
Di depan pintu, saat Bram ingin keluar dari ruang kerja Aqilla. Bram bertemu dengan Dito. Keduanya saling menantap tajam satu sama lainnya.
"Dia masih istriku, kau harus ingat itu." Bisik Bram di telinga Dito yang ingin masuk ke dalam ruang kerja Aqilla.
Ucapan Bram sama sekali tak ditanggapi oleh Dito. Pintu ruang kerja yang terbuka menampilkan Aqilla yang tengah menangis tersedu-sedu dibalik meja kerjanya, membuat Dito segera masuk dan menghampiri wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang selama ini ia perjuangkan hatinya.
"Qilla, sudah jangan menangis, ada aku di sini. Sudah sayang, semua akan baik-baik saja percayalah." Ucap Dito yang sudah menarik tubuh Aqilla ke dalam pelukkannya.
Bram merasa begitu kerdil melihat ketidak berdayaannya sebagai seorang suami. Harusnya dialah yang menenangkan tangis pilu sang istri akibat kekejaman kedua orang tuanya, bukan pria lain yang menjadi duri dalam daging di pernikahannya.
Tak ingin hatinya terus merasakan sakit, Bram meneruskan langkah kakinya pergi meninggal rumah sakit Betrania. Di dalam mobilnya ia kembali menghubungi Sandra untuk melakukan janji temu dengan Aqilla pada jam dua siang nanti.
Mobil yang di kendarai Bram kembali menuju apartemen Nani. Ia kembali meluapkan segala kesedihannya dengan bercinta sepajang hari ini dengan Nani. Berbagi peluh dan lenguhan bersama disaat sesi permainan membuat Bram terus mengehentakan pinggulnya hingga mencapai kepuasananya.
Disaat Nani menerima sentuhan Bram yang memabukan, Nani pun menahan kesedihannya, Bagaimana tidak, ketika Bram berkali-kali berada di titik puncak pelepasannya, ia selalu mengerang nama Aqilla dan Aqilla lagi.
Hal ini membuat Nani yang mendengarnya terasa ditancapkan ribuan pisau di hatinya. Hati gadis berusia sembilan belas tahun yang telah lancang menaruh hati pada Bram. Hatinya belum begitu tangguh seperti hati Aqilla. Aqilla sudah cukup berpengalaman dalam memakan asam garam kehidupan yang selalu tak berpihak kepadanya.
Saat mata Bram terpejam, Nani mulai mengamati wajah tampan pria yang usianya jauh di atas dirinya.
"Manusia terlihat bodoh ketika sedang mencintai memang, rela berkorban dan tersakiti hanya demi kebahagiaan orang lain. Jika perasaan mu padanya hanya membuatmu terluka, kenapa kau tak meninggalkannya saja Om, dan coba buka hati mu untuk orang lain yang bersedia mati dan tersakiti oleh rasa cinta ini. Aku memang wanita hina tapi aku punya cinta tulus untuk mu,Om." Gumam Nani saat ia memperhatikan Bram yang tertidur karena kelelahan.
"Aku tak ingin ditinggalkan oleh mu Om, akan aku tempuh cara dimana kau tak akan meninggalkan ku, aku nyaman bersama mu, meski hatiku selalu kau sakiti. Aku sudah terbiasa dengan luka yang kau torehkan, asal kau masih bersama ku, aku sudah cukup bahagia." Gumamnya lagi yang mulai memandangi laci nakas, dimana pil kontrasepsi yang sudah dua hari ini tak ia minum.
Nani sengaja melakukannya, ia ingin segera hamil dan mengikat kaki Bram agar tak meninggalkannya dengan hadirnya anak di tengah hubungan tak sehatnya. Entah apakah perasaan Nani terhadap Bram tulus karena cinta atau hanya karena sebuah harta dan kenyamanan dengan gelimangan kemewahan yang diberikan Bram padanya.
__ADS_1
Waktu berjalan begitu cepat malam pun datang, Aqilla kembali pulang ke ruang rawat Tita, tidak ada sosok Cella datang setelah kehadiran Aqilla di rumah sakit ini. Timbul tanda tanya besar pada diri Aqilla, kemana Cella yang malah menghilang bak di telan bumi setelah kedatangannya kembali di negri ini, kembali di kehidupan Dito dan Tita.
Tentu saja jawabannya Cella tengah menikmati hidupnya yang bebas di luar sana. Bersenang-senang dengan teman-temannnya. Ia begitu menikmati hidupnya, meski ia merasa hatinya kosong. Tak mendapatkan cinta dari suami dan anaknya, meski ia telah berubah menjadi sebuah rasa sakit tersendiri di hatinya.
Apalagi perubahannya ini diuji oleh takdir, dengan penyakit berat yang diidap sang putri. Hidupnya terasa terikat dan terbelenggu dengan keharusannya merawat putrinya. Membuatnya tak sabar dan ingin menyerah. Jika seorang ibu selalu berdoa untuk kebaikan dan kesembuhan putrinya, namun sungguh berbeda dengan Cella. Ia selalu mendoakan Tita segera dijemput sang Maha Kuasa, agar tak menjadi beban di dalam hidupnya. Sungguh ironi bukan.
"Selamat malam." Sapa Aqilla yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Tita.
Ia berjalan mendekati ranjang tidur Tita setelah sebelumnya ia melepaskan jas putih kebesarannya sebagai seorang Dokter spesialis jantung. Ia Mencium dan memeluk tubuh gadis kecil itu. Begitu pula dengan Tita yang membalas peluk dan cium yang diberikan oleh Aqilla padanya.
