Dendam Wanita Sang Tuan Muda

Dendam Wanita Sang Tuan Muda
Menunggu Kamu


__ADS_3

Entah karena Lina sudah bisa merasa nyaman di dalam pelukan sang tuan muda atau karena alasan lain yang pasti pagi itu Lina masih terlelap di alam mimpi saat sang tuan muda membuka kedua bola matanya, Tristan pun memindahkan kepala Lina yang berada di atas salah satu tangannya secara perlahan dan meninggalkan tempat tidur untuk melakukan semua rutinitas paginya. Saat sang tuan muda kembali ke dalam kamar tersebut Lina sudah mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan telah membersihkan diri


"Aku bersih-bersih dulu ya," ucap Tristan


Lina hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, mereka akan sarapan bersama dan Tristan menunggu hingga Lina meminum obatnya baru dia bersiap untuk pergi ke kantor. Tristan keluar dari ruang ganti dengan pakaian yang sudah rapi dan sebuah dasi di tangannya, Tristan menyodorkan dasi tersebut ke arah Lina setelah dia berada tepat di hadapan Lina


"Apa kamu mau aku memakaikan kamu dasi?" tanya Lina


"Apa kamu merasa keberatan untuk melakukan hal itu?"


Lina yang tak ingin memperpanjang masalah mengambil dasi tersebut dan mulai bangkit dari duduknya, sang tuan menurunkan sedikit pundaknya agar Lina lebih mudah untuk melakukan hal tersebut


"Maaf ya karena aku harus meninggalkan kamu hari ini, aku harus pergi ke kantor karena hari ini ada pertemuan yang cukup penting." jelas Tristan


"Bukan masalah besar," jawab Lina sambil terus memasangkan dasi


Tanpa Lina ketahui saat itu sang tuan muda tersenyum tipis


"Aku benar-benar sudah gila!! Bisa-bisanya aku membayangkan kamu sudah menjadi istri aku dan kamu akan selalu memasangkan dasi aku setiap paginya," batin Tristan


"Sudah selesai," ucap Lina


Tiba-tiba saja Lina mendapatkan hadiah berupa sebuah ciuman lembut di keningnya


"Itu hadiah untuk kamu karena kamu sudah menjadi wanita yang penurut," ucap Tristan dengan lembut


Lina yang tak ingin mengeluarkan senyuman palsu memilih untuk memasang wajah datar, sedangkan sang tuan muda terlihat akan segera meninggalkan kamar tersebut dan Lina pun mengikuti langsung kaki sang tuan muda sampai di depan pintu kamar tersebut


Saat Tristan membuka pintu tiba-tiba saja Lina menarik tangan kanan Tristan dan mencium punggung tangan Tristan seperti yang selalu dia lakukan kepada sang mantan suami, Tristan yang merasa terkejut pun hanya membeku dengan kedua bola mata yang membulat dengan sempurna


"Maaf!! Aku ga ada niat untuk bersikap lancang, aku...." ucap Lina dengan wajah panik


Tristan pun tersenyum hangat


"Mulai saat ini kamu harus selalu melakukan hal seperti itu saat aku akan pergi ataupun aku baru pulang," ucap Tristan dengan lembut

__ADS_1


"Apa kamu yakin?"


Tristan mengangguk sambil tersenyum hangat


"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya," ucap Tristan


Saat itu ekspresi wajah Lina terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi dia juga merasa enggan untuk menyampaikan hal tersebut


"Ada masalah apa?" tanya Tristan


"Apa aku boleh meninggalkan kamar ini saat kamu ga berada di rumah?" tanya Lina dengan hati-hati


Tristan langsung mengerutkan keningnya sambil menatap Lina dengan lekat


"Apa ada sesuatu di kamar aku yang membuat kamu merasa kurang nyaman?"


