
Aldi semakin mengeratkan pelukannya sambil terus menghujani ujung kepala Anita dengan ciuman, sedangkan Anita mendongakkan sedikit kepalanya agar tatapan mata mereka dapat saling bertemu
"Jadi kapan kamu siap untuk menemui keluarga besar aku sayang?" tanya Anita
"Kapan pun kamu mau sayang," jawab Aldi dengan yakin
Ekspresi wajah Anita saat itu memancarkan kebahagiaan karena akhirnya dia bisa mendapatkan laki-laki yang dia inginkan
"Tapi aku mau kita merencanakan rencana kita untuk membalas perempuan itu sebelum kita ketemu keluarga kamu sayang, aku mau dia merasakan titik terendah di dalam hidupnya saat mendengar kabar bahagia kita." lanjut Aldi
Anita pun tersenyum tipis
"Kamu tenang aja sayang, aku pasti akan memberikan pelajaran berharga untuk mantan istri kamu itu." jawab Anita
Aldi benar-benar sudah kehilangan hati nuraninya dan tersenyum puas mendengar hal tersebut, dia pun mencium kening Anita dengan lembut dan membuat hati gadis tersebut melayang bebas
"Jangan salahkan aku karena mengambil jalan seperti ini Lin, kamu memilih untuk berpisah dengan aku karena laki-laki kaya itu. Jadi aku memberikan kamu hadiah yang tidak akan mungkin bisa kamu lupakan seumur hidup kamu. Aku akan menjadikan kamu perempuan yang tidak bisa mengangkat wajah kamu di sisa umur kamu," batin Aldi sambil tersenyum jahat
Malam itu Lina bisa tertidur dengan pulas tanpa tau bahwa ada bahaya besar sedang mengincar dirinya, di sisi lain sang tuan muda tekadnya semakin bulat untuk menaklukkan Lina sepenuhnya
Anita mulai mengirimkan orang-orangnya untuk mencari tau semua tentang Lina untuk memuluskan rencana jahatnya, dengan kekuatan yang dia miliki bukan hal yang sulit bagi Anita mendapatkan semua informasi terbaru tentang Lina
"Sial!! kenapa bisa ada kebetulan seperti ini? dari sekian banyak orang yang tinggal di kota ini, kenapa dia harus bekerja di tempat itu? atau jangan-jangan laki-laki yang di maksud oleh Aldi adalah laki-laki itu?" batin Anita dengan wajah yang terlihat sedikit tertekan
Tak lama kemudian Anita terlihat menggelengkan sedikit kepalanya
"Mustahil kalau laki-laki seperti dia tertarik dengan seorang perempuan yang sudah pernah berkeluarga, apalagi perempuan itu hanya berstatuskan sebagai pelayan. Selama ini dia hanya tertarik dengan perempuan yang masih singel dan terkenal," batin Anita
Tak lama kemudian Anita langsung tersenyum jahat dan segera menghubungi orang kepercayaannya, dia memerintahkan orang tersebut untuk melakukan sesuatu
"Dengan begini aku ga perlu khawatir tentang apapun, aku bisa cuci tangan seandainya laki-laki itu ikut campur." gumam Anita lalu tersenyum puas
Di tempat yang berbeda Lina baru saja tiba di sebuah gedung pencakar langit, dia mulai masuk ke dalam gedung tersebut dan menuju ke bagian resepsionis
"Permisi mbak, saya ingin bertemu pak Tristan," ucap Lina dengan sopan
__ADS_1
"Apa sebelumnya ibu sudah buat janji temu?"
"Saya belum membuat janji temu mbak, tapi saya di minta untuk datang menemui pak Tristan dan menyerahkan barang penting ke tangan pak Tristan secara langsung." jelas Lina
Tiba-tiba saja kedua resepsionis yang berada di tempat itu langsung memasang wajah yang terlihat sedikit aneh, seolah mereka mengatakan bahwa hal tersebut sudah terjadi berulang kali
"Sebelumnya saya minta maaf karena ibu tidak bisa menemui pak Tristan bila belum membuat janji temu, saya juga belum mendapatkan pemberitahuan bahwa akan ada yang datang untuk menemui pak Tristan"
FLASH BACK
Hari itu Lina sedang melakukan tugasnya seperti biasa tetapi tiba-tiba saja dia di panggil oleh Dian
"Maaf, ibu memanggil saya?"
