
Sebagai bentuk terima kasih untuk pertama kalinya Lina membalas pelukan sang tuan muda saat mereka akan beristirahat, Tristan pun membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna karena hal tersebut
"Terima kasih untuk semua kebaikan dan kesabaran kamu selama ini," ucap Lina dengan tulus
Deg.. Deg.. Deg..
Detak jantung Tristan saat itu berdetak dengan sangat cepat hingga dia merasa sedikit takut Lina akan menyadari hal tersebut
"Astaga!! Ternyata aku selemah ini di hadapan kamu wahai Herlina Iskandar, perbuatan kecil dari kamu bisa berdampak sebesar ini di dalam hati aku." batin Tristan
"Sebaiknya kita istirahat karena besok kamu akan melanjutkan rencana kamu," ucap Tristan sambil mengeratkan pelukannya
Lina pun tersenyum tipis dan mulai menutup matanya, Tristan dan Lina akan memulai lembaran baru dalam kisah mereka. Sedangkan di tempat yang berbeda Anita dan Aldi sedang sedikit bersitegang, Anita merasa tersinggung dengan sikap Aldi yang terkesan biasa saja dengan mundurnya rencana pernikahan mereka
"Jadi aku harus berbuat apa? Apa aku harus melawan kakak kamu itu di hadapan semua anggota keluarga kamu?" tanya Aldi penuh penekanan
"Kamu pikir kamu bisa melakukan hal itu? Aku sendiri ga akan bisa melawan dia," ucap Anita dengan nada sedikit sinis
"Kalau kamu sudah tau tentang hal itu dengan pasti, kenapa kamu masih terkesan memojokkan aku dari tadi?!!" tanya Aldi sedikit berteriak
"Karena kamu terkesan biasa aja dengan keputusan itu!! Atau jangan-jangan kamu terlalu senang karena bisa melihat perempuan itu?!!" teriak Anita sekuat tenaga
Tanpa sadar Aldi mulai mengangkat tinggi tangannya seolah akan melayangkan sebuah tamparan kepada Anita, hal tersebut membuat Anita langsung melepaskan tatapan membunuhnya
"Aku akan membuat kamu menyesal seumur hidup kamu kalau kamu berani bersikap kasar ke aku," ucap Anita dengan tegas
Secara perlahan Aldi mulai menurunkan tangannya
"Aku benar-benar menyesal telah terjerat oleh wanita seperti kamu sampai aku harus kehilangan wanita sebaik Lina!!" batin Aldi
__ADS_1
Di dalam hati Aldi mulai timbul penyesalan yang mendalam telah kehilangan Lina, penyesalan di dalam hati Aldi semakin kuat setelah melihat penampilan Lina saat ini
Anita terus berkicau hingga semakin lama Aldi semakin tidak tahan dan mengambil cangkir yang berada di hadapannya, Aldi melemparkan cangkir tersebut ke sembarang arah dengan sekuat tenaga. Anita pun langsung membeku karena untuk pertama kalinya dia melihat Aldi yang seperti itu
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Anita dengan wajah yang terlihat pucat
"Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini kalau kamu terus menerus bersikap seperti ini, bagaimana pun juga aku seorang laki-laki dan kamu selalu menginjak harga diri aku sebagai seorang laki-laki." ucap Aldi dengan tegas
"Aku minta maaf kalau aku sudah berbuat salah sayang tapi aku sama sekali ga ada niat bersikap seperti itu, aku minta maaf kalau sikap sudah keterlaluan ya sayang"
"Untuk saat ini lebih baik aku bersabar, aku akan meninggalkan perempuan gila ini setelah Lina kembali ke sisi aku. Aku khawatir perempuan gila ini akan merencanakan sesuatu yang di luar nalar seperti dulu lagi, saat ini cuma aku yang boleh menyentuh tubuh Lina." batin Aldi
Saat itu Aldi memilih untuk berbohong tetapi dia lupa bahwa sesuatu yang di mulai dari kebohongan akan berakhir dengan hasil yang buruk juga, malam itu mereka menghabiskan malam panas mereka seperti biasanya tapi saat itu Aldi membayangkan bahwa dia sedang berhubungan dengan Lina. Dengan bodohnya Anita merasa bahagia dengan semua yang Aldi lakukan pada malam itu
Pagi yang indah pun mulai menyapa kehidupan di muka bumi ini, seperti biasa Tristan akan menjalani rutinitasnya seperti biasa. Setelah selesai sarapan Tristan langsung menatap Lina dengan wajah seriusnya
"Apa kamu sudah siap?" tanya Tristan
"Setiap malam di akhir pekan mereka akan menghabiskan waktu di sebuah club malam, apa kamu mau melanjutkan rencana kamu di sana?"
