
Lina membayangkan semua kejadian pahit di dalam hidupnya agar kedua bola matanya bisa berkaca-kaca
"Lalu bagaimana dengan aku dan perasaan aku mas?" tanya Lina terdengar lirih
Aldi langsung memegang kedua pipi Lina dan menatap Lina dengan lekat
"Kamu harus bisa bersabar ya Lin, kita harus menemukan cara agar bisa berpisah dengan mereka secara baik-baik. Mas Aldi ga mau perempuan itu melakukan hal seperti dulu lagi terhadap kamu Lin," jelas Aldi dengan lembut
"Karena cuma mas Aldi yang boleh menyentuh tubuh kamu Lin," batin Aldi
Untuk menyempurnakan akting yang sedang Lina lakukan dia langsung memeluk tubuh Aldi dengan sangat erat dan mencium leher Aldi
"Aku benar-benar merindukan aroma tubuh kamu mas," bisik Lina lalu meniup telinga Aldi dengan lembut
"Sial!! Kenapa Lina yang sekarang benar-benar membuat aku bergairah? Aku harus secepatnya mencari cara agar kami bisa bersatu lagi, aku bisa mati penasaran kalau tidak bisa merasakan tubuh Lina sekali lagi." batin Aldi
"Kita bisa mencari waktu dan bertemu di belakang mereka Lin"
"Kamu serius mas?" tanya Lina dengan wajah sumringah
Aldi menjawab dengan anggukan kepalanya
"Apa kamu benar-benar akan mencuri waktu dari perempuan itu untuk bertemu aku mas?" tanya Lina sekali lagi
"Kamu bisa hubungi mas Aldi di nomor yang sama Lin, nomor telepon mas Aldi masih yang dulu"
Lina menampilkan senyuman terbaik yang dia miliki dan membuat Aldi tak tahan lagi melihat itu semua, dengan cepat Aldi langsung menyambar bibir merah Lina. Sedangkan Lina sekuat tenaga menahan diri dan berusaha menyambut ciuman yang Aldi berikan
Dengan mudahnya Aldi terbuai oleh itu semua dan mulai menyusupkan salah satu tangannya agar ciuman mereka bisa semakin dalam, aksi Aldi tak berhenti sampai di situ karena salah satu tangannya dia pakai untuk meraba lekuk tubuh Lina
Di sisi lain Tristan sengaja membawa Anita ke tempat parkir di tempat itu dan sesampainya di sana dia langsung memasang wajah dinginnya
"Ada apa ya kak?" tanya Anita dengan hati-hati
"Selama ini saya tidak pernah sekalipun mencampuri apapun yang kamu dan mama kamu lakukan, tapi sekali ini saya tidak bisa tinggal diam saat kamu berusaha merusak nama baik keluarga saya." jawab Tristan dengan dingin
"Kesalahan apa yang sudah aku lakukan kak?" tanya Anita dengan wajah bingung
__ADS_1
"Apa kamu tidak merasa telah merusak nama baik keluarga dengan menginjakkan kaki kamu di tempat seperti ini?" tanya Tristan dengan dingin dan di akhiri dengan senyuman yang terlihat meremehkan
Sudah pasti Anita tak mungkin berdiam diri dengan semua sikap yang Tristan tunjukkan pada saat itu
"Apa salahnya kalau aku datang ke tempat ini untuk mengusir penat kak? Aku juga ga datang seorang diri, aku datang bersama calon suami aku." ucap Anita dengan tegas
"Dengan bangganya dia mengatakan laki-laki tersebut sebagai calon suami, apa dia sudah lupa kalau dia merebut laki-laki tersebut dari istri sahnya. Benar adanya pepatah yang mengatakan kalau buah jatuh takkan jauh dari pohonnya," batin Tristan sambil tersenyum dingin
"Apa kamu berniat untuk melawan ucapan saya?" tanya Tristan dengan dingin
Deg...
