Dendam Wanita Sang Tuan Muda

Dendam Wanita Sang Tuan Muda
Orang Aneh


__ADS_3

Sontak saja perasaan Tristan langsung terasa tak menentu mendengar ucapan Lina saat itu


"Apa-apaan perempuan ini? Berani-beraninya dia mengancam saya untuk berhenti kerja dari tempat ini, saya hanya berusaha untuk menjaga keamanan dia karena sepertinya laki-laki itu sudah tau tentang rumah ini." batin Tristan


Tetapi harga diri Tristan memaksa dia untuk tidak menjelaskan itu semua


"Kalau begitu saya permisi tuan muda, saya ucapkan terima kasih atas kebaikan anda selama ini terhadap saya." ucap Lina dengan sopan


Lina pun menundukkan sedikit kepalanya tanda memberikan penghormatan terakhir kepada sang tuan muda, tiba-tiba saja Tristan teringat akan ekspresi wajah Lina saat berada di hadapan Aldi


"Saya tidak mungkin membiarkan kamu pergi dari tempat ini, bisa-bisa kamu memutuskan untuk kembali ke sisi laki-laki itu karena terdesak keadaan." batin Tristan


"Kenapa kamu selalu memberikan perlawanan atas semua ucapan saya?" tanya Tristan dengan dingin


"Karena semakin lama permintaan anda semakin terasa aneh di mata saya tuan muda," jawab Lina dengan tegas


Tristan pun tersenyum dingin


"Apa kamu membuat keputusan seperti itu karena saya meminta kamu untuk tidak keluar dari paviliun belakang?"


Lina menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali


"Saya punya alasan tersendiri untuk semua itu dan saya tidak punya kewajiban untuk menjelaskan hal itu kepada kamu, kamu hanya perlu tau bahwa saya melakukan hal itu demi kebaikan kita berdua." jelas Tristan dengan tegas


Lina hanya bisa terdiam karena merasa semakin bingung dengan penjelasan dari sang tuan muda


"Saya akan mengizinkan kamu untuk berhenti bekerja dari tempat ini, dengan catatan kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik dari tempat saya." lanjut Tristan


Tristan menatap Lina semakin lekat


"Apa kamu mengerti dengan semua ucapan saya?" tanya Tristan


"Saya mengerti tuan muda," jawab Lina dengan senyuman palsu


Tristan pun mendengus jengkel saat melihat senyuman palsu di bibir Lina


"Jawab saya dengan jujur"

__ADS_1


"Tentang apa tuan muda?"


"Apa di mata kamu wajah saya kurang tampan?" tanya Tristan dengan serius


"Jangan bilang dia menawarkan hal itu lagi, sabar Lina kamu harus bisa sabar. Di zaman seperti sekarang sangat sulit mendapatkan pekerjaan dengan gaji sebesar di tempat ini, kamu harus ingat mulai sekarang kamu harus menanggung sendiri cicilan hutang itu." batin Lina dengan wajah malasnya tanpa sadar


"Saya rasa semua orang akan memberikan jawaban yang sama kalau di beri pertanyaan seperti itu tuan muda, baik saya ataupun orang lain pasti akan menjawab bahwa wajah anda sangat tampan"


"Kalau begitu kenapa kamu terlihat tidak tertarik sedikit pun kepada saya? kamu bahkan langsung menolak tawaran yang saya berikan tanpa perlu berpikir terlebih dahulu"


Lina pun melepaskan senyuman tipis di bibirnya


"Maaf kalau hal tersebut telah menyinggung perasaan anda tuan muda, tapi perempuan seperti saya harus sadar diri dan membuang jauh pemikiran seperti itu." jelas Lina dengan sopan


Tristan pun tersenyum dingin pada saat itu, dia yakin bahwa semua ucapan Lina saat itu hanyalah kebohongan belaka


"Apa lagi yang kamu tunggu? sebaiknya kamu segera turun dan lakukan semua tugas kamu dengan baik di tempat ini, waktu saya yang berharga sudah terbuang dengan sia-sia karena kamu"


