Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 52


__ADS_3

Di sebuah pemakaman elit jenazah orang tua Bram maupun Aqilla di kebumikan. Mereka berada di tempat yang tak jauh berbeda sore ini. Baik Bram dan Aqilla tak lagi bersedih, keduanya sama-sama memasang wajah datar dan dinginnya.


Calista yang sudah dalam perjalanan pergi meninggalkan kota ini, memutar kembali arah tujuannya saat iaa mengetahui kedua mertua dan ayah kandungnya telah pergi untuk selama-lamanya.


Dia tak muncul saat media tengah menyorot kepergian kedua mertuanya secara bersamaan itu. Ia lebih dahulu mendatangi acara pemakaman Mahendra. Ia menghampiri Aqilla yang berdiri tepat di depan liang lahat Mahendra.


"Dia mengakui diriku sebagai putrinya, tapi rasa cinta dan sayangnya hanya milik mu. Dia pernah datang dan memohon padaku untuk melepaskan Bram untuk mu. Aku tak mau melepas Bram, karena aku mencintainya, sangat mencintainya. Kenapa nasib mu lebih beruntung dari diriku yang hanya sebatang kara ini Qilla?" bisik Calista yang sama sekali tak membuat Aqilla melirik keberadaan Calista di sampingnya.


Aqilla hanya diam tak menanggapi ucapan Calista. Raganya memang sedang berdiri di depan liang lahat sang Daddy, tapi hati dan pikiraannya berada bersama Bram yang ada tak jauh dari posisinya saat ini. Mata Aqilla terus memandangi Bram yang sedang menyaksikan prosesi pemakaman kedua orang tuanya.


"Aku merasa takdir sedang mempermainkan hidup kita Qilla. Kita bersaudara, lahir dari rahim yang berbeda dan ayah yang sama. Sama-sama tak mendapatkan perhatian dari Mahendra dan ingin mendapatkan perhatian dan cinta kasih dari pria yang sama. Sayangnya lagi-lagi aku kurang beruntung. Bram tak menoleh sedikit pun pada ku. Sebesar apapun aku berjuang, tak sama sekali membuatnya melihat diriku. Dia sangat mencintaimu. Sekarang, aku relakan dia untuk mu. Aku doakan kau akan bahagia bersaamanya. Maafkan aku yang pernah menjadi penghalang diantara kalian." ucap Calista yang kemudian memundurkan langkahnya bersama sang putra.


Namun baru satu langkah kakinya pergi, Aqilla menarik tangan Calista. "Jangan pergi Kak! Tunggulah sampai acara pemakaman Daddy selesai." pinta Aqilla pada Calista.


Aqilla memanggil Calista dengan sebutan Kakak. Calista tersenyum getir mendengar Aqilla memanggilnya dengan sebutan kakak. Tanpa kata-kata Calista langsung memeluk tubuh Aqilla dari belakang. Calista menangis tersedu-sedu saat memeluk Aqilla.


"Maafkan aku, apa masih pantas diriku ini kau panggil Kakak, setelah aku bersikap egois merebut kebahagiaan adikku sendiri?" ucap Calista dengan tangisnya. Ia tak perduli dengan banyaknya orang di sana.


Lagi-lagi Aqilla hanya diam dan tak menanggapi ucapan Calista. Ia hanya membiarkan Calista menangis dan meluapkan isi hatinya di pundaknya.


"Aku ingin pergi, mencari jalan untuk aku mendapatkan kebahagiaan ku sendiri. Tolong maafkan aku! Semua yang terjadi pada mu, ada kaitannya dengan ku, Qilla. Andai aku tak memiliki perasaan pada Bram, kau tak akan menderita seperti saat ini." Tutur Calista yang membuat Aqilla menitikan air mata dalam diamnya.


Bayang-bayang masa lalu kembali terlintas di benak Aqilla. Dimana ia terpuruk seorang diri setelah mengalami pemerkosaan dan malah melihat pria yang dicintainya menikah dengan seorang wanita yaanng ternyata adalah kakak tirinya,meskipun saat itu dia belum mengetahui jika Calista adalah kakak tirinya.


Semua pelayat yang datang mulai meninggalkan Aqilla, Calista dan putranya. Begitu pula dengan Adisti dan putranya. Ia meninggalkan kedua anak tirinya yang masih berada di pusara sang suami.

__ADS_1


"Pergilah! Jika kau mau pergi Kak, aku tak akan mengganggu hidup mu. Carilah kebahagiaan mu! Jika saatnya tiba nanti, tolong jangan usik kebahagiaan ku. Karena tak mudah bagiku untuk mendapatkan semua ini. Luka yang kalian buat di hidupku sampai saat ini belum kering apalagi sembuh." ucap Aqilla dengan mata yang masih berlinang air mata.