Dalam sekejap nyali Anita langsung menciut
"Aku ga ada maksud untuk melawan ucapan kamu kak," jawab Anita dengan wajah yang tampak pucat
"Belum ada sejarahnya anggota keluarga Pratama yang perempuan menginjakkan kakinya ke tempat seperti ini, saya harap kamu tidak melupakan bahwa di dalam darah kamu masih mengalir darah keluarga Pratama"
Saat itu Anita hanya bisa terdiam dan menahan diri
"Sebaiknya kamu segera pergi meninggalkan tempat ini dan jangan pernah lagi menginjakkan kaki kamu di tempat seperti ini, atau saya akan dengan senang hati mengambil tindakan tegas untuk kamu"
Tristan pun melangkahkan kakinya mendekat ke arah Anita
"Selama ini saya tidak pernah mengusik kamu dan mama kamu karena saya menghargai pesan terakhir dari papa, tapi kamu jangan lupa kalau saat ini saya adalah pemimpin keluarga Pratama. Jangan memaksa saya membuat kamu dan mama kamu berada di titik terendah kalian," ucap Tristan dengan suara pelan tapi penuh penekanan
Lagi-lagi Anita hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya karena semua yang Tristan katakan benar adanya, bahkan sang papa hanya meninggalkan sebagian kecil harta warisan untuk dirinya dan sang mama. Tristan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat tersebut tanpa memperdulikan Anita sama sekali
"Bisa-bisanya dia memperlakukan aku seperti ini padahal kami memiliki papa yang sama!! Ini semua kesalahan papa!! Papa bersikap ga adil dengan kedua anaknya!!" gumam Anita sambil mengepalkan tangannya
Anita yang tak mempunyai nyali untuk melawan Tristan memilih untuk langsung menghubungi Aldi meninggalkan tempat itu, di tempat yang berbeda Aldi merasa sedikit terganggu karena masih asik dengan bibir Lina. Lina pun mendorong tubuh Aldi
"Ada telepon mas, mungkin perempuan itu yang menghubungi kamu." ucap Lina
Aldi berdecak jengkel karena benar adanya Anita adalah orang yang menghubungi dirinya saat itu
"Maaf ya," ucap Aldi dengan wajah bersalah
__ADS_1
"Angkat mas, aku takut dia jadi curiga"
Dengan berat hati Aldi menjawab panggilan telepon tersebut
"Halo"
"Kamu ada di mana sayang?"
"Aku lagi di toilet"
"Sebaiknya kita pulang sekarang juga sayang, kamu tolong keluar bawa tas aku ya"
"Oke"
Anita langsung memutuskan sambungan teleponnya dan Aldi langsung menatap Lina dengan wajah bersalah
"Ada apa mas?" tanya Lina
"Sepertinya mas Aldi harus pulang sekarang juga Lin"
"Aku mengerti kok mas, tapi aku minta kamu untuk temui aku lagi ya mas." ucap Lina dengan wajah bersedih
Aldi memberikan ciuman lembut di kening Lina
"Mas Aldi akan datang kapanpun kamu mau bertemu dengan mas Aldi," ucap Aldi dengan yakin
"Apa kamu sama sekali ga merasa jijik dengan aku mas? Bagaimana pun juga saat ini aku bukan Lina yang dulu lagi mas"
"Di mata mas Aldi kamu akan selalu sama seperti yang dulu Lin," ucap Aldi dengan yakin
"Bahkan kamu yang sekarang jauh lebih menarik dan membuat darah aku bergejolak Lin, sebuah perasaan yang sudah sangat lama ga pernah aku rasakan lagi kepada kamu." batin Aldi
Aldi mengeluarkan dompetnya dan memberikan salah satu kartunya kepada Lina
"Kamu bisa pakai kartu itu untuk membeli apapun yang kamu inginkan Lin, maafin mas Aldi karena untuk sementara mas Aldi ga bisa menemani kamu sepanjang waktu"
Lina melepaskan senyuman terbaik yang dia miliki sambil menganggukkan kepalanya, Aldi mencium bibir Lina sekali lagi dan mulai meninggalkan ruangan tersebut. Selepas kepergian Aldi Lina terduduk lemas dengan air mata yang mulai menetes
__ADS_1
"Satu-satunya penyesalan di dalam hidup aku adalah aku terlalu lama menyadari sifat asli kamu mas," gumam Lina lirih