"Kalau begitu saya permisi tuan muda, sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk semua pengertian anda"


"Dasar orang aneh!! awalnya dia bilang aku bergentayangan terakhirnya dia bilang aku membuang-buang waktu dia!! kalau aja aku ga membutuhkan pekerjaan ini aku ga sudi bekerja dengan orang seperti dia!!" gerutu Lina dalam hatinya


Lagi-lagi Lina melakukan sebuah kesalahan tanpa dia sadari, karena apa yang baru saja dia lakukan terekam oleh cctv dan sedang di perhatikan oleh Tristan melalui tabletnya


"Ini kedua kalinya dia berniat memukul saya di belakang saya, sepertinya perempuan ini memiliki jiwa pemberontak. Kamu memang harus bersikap seperti itu agar terlihat menarik," batin Tristan sambil tersenyum tipis


Tak butuh waktu yang lama Tristan mulai menyadari apa yang sedang dia lakukan pada saat itu, dia pun mulai menghilangkan senyuman di bibirnya


"Sial!! Kenapa saya harus tersenyum melihat sikap dia yang bertindak tidak sopan seperti itu? Ini semua tak bisa di biarkan lebih lama lagi, saya harus segera kembali ke diri saya dulu agar bisa melupakan perempuan itu!!" batin Tristan


Tristan berusaha secepat mungkin untuk menyelesaikan pertemuan penting yang sedang dia lakukan saat itu, setelah berada di dalam mobilnya dia langsung menghubungi seseorang


"Ya"


"Apa ada barang bagus?" tanya Tristan


"Apa selama ini lu pernah merasa kecewa dengan kiriman gw bos?"

__ADS_1


Tristan pun tersenyum tipis


"Kirim ke tempat biasa"


"Siap bos"


Tristan memutuskan sambungan teleponnya lalu tersenyum tipis


"Ke hotel kita," ucap Tristan


"Baik tuan muda"


Tristan memutuskan untuk kembali menjalani hidupnya yang dulu dan terlepas dari bayang-bayang Lina, dia sampai lebih dulu di hotel miliknya dan menuju ke arah kamar yang khusus untuk dirinya lalu membersihkan diri


Tak lama kemudian seorang gadis muda yang sangat cantik tiba di tempat itu, Tristan pun mempersilahkan gadis tersebut untuk masuk ke dalam kamar tersebut. Gadis tersebut langsung mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur


"Apa kamu ingin pesan sesuatu?" tanya Tristan


"Bagaimana kalau kita pesan sebotol wine?"


"Ide yang bagus," jawab Tristan lalu tersenyum tipis


Tristan segera meminta pihak hotel untuk menyiapkan semua yang mereka butuhkan, gadis tersebut terus menatap Tristan dengan senyuman terbaik yang dia miliki


"Sampai kapan kamu mau melihat saya dari jauh sayang?" tanya gadis tersebut dengan nada manja


Tristan pun tersenyum tipis


"Perempuan yang benar seharusnya bersikap seperti ini saat di hadapan saya, tidak seperti perempuan itu yang selalu melawan apapun yang saya katakan." batin Tristan


Hingga saat itu sang tuan muda masih belum menyadari bahwa Lina telah menyentuh dasar hatinya, dia masih belum sadar bahwa apapun yang dia lakukan pemikirannya selalu kembali ke arah Lina. Tristan mulai melangkahkan kakinya ke arah gadis tersebut dengan senyuman di bibirnya, dia pun mulai mendekatkan bibirnya ke telinga gadis tersebut


"Apa kamu sudah tidak sabar sayang?" bisik Tristan dengan lembut


Gadis tersebut hanya melepaskan senyuman terbaik yang dia miliki


"Kamu harus bisa sedikit bersabar sayang, bukankah kita sedang menunggu pesanan kita. Dengan itu kita bisa melakukan semuanya dengan cara yang lebih panas," bisik Tristan

__ADS_1


__ADS_2