Dendam Wanita Sang Tuan Muda

Dendam Wanita Sang Tuan Muda
Ucapan Dan Pemikiran Yang Tidak Sejalan


__ADS_3

Terdengar Naya menghembuskan nafasnya dengan kasar di seberang sana


"Aku jadi sedikit menyesal bercerita tentang masalah ini sama kamu Lin, aku ga ada niat sedikitpun untuk membuat kamu menemui mantan suami kamu itu." ucap Naya lirih


Lina pun tertawa kecil agar tak membuat Naya menjadi khawatir


"Keputusan aku ini ga ada sangkut pautnya dengan kamu kok Nay, aku juga merasa kalau permasalahan di antara kami memang harus di selesaikan dengan secara jelas." ucap Lina


Beberapa kali Naya mempertanyakan apakah Lina benar-benar sudah siap untuk bertemu dengan mantan suaminya tersebut? tetapi Lina selalu memberikan jawaban yang meyakinkan bahwa keadaan diri dan hatinya sudah baik-baik saja


"Ya sudah kalau begitu nanti aku sampaikan sama mantan suami kamu itu Lin"


"Terima kasih ya Nay, aku juga mau minta maaf atas perbuatan mas Aldi." ucap Lina dengan tulus


Mereka pun mulai memutuskan sambungan teleponnya setelah merasa cukup puas berbincang, saat itu Lina langsung termenung dan entah mengapa semua kenangan manis dan pahit yang pernah dia lalui bersama Aldi terlintas dalam benaknya


"Kenapa mas? kenapa kamu masih mencari aku? apa belum cukup rasa sakit yang kamu berikan terhadap aku mas?" gumam Lina lirih


Air mata Lina pun mulai menetes dengan sendirinya, dia menggunakan kedua tangannya untuk menutup wajahnya. Lina menumpahkan semua beban di dalam hatinya melalui air matanya, tapi Lina tak menyadari bahwa posisinya saat itu bisa terlihat dengan jelas oleh sang tuan muda yang sedang berada di balkon depan kamarnya


Tanpa Tristan sadari ternyata sedari tadi dia terus memperhatikan gerak-gerik Lina dengan seksama, dia pun tersenyum dingin saat melihat tubuh Lina mulai bergetar yang menandakan bahwa Lina sedang menangis


"Ternyata perempuan itu bisa menangis juga? Saya pikir dia hanya bisa menunjukkan taringnya saja," batin Tristan sambil tersenyum dingin


Tristan pun meminum wine yang berada di dalam gelasnya dan tanpa dia sadari pandangan matanya tak beralih sedikit pun dari Lina


"Sial!! Kenapa saya jadi penasaran dengan orang yang baru saja menghubungi dia?!! Jangan-jangan dia baru saja berkomunikasi dengan suaminya!!" batin Tristan sambil mengeraskan rahangnya


Tak lama kemudian ada sepasang tangan yang memeluk tubuh Lina dengan erat dan orang tersebut adalah Amira, Lina mengangkat wajahnya yang telah di banjiri oleh air mata


Deg..

__ADS_1


Entah mengapa saat itu hati Tristan benar-benar merasa tidak nyaman saat melihat wajah Lina yang sudah di banjiri oleh air mata


"Kamu ngapain di sini sendirian? kalau ada masalah kamu bisa cerita sama aku, anggap aja aku kakak kamu atau teman baik kamu." ucap Amira dengan lembut dan senyuman hangat


Lina pun langsung memeluk tubuh Amira dan menangis dengan hebat di dalam pelukan Amira, dengan setia Amira terus memeluk tubuh Lina sampai dia merasa lebih tenang


"Maaf ya, kamu jadi melihat keadaan aku yang seperti ini." ucap Lina dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh tangisan


"Kamu ngomong apa sih? bukannya kita sudah berteman dekat," ucap Amira dengan lembut


Lina pun tersenyum tipis walaupun terkadang sesekali air matanya masih tetap terjatuh, sebenarnya Amira langsung mencari keberadaan Lina setelah Lina cukup lama meninggalkan kamar tersebut. Dia pun menemukan Lina di taman depan dan melihat Lina yang baru saja mengakhiri percakapannya dalam keadaan Lina baik-baik saja


