
"Sebaiknya kita istirahat karena besok kita akan memulai genderang perang," ucap Tristan
Tapi anehnya saat itu Lina tetap terdiam di tempat yang sama dengan tatapan mata yang lekat
"Ada masalah apa lagi?" tanya Tristan
"Aku akan memilih percaya sepenuhnya sama kamu untuk kali ini tapi masih ada sesuatu yang mau aku tanyakan sama kamu"
"Tentang apa?" tanya Tristan
"Aku sempat punya pemikiran buruk sama kamu karena sampai detik ini kamu belum mengambil bayaran kamu dari kamu," jelas Lina
Tristan melepaskan senyuman yang menggoda dan membuat Lina sedikit menyesal telah melontarkan ucapan bodoh tersebut
"Apa kamu sudah tidak sabar untuk melakukan hal itu sama aku?"
"Bukan seperti itu maksud aku," jawab Lina dengan wajah sedikit panik
"Aku pribadi ga masalah kalau kamu memang sudah ga sabar, aku pasti bisa memberikan semua yang kamu inginkan dari hal itu." ucap Tristan di akhiri dengan senyuman menggoda
Lina pun membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna
"Hei aku ga bermaksud seperti itu, aku itu cuma..."
Lina sendiri tak tau harus dengan cara apa menjelaskan tentang hal tersebut, sedangkan Tristan tak ingin mempermainkan Lina lebih jauh lagi dan langsung bangkit lalu memeluk tubuh Lina dengan erat
"Untuk saat ini kita harus menunda melakukan hal itu karena kita harus punya banyak tenaga untuk menghadapi perang di esok hari, aku akan mengambil bayaran aku saat waktunya sudah tepat." jelas Tristan dengan lembut di akhiri dengan ciuman lembut di ujung kepala Lina
Deg.. Deg.. Deg..
"Perasaan apa ini? Ga!! Herlina Iskandar kamu ga boleh terbuai dengan perasaan seperti ini!! Laki-laki seperti dia tidak boleh mendapatkan perasaan dari kamu!!" batin Lina
Di tengah kejadian tersebut terjadi sesuatu yang sedikit konyol karena tiba-tiba saja perut Lina berbunyi
Krucuk...
Sontak saja wajah Lina menjadi merah karena merasa malu, sedangkan sang tuan muda tersenyum dengan hangat
__ADS_1
"Apa kamu belum makan malam?" tanya Tristan dengan lembut
"Aku ga punya selera untuk makan malam karena memikirkan hal ini"
Tanpa banyak bicara Tristan langsung menghubungi Dian dan memerintahkan untuk menyiapkan makan malam bagi mereka berdua, Tristan memilih untuk menemani Lina menyantap makan malam tersebut walaupun di luar sana dia sudah makan malam. Di tempat yang berbeda Anita baru saja tiba di kediamannya dan menghubungi sang kekasih hati
"Kamu lagi apa sayang?" tanya Anita
"Aku lagi memeriksa beberapa laporan di rumah, ada apa sayang?"
"Aku cuma mau mengingatkan kamu kalau besok kita ada janji ketemuan sama keluarga besar aku sayang"
"Aku ingat kok sayang, besok aku jemput kamu ke rumah kamu ya"
Mereka pun banyak berbincang karena Anita merasa enggan untuk mengakhiri percakapan mereka, Anita bagaikan seorang gadis muda yang baru pertama kalinya merasakan perasaan cinta kepada lawan jenis. Yang pasti Anita tak tau bahwa sesuatu telah menanti dirinya di pertemuan tersebut
Saat pagi mulai menyapa kehidupan di muka bumi ini ada dua orang wanita yang sedang merencanakan hari itu agar menjadi hari yang sempurna, hari itu memutuskan untuk tidak pergi kantor dan memilih untuk melakukan perawatan diri agar hari itu dia bisa tampil dengan sempurna
Entah sudah berapa lama Anita menghabiskan waktu di tempat itu dan dia terlihat puas dengan semua pelayanan di tempat itu, saat dia selesai melakukan pembayaran dan hendak meninggalkan tempat itu matanya terbelalak karena melihat wanita yang baru saja masuk ke dalam tempat tersebut
Wanita tersebut adalah Lina tanpa menghiraukan keberadaan Anita di tempat itu Lina langsung melangkahkan kakinya menuju ke bagian resepsionis
"Saya sudah melakukan reservasi atas nama Herlina Iskandar," ucap Lina
Dengan hati yang sedikit bergejolak Anita mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Lina
"Sejak kapan perempuan seperti kamu bisa melakukan perawatan di tempat ini?" ucap Anita dengan nada terdengar sinis
Lina menoleh dengan senyuman ramah di bibirnya
"Apa tempat ini milik anda?"