Dian menyodorkan sebuah dokumen kepada Lina
"Antar dokumen ini ke kantor tuan muda dan kamu harus menyerahkan dokumen itu ke tangan tuan muda secara langsung, menurut tuan muda dokumen ini adalah dokumen penting jadi jangan serahkan ke tangan orang lain." jelas Dian
"Tapi saya tidak tau di mana kantor tuan muda bu"
"Ikuti saya," ucap Dian
Lina pun langsung naik ke dalam mobil tersebut dan sebuah kesalahan fatal dia lakukan pada saat itu karena dia tidak ingat untuk membawa ponselnya
FLASH OFF
Lina pun menghembuskan nafasnya dengan kasar karena menyadari kesalahan yang telah dia lakukan saat itu
"Saya mengerti mbak, apa bisa mbak tolong hubungi pak Tristan atau asisten pribadi pak Tristan untuk bertanya tentang hal ini?" tanya Lina
Sang resepsionis berdecak jengkel karena hal seperti itu sudah sering terjadi di tempat itu
"Tolong jangan mempersulit keadaan saya bu, kalau ibu memang ingin bertemu dengan pak Tristan saya harap ibu membuat janji temu terlebih dahulu." ucap sang resepsionis dengan tegas
"Tapi saya salah satu pekerja di rumah pak Tristan mbak"
__ADS_1
"Kalau begitu ibu bisa menghubungi pak Tristan atau asisten pribadi pak Tristan untuk konfirmasi"
Lina pun teringat dengan sang supir dan berniat untuk mencari sang supir untuk memberikan kabar kepada Tristan atau asisten pribadinya tentang kehadirannya di tempat itu
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu mbak," ucap Lina dengan senyuman sopan
Salah seorang resepsionis di tempat itu langsung berdecih dan menatap Lina dengan tatapan mata yang tajam
"Aku ga habis pikir!! kenapa selalu ada aja orang ga punya malu seperti dia?"
Lina memilih untuk mengabaikan ucapan sang resepsionis dan mulai melangkahkan kakinya, anehnya Lina tak bisa menemukan keberadaan sang supir di area parkir. Di sisi lain Tristan terlihat sedikit gelisah di dalam ruangannya
"Apa ada masalah tuan muda?" tanya Erik
"Kenapa perempuan itu masih belum sampai?"
"Siapa yang anda maksud tuan muda?"
"Saya meminta pelayan itu untuk mengantarkan sesuatu ke sini," jawab Tristan
Erik hanya terdiam dengan wajah datarnya
"Ada apa?" tanya Tristan
"Apa anda sudah memberitahukan bagian resepsionis tentang kedatangan pelayan itu tuan muda?"
Ingin sekali Erik tertawa lepas saat melihat ekspresi wajah sang tuan muda saat itu
"Segera beritahu mereka," ucap Tristan
"Baik tu..."
Erik tak bisa menyelesaikan apa yang akan dia katakan pada saat itu karena Tristan langsung melambaikan tangannya
"Saya akan menunggu dia di bawah," potong Tristan
__ADS_1
"Baik tuan muda"
Tristan pun bergegas meninggalkan bangku kebesarannya dan mulai menuju ke lantai dasar, dia juga menghubungi Dian untuk menanyakan tentang Lina. Tristan pun tersenyum tipis karena mendapatkan informasi bahwa Lina sudah tiba di sana, saat Tristan tiba di lantai dasar dia terlihat celingukan mencari keberadaan seseorang. Sontak saja kedua resepsionis yang berada di sana langsung saling pandang dengan perasaan sedikit panik