"Bukan seperti itu," jawab Lina dengan cepat


"Lalu apa masalahnya?" tanya Tristan dengan wajah serius


Tristan tetap terdiam dan menatap Lina dengan lekat, Lina pun menghembuskan nafasnya dengan kasar


"Paling ga izinkan aku untuk membersihkan kamar ini agar ada sesuatu yang bisa aku lakukan selama kamu ga ada," lanjut Lina


Tristan tak banyak bicara dan langsung menarik tubuh Lina agar masuk ke dalam pelukan hangatnya, dia juga menghadiahkan sebuah ciuman yang sangat lembut di ujung kepala Lina


"Kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan di rumah ini, tapi kamu di larang untuk melakukan pekerjaan apapun di rumah ini." ucap Tristan degan lembut


"Karena kamu wanita yang sudah aku pilih untuk menjadi nyonya di rumah ini," batin Tristan


Tristan mulai melepaskan pelukannya dan menatap Lina dengan senyuman hangat


"Aku tau kamu orang yang ga suka untuk di kekang, tapi aku melakukan ini untuk kebaikan kamu juga. Bagaimana pun juga keadaan kamu saat ini belum benar-benar pulih," jelas Tristan dengan lembut


Lina tak ingin lagi memberi perlawanan dengan ucapan sang tuan muda, di sisi lain dengan mudahnya Tristan mengetahui bahwa sesungguhnya Lina merasa keberatan dengan hal tersebut. Tristan meletakkan tangannya di ujung kepala Lina dengan lembut dan membuat Lina menatap wajah sang tuan muda

__ADS_1


"Sebagai gantinya, bagaimana kalau aku meminta Dian untuk mengirimkan seseorang ke kamar ini? Dengan begitu kamu bisa punya teman untuk mengobrol selama aku ga ada"


Dalam sekejap senyuman bahagia langsung menghiasi wajah Lina


"Terima kasih," ucap Lina dengan tulus


Saat itu Tristan hanya membalas dengan senyuman tipis tapi dia juga tak bisa berbohong bahwa di dalam hatinya ada sebuah perasaan yang belum pernah dia rasakan selama ini


"Ya sudah kalau begitu saya pergi dulu," ucap Tristan


Lina mengangguk dengan senyuman tulus di bibirnya


"Rasanya aku ga rela pergi meninggalkan kamu saat kamu memperlihatkan senyuman tulus seperti ini," batin Tristan


Tristan segera meninggalkan kamar tersebut dan sebelum dia benar-benar meninggalkan rumah tersebut dia memanggil Dian


"Anda memanggil saya tuan muda?" tanya Dian dengan sopan


"Siapa nama pelayan yang cukup dekat dengan Lina di tempat ini?"


"Mungkin yang anda maksud adalah Amira tuan muda, mereka berdua kebetulan menempati kamar yang sama. Apa ada masalah tuan muda?"


"Minta pelayan itu untuk ke kamar saya dan menemani Lina selama saya berada di kantor"


"Baik tuan muda"


"Beritahu dia untuk menjaga Lina dengan baik selama saya tidak berada di rumah ini, saya tidak ingin mendengar terjadi sesuatu kepada Lina." jelas Tristan dengan tegas


"Saya mengerti tuan muda, saya akan memberikan pengarahan kepada anak itu dengan baik"


Tristan pun segera meninggalkan rumah mewah tersebut dan dia sedang memikirkan tentang semua yang telah dia lalui bersama Lina di pagi hari


"Hati aku benar-benar merasa senang saat tadi melihat dia tersenyum bahagia dan aku ga menyangka aku akan merasa terkejut saat dia mencium tangan aku," batin Tristan sambil tersenyum


Tapi tak lama kemudian senyuman di bibir Tristan langsung menghilang saat dia membayangkan mengatakan kepada Lina otak dari kejadian keji yang menimpa Lina

__ADS_1


"Aku ga akan pernah tau berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyembuhkan luka di hati kamu? Aku akan terus menunggu kamu sampai kamu melampiaskan semua dendam kamu kepada mereka, setelah itu aku harap kamu bisa melanjutkan hidup kamu dengan baik." batin Tristan dengan wajah dinginnya


__ADS_2