Mata Aqilla menyipit ketika Dito sedang bekerja begitu serius di balik layar laptopnya, tepat di sofa yang berada di pojok ruangan. Dito seperti tak terusik dengan kehadiran Aqilla di sana.
"Tante bersih-bersih dulu baru kita makan ya Tita sayang," ucap Aqilla yang dijawab anggukan kepala dan senyuman dari Tita.
Terlihat Bi Lastri sedang merapikan berbagai menu makanan yang di pesan Dito lewat aplikasi online. Selesai mandi, Aqilla tak.lagi melihat Bi Lastri, karena Bi Lastri sudah di jemput oleh sopir untuk kembali ke kediaman Dito yang kini hanya di huni oleh Cella dan beberapa pelayan. Sedang Tita, ia melihat Tita sudah tertidur lebih cepat dari sebelumnya.
"Sudah tadi sama aku, dia mau makan duluan karena sudah mengantuk. Hari ini dia lelah karena banyak menghabiskan waktunya bersama ku." Jawab Dito yang segera mematikan laptopnya.
"Benarkah? Hummm kamu memang sosok Papi yang baik." Puji Aqilla yang selalu membuat hati Dito melayang ke udara.
"Kamu juga, sosok ibu pengganti yang baik dan cocok untuk ku dan Tita," balas Dito yang memuji Aqilla.
Dito berjalan mendekati Aqilla yang sedang menyisir rambutnya yang basah. Melihat rambut Aqilla yang basah dan leher jenjang Aqilla yang terlihat dari baju tidur yang memampangkan bagian punggung dan dadanya. Membuat junior Dito berdenyut di dalam sana. Ia ingin kembali merasakan kehangatan diatas ranjang bersama Aqilla.
"Aku makan dulu ya Mas, perutku perih belum makan sejak siang tadi." Ucap Aqilla yang mendekati meja makan bundar yang ada di pojok kiri ruangan.
__ADS_1
"Iya makan lah, aku sudah makan tadi bersama Tita."
"Huum baiklah, malam ini aku makan sendiri, karena kalian tak menunggu ku." Ucap Aqilla yang mulai menyendokkan nasi dan beberapa lauk dari restoran seafood yang Dito pesan.
Selesai makan, Dito dan Aqilla, menikmati suasana malam yang sunyi sepi di balkon kamar rawat Tita. Pemandangan ibu kota terlihat jelas di sana dengan nampaknya gedung pencakar langit.
Awalnya Dito tengah menyesap sebatang rokok menghilangkan kejenuhannya menunggu Aqilla selesai makan. Ia juga berusaha menidurkan juniornya yang mengeras hanya karena melihat rambut Aqilla yang basah. Aqilla datang memeluk tubuh Dito dari belakang.
"Berhentilah merokok demi aku Mas!" Pinta Aqilla yang menenggelamkan kepalanya di punggung Dito.
"Aku akan berhenti ketika kamu sudah menjadi milikku seutuhnya Qilla." Jawab Dito yang mengepulkan asam rokoknya ke udara.
"Aku sudah sepenuhnya milik mu, hanya statusku yang belum berubah." Balas Aqilla yang membuat Dito membuang puntung rokok ya yang masih cukup panjang.
Dito melepaskan tangan Aqilla yang melingkar di pinggangnya. Ia membalikkan tubuhnya, memandangi wajah cantik Aqilla yang di sinari cahaya rembulan. Dito sengaja mematikan lampu Balcon, karena memang saat menenangkan diri, Dito sangat suka dengan suasana gelap.
Dito menarik tengkuk Aqilla, mendekatkan wajah Aqilla ke wajahnya. Aqilla memejamkan matanya ketika Dito menarik tengkuknya. Seakan paham apa yang akan dilakukan Dito selanjutnya. Aqilla menunggu Dito menyapu bibirnya dengan *******,sesapan dan decapan.
Namun sebelum menyapu bibir indah Aqilla, Dito malah mengatakan sesuatu yang ingin membuat dirinya yakin dengan hati Aqilla saat ini.
"Katakanlah aku ini bukan hanya sekedar pemuas ranjangmu Qilla, katakanlah jika hatimu mencintai ku!" Pinta Dito yang juga memejamkan matanya. Ia menyatukan kedua kening dan hidung mancung mereka.
"Aku mencintai mu Mas, aku tak mau jauh lagi dari dirimu, aku tak mau lagi hidup sendiri tanpa mu. Teruslah bersama ku, teruslah menjadi pelindung ku, biarkan aku bersandar di hidupmu selamanya." Ucap Aqilla yang membuat Dito tersenyum dengan mata yang terus terpejam.
Ia mulai menempelkan bibirnya pada bibir Aqilla. Menyesap lembut dengan air mata kebahagiaan yang menetes dari keduanya. Ciuman lembut itu semakin lama semakin memanas ketika Dito menarik pinggang Aqilla agar menempel pada juniornya yang menegang.
__ADS_1
Suara decapan demi decapan memecahkan keheningan malam, seakan saling bersaing dengan suara jangkrik yang berderik. Tanpa keduanya sadari, seorang pria tengah berdiri di dalam ruang rawat putrinya. Menggigit bibirnya dan meneteskan air mata kesedihannya. Ia melihat kembali perselingkuhan istri keduanya yang sedang dimabuk cinta dengan rival bisnisnya.
"Kamu terlalu jauh melangkah pergi Aqilla, aku akan membawa mu kembali meski aku harus memaksa mu dan menyakitimu. Kamu adalah milik ku." Ucap Bram yang kemudian pergi meninggalkan ruang rawat Tita.