Lina menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali
"Apa aku boleh tau apa yang ada di dalam pikiran kamu saat ini?" tanya Tristan
Lina tampak sedikit ragu untuk mengatakan apa yang ada di dalam benaknya pada saat itu, dia hanya ingin menghargai perasaan Tristan pada saat itu. Dengan mudahnya Tristan bisa mengetahui itu semua dan melepaskan senyuman hangat
"Aku sudah bilang kalau kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan untuk membalas perbuatan mereka, aku cuma minta tolong jaga baik-baik hati dan tubuh kamu karena semua itu milik aku. Aku ga mau melihat baik hati ataupun tubuh kamu terluka," ucap Tristan dengan lembut
"Aku punya rencana untuk membuat laki-laki itu semakin penasaran sama aku," jelas Lina sambil menundukkan kepalanya
__ADS_1
"Apa dia bersikap seperti ini karena dia tau kalau aku memiliki perasaan untuk dia?" batin Tristan
Tristan langsung memegang kedua pipi Lina hingga pandangan mata mereka saling bertemu dan melepaskan senyuman hangat di bibirnya
"Lakukan apapun yang kamu inginkan tanpa harus merasa terbebani oleh apapun, aku cuma minta jangan melebihi batasan yang ada karena aku ga ingin dengan terpaksa harus melepaskan kamu." jelas Tristan dengan lembut
"Apa kamu memang selalu bersikap seperti ini dengan semua wanita kamu selama ini?" tanya Lina tanpa sadar
Cup..
Sebuah ciuman singkat mendarat mulus di bibir Lina
"Hanya kamu satu-satunya perempuan yang membuat aku melakukan banyak hal yang belum pernah aku lakukan selama ini," jelas Tristan dengan lembut
"Maaf..." ucap Lina sedikit lirih
Tristan langsung memeluk tubuh Lina dengan erat
"Ga perlu meminta maaf karena kamu ga melakukan kesalahan apapun, aku yang seharusnya merasa bersyukur karena pada akhirnya aku bisa merasakan yang namanya cinta." ucap Tristan dengan lembut
"Aku cuma bisa berharap suatu saat nanti kamu bersedia membuka hati kamu untuk aku," batin Tristan
Saat malam mulai tiba orang-orang Tristan sudah berkeliaran di sebuah club yang cukup ternama di kota itu, begitu Anita dan Aldi terlihat di sana mereka segera memberikan kabar kepada Erik. Tristan dan Lina pun mulai bersiap untuk menyusul mereka ke tempat itu
Saat di perjalanan Lina tak bisa menutupi ekspresi marah dan kecewanya terhadap kedua orang tersebut, Tristan pun langsung menggenggam salah satu tangan Lina dengan erat
"Kendalikan amarah kamu, amarah hanya akan membuat kamu melakukan hal-hal bodoh di hadapan mereka." ucap Tristan dengan wajah serius
Lina hanya menjawab dengan anggukan kepalanya
__ADS_1
"Semoga aku bisa menahan diri dengan semua yang akan kamu lakukan nanti," batin Tristan
Saat itu Tristan berusaha untuk menahan dirinya walaupun jauh di dalam lubuk hatinya terasa sakit dan tidak rela Lina bersama dengan laki-laki lain