kau bukan lagi istriku." ucap Bram dengan tegas yang diakhiri dengan setitik air mata yang membasahi pipinya.
Tangis Aqilla pecah, ia berteriak sekuat tenaga, suara teriakan Aqilla hingga terdengar oleh Dito yang masih setia berdiri di depan pagar.
"Aqilla ada apa dengan mu?" tanya Dito pada dirinya sendiri.
Tubuh Aqilla merosot ke atas lantai. Bram meninggalkan Aqilla, ia berjalan menuju meja rias yang masih tertata dengan rapih. Ia memasukkan kembali cincin pernikahan mereka ke dalam kotak perhiasan.
Bram melirik Aqilla yang menangis tersedu-sedu diatas lantai. Alih-alih berjalan menghampiri Aqilla. Bram malah berjalan melewati tubuh Aqilla begitu saja. Bram menghentikan langkannya di ambang pintu.
"Tak hanya dirimu yang sakit Qilla, tapi aku pun juga ikut sakit karena keegoisanmu yang tak mau berdamai dengan dirimu dan dendam mu yang tak berujung." batin Bram.
"Pengawal, bawa dia keluar dari rumah ini setelah saya pergi!" perintah Bram yang membuat hati Aqilla terluka.
Ia menatap nanar punggung Bram yang pergi meninggalkannya.
"Aaaaaaa...." pekik Aqilla sekali lagi. Ia tak bisa menahan gejolak kesedihannya saat ini. Hatinya terasa mati saat ini.
Tersiksa. Ya, perpisahan dengan Bram dengan cara seperti ini membuat Aqilla tersiksa. Andai Bram tak membawanya kerumah ini, tak akan ia merasakan rasa sakit sesakit ini.
Bram pergi meninggalkan rumah yang ia Claim sebagai rumah dirinya dan Aqilla dengan mobil yang berbeda.
__ADS_1
"Rapikan mobil ini ke dalam garasi! Suatu saat jika ia kembali ke rumah ini, berikan mobil ini padanya." perintah Bram pada kepala pengawal di rumahnya.
Dito melihat Bram keluar dengan mobil yang berbeda. Ia mengenakan kaca mata hitam guna menutupi mata sembabnya. Mobil Bram keluar melewati Dito begitu saja.
Dan tak lama kemudian, Aqilla keluar dengan di tuntun beberapa pengawal. Wajah dan penampilannya sudah berantakan. Riasan wajahnya sudah tak karu-karuan.
"Apa yang terjadi pada mu, Qilla? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk terhadap mu?" tanya Dito yang begitu khawatir dengan keadaan Aqilla.
'Tidak, dia tak melakukan apapun, kami hanya bertengkar mulut, dia tak melakukan kekarasan fisik pada ku." jawab Aqilla dengan senyum keterpasaannya. Ia berusaha baik-baik saja di depan Dito.
"Dia sudah menceraikan ku," tambah Aqilla ketka tatapan mata Dito seakan bertanya bagaimana hasil pertemuan dirinya dan Bram di dalam.
Dito menerbitkan seulas senyum bahagia yang mengoyakkan hati Aqilla. Sesungguhnya Dito sedang bahagia di atas kesedihan yang Aqilla sembunyikan.
Dito langsung saja memeluk Aqilla dan berkata, "Aku akan segera menikahi mu," ucap Dito saat memeluk Aqilla.
Mendengar ucapan Bram, Aqilla menggigit bibir bawahnya dan menitikan air matanya. Di sepanjang perjalanan Aqilla lebih banyak diam dan pura-pura tertidur padahal ia sedang menghindari perbincangan dengan Dito. Sungguh saat ini Aqilla butuh tempat untuk menenangkan dirinya.
Dito yang percaya jika Aqilla sedang tertidur terdengar menghubungi seseorang.
"Tolong urus perceraian ku dengan Cella hari ini juga, blokir semua perbankan miliknya. Jangan izinkan dia mengambil satupun perhiasan yang ada di mansion. Dan satu lagi tarik seluruh saham kita di perusahaan milik Tuan Mahendra." perintah Dito pada seseorang melalui sambungan teleponnya.
Aqilla yang mendengar ucapan Dito pada lawan bicaranya hanya bisa diam dan menitikan air mata.
"Kau sengaja menyisakan mereka, agar kau mendapatakan diriku Mas, kau sungguh pintar memainkan strategi ini." batin Aqilla.
__ADS_1