Tapi saat Amira akan meninggalkan Lina tiba-tiba saja dia mulai mendengar suara tangisan, sebagai sesama wanita Amira bisa merasakan kesedihan yang Lina rasakan saat itu. Dengan cepat dia memeluk tubuh Lina dengan erat, di sisi lain sang tuan muda langsung melarikan diri ke dalam kamarnya begitu melihat tangisan Lina yang pecah


"Aku benar-benar harus menjauh dari perempuan itu!! perempuan itu benar-benar membuat aku hampir kehilangan akal sehatku!! bisa-bisanya tadi aku sempat berpikiran untuk berlari ke sana dan memeluk dia!!" gerutu Tristan di dalam hatinya


"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Amira


Lina menjawab dengan anggukan kepalanya


Lagi-lagi kelembutan suara Amira berhasil menenangkan hati Lina, Lina pun menceritakan semuanya tanpa apa yang tertinggal sedikitpun kepada Amira


"Sebaiknya kamu pikir-pikir dulu, saran dari aku jangan menemui dia kalau ternyata hati kamu belum siap untuk bertemu dengan dia. Tapi kalau kamu sudah merasa yakin memperjelas semuanya adalah pilihan terbaik," ucap Amira di akhiri dengan senyuman hangat


"Terima kasih ya," ucap Lina dengan tulus


"Bukannya sekarang kita sudah menjadi teman? untuk apa mengucapkan terima kasih dengan teman sendiri?"


Mereka berdua kembali ke paviliun belakang dan memutuskan untuk segera beristirahat, sedangkan sang tuan muda masih di buat tak tenang walaupun sudah menghabiskan seluruh isi minuman di dalam botolnya. Entah mengapa tangisan Lina yang pecah selalu melintas di dalam benak sang tuan muda, dengan perasaan jengkel dia pun segera menghubungi Dian


"Selamat malam tuan muda"

__ADS_1


"Mulai detik ini, berikan larangan untuk perempuan itu keluar dari paviliun belakang selama saya berada di rumah ini!!" ucap Tristan penuh penekanan


"Masalah apa lagi yang sudah kamu lakukan Lina? lama-lama saya bisa terkena serangan jantung karena memikirkan kamu," batin Dian


"Apa saya boleh mengetahui kesalahan yang telah dia lakukan tuan muda?" tanya Dian


"Maksud kamu?" tanya Tristan balik


"Saya berencana untuk memberhentikan dia bekerja dari tempat ini seandainya dia membuat masalah yang serius dengan tuan muda," jelas Dian dengan serius


Tristan mengangguk-anggukkan kepalanya


"Benar juga, sepertinya itu adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Saya tidak ingin merasakan perasaan aneh ini lagi saat melihat dia," batin Tristan


"Tidak perlu sampai seperti itu," ucap Tristan


Tristan pun langsung menepuk jidatnya sendiri karena apa yang dia ucapkan dan pemikirannya yang tidak sejalan


"Kalau seperti itu saya akan merasa bersalah telah memutuskan rezeki seseorang hanya demi keegoisan saya sendiri, biarkan dia tetap bekerja di tempat ini dan jangan biarkan dia berkeliaran dengan bebas di rumah ini." ucap Tristan dengan tegas


"Baik tuan muda"


Tristan langsung memutuskan sambungan teleponnya dan membuat Dian sakit kepala karena memikirkan hal tersebut


"Sejak kapan anda perduli orang lain tuan muda? sikap anda yang seperti ini membuat saya semakin khawatir dengan anak itu," batin Dian


Di rumah utama sang tuan masih terus mengingat ketika tangisan Lina mulai pecah dan membuat sang tuan tanpa sadar mengeraskan rahangnya


"Apa dia sedang bertengkar dengan suaminya?" gumam Tristan


Tiba-tiba saja Tristan tersadar dengan hal tersebut

__ADS_1


"Sial!! bisa-bisanya tanpa sadar saya memikirkan perempuan itu lagi!! sepertinya ada yang salah dalam otak saya saat ini, saya harus secepatnya menyelesaikan ini semua. Saya tidak boleh membuang waktu saya untuk hal yang sia-sia seperti ini!!" batin Tristan sambil mengeraskan rahangnya


Tristan memilih untuk merebahkan tubuhnya dan memaksa menutup kedua bola matanya agar bayangan tentang Lina yang sedang menari bebas di dalam benaknya segera menghilang


__ADS_2