Anita berdecih dengan wajah sinis nya
"Saya sudah lama menjadi pelanggan vip di tempat ini dan saya tau dengan pasti orang seperti apa yang bisa menjadi member di tempat ini," jelas Anita
Lina tersenyum tipis lalu mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dia gunakan pada saat itu
__ADS_1
"Apa dengan ini saya sudah layak untuk menjadi salah satu pelanggan di tempat ini?"
Saat itu Lina mengeluarkan sebuah kartu member yang hanya bisa di dapatkan oleh orang-orang ternama
"Apa saat ini dia sedang menunjukkan kepada aku kekuatan di belakang dia? Apa dia benar-benar merasa bangga telah menjadi simpanan laki-laki itu?" batin Anita
Anita pun melepaskan sebuah senyuman yang terlihat sedikit meremehkan
"Jangan terlalu berbangga hati dengan apa yang bisa kamu miliki saat ini karena saya tau dengan pasti tentang kekuatan di belakang kamu saat ini, saya yakin kamu hanyalah salah satu mainan yang akan dia buang saat dia telah merasa puas dengan tubuh kamu." ucap Anita dengan nada sinis
Saat itu hati Lina sudah terbakar api amarah saat membayangkan orang yang berada di depannya adalah orang yang merencanakan perbuatan keji tersebut, tapi yang Lina lakukan saat itu adalah melepaskan senyuman tipis di bibirnya lalu melangkah mendekati Anita dan mendekatkan bibirnya ke telinga Anita
"Apa saat ini kamu sedang merasa terancam dengan keberadaan saya dan kekuatan yang berada di belakang saya?" bisik Lina
Anita pun mengeraskan rahangnya mendengar hal tersebut dan Lina tersenyum puas melihat ekspresi wajah Anita saat itu, Lina benar-benar merasa telah berhasil menjalankan aksi pertamanya
"Apa kamu masih mengingat pesan yang pernah saya katakan kepada kamu?" tanya Lina
Anita hanya bisa terdiam dengan wajah tak bersahabat
"Sebaiknya kamu mulai mempersiapkan diri karena saya yakin waktunya tak akan lama lagi," lanjut Lina di akhiri dengan senyuman penuh arti
Sudah pasti harga diri seorang Anita merasa terinjak-injak akan sikap Lina saat itu, tanpa sadar Anita mulai mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan hendak melayangkan sebuah tamparan kepada Lina
Tep..
Dengan cepat tangan Anita di tangkap oleh seorang pria berbadan kekar yang berpakaian rapi
"Apa anda baik-baik saja nona muda?" tanya pria tersebut menghadap ke arah Lina
Lina hanya menjawab dengan sedikit anggukan kepalanya, di sisi lain Anita semakin meradang mendapatkan perlakuan seperti itu
"Lepaskan tangan saya manusia rendahan!!" ucap Anita penuh penekanan
Dengan senyuman sinis pria kekar tersebut menghempaskan tangan Anita
"Saya tidak perduli apapun yang akan anda lakukan dan katakan kepada saya, tapi saya peringatkan anda untuk menjaga sikap dan perkataan anda di hadapan nona muda." ucap pria kekar tersebut dengan tegas
__ADS_1