Aqilla bicara tanpa menatap wajah Calista sedikitpun. Calista pergi meninggalkan Aqilla setelah ia mengecup pipi adik tirinya ini untuk pertama daan terakhir kalinya. Kecupan yang Calista berikan membuat Aqilla memejamkan matanya dan menitikan air matanya.


"Andai kita taak mencinta orang yang sama. Andai kita taak dipertemukan dengan jaalaan takdir yang seperti ini. Mungkin kita akan menjadi saudara yang saling menyayangi satu sama lainnya dan aku tak akan merasa sendiri laagi di dunia ini." Gumam Aqilla di dalam hatinya.


Mata Aqilla terus menatap punggung Calista dan putranya yang berjalan menghampiri Bram yang tengah berdiri diantara makam kedua orang tuanya.


"Untuk apa kau datang ke sini? Aku tak butuh rasa belasungkawa mu." Ucap Bram yang malah pergi meninggalkan Calista dan putranya. Kehadiran mereka benar-benar diacuhkan oleh Bram.


Jika kalian bertanya kemana Dito. Dito tak menghadiri pemakaman Mahendra maupun Yohannes. Ia masih berada di perusahaannya. Ia sengaja tak mendamping Aqilla. Semua orang pun tahu kepergian Mahendra, dialah yang menyebabkannya.


Matahari telah kembali keperaduannya. Aqilla baru saja melangkahkan kakinya meninggalkan area pemakaman. Ia melajukan mobilnya tak tentu arah. Sedang Dito di perusahaan terus menatap layar ponselnya,melihat kemana arah mobil Aqilla melaju.


Di perjalanan Aqilla menghubungi Dito yang sedang mengamati pergerakan mobil yang ia berikan pada Aqilla.


"Perusahaan." jawab Dito singkat dan datar.


"Jemput aku." pinta Aqilla yang menutup sambungan teleponnya begitu saja.


Aqilla menghentikan kendaraannya di sebuah rest area. Bram yang mengikuti laju kendaraan Aqilla terus memperhatikan dari kejauhan apa yang dilakukan Aqilla saat ini.


Aqilla keluar dari mobilnya tanpa membawa apapun. Tak membawa kunci mobil ataupun ponselnya. Ia berjalan kebelakang mobilnya. Seperti sedang mencari sesuatu. Saat ia menemukan sesuatu yang ia cari. Aqilla melangkahkan kakinya dengan cepat menuju arah tujuannya itu.


Ceklek [Pintu mobil Bram terbuka].

__ADS_1


Bram tersenyum saat Aqilla menemukan dirinya yang mengikuti mobilnya.


"Tolong pinjam ponsel mu, Mas." ucap Aqilla yang datang-datang langsung meminjam ponsel pada Bram.


Bram langsung memberikannya dan Aqilla segera menghubungi Angel dengan ponsel Bram.


"Hallo Ngel, berapa password kunci apartemen mu?" tanya Aqilla pada Angel di sambungan teleponnya. Angel memberikan kode password kunci apartemennya.


"Barang-barang ku sudah ada di sana?"


"Mobilnya masih bisa digunakan kan?"


"Ok. Aku sudah melakukan apa yang kau perintahkan Ngel, aku hanya tinggal menunggu dia datang,untuk membuktikan perkataan mu." Itulah percakapan yang di dengar oleh Bram.


Bram menerima ponselnya kembali saat Aqilla mengembalikannya.


"Apa kau tak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Bram sembari memasukkan ponsel kedalam saku celananya.


"Aku tak bisa bergerak leluasa jika masih menggunakan ponsel dan mobil itu. Angel pernah lihat Mas Dito memasang sesuatu pada mobil itu." terang Aqilla yang membuat Bram tersenyum.


"Dan kau sedang membuktikannya?" tanya Bram yang malah memberikan sebuah kartu ATM pada Aqilla.


"Gunakan ini saat kau membutuhkannya, pinnya adalah tanggal ulang tahun mu. Sekarang pergilah, dia pasti akan sampai sesaat lagi."


Bram membukakan pintu untuk Aqilla segera pergi dari mobilnya. Tubuh Bram yang maju mendekati tubuh Aqilla untuk membukakan pintu, membuat Aqilla dapat mencium aroma tubuh Bram yang begitu menenangkan.

__ADS_1


Ingin memeluk atau pun mencium, tentu saja Aqilla ingin, namun ia mengetahui betul Bram tak mau di sentuh oleh Aqilla, jika mereka tidak memiliki ikatan apapun. Bagi Bram Aqilla tidak sama dengan wanita lain yang ia temui di luar sana. Aqilla berbeda dan spesial di matanya.


Aqilla pun pergi meninggalkan mobil Bram. Menyimpan baik-baik keinginannya. Ia kembali masuk ke dalam mobil pemberian Dito. Menunggu kedatangan Dito yang akan membuktikan perkataan Angel padanya.


__ADS_2