Dendam Wanita Sang Tuan Muda

Dendam Wanita Sang Tuan Muda
Menagih Bayaran


__ADS_3

Saat Lina keluar dari ruangan tersebut sudah ada Tristan yang menatap dia dengan tatapan yang dalam


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Lina


"Apa kamu mau masuk ke dalam sana seorang diri?" tanya Tristan balik dengan senyuman yang penuh arti


Saat itu Lina hanya bisa terdiam


"Apa kamu berniat membuat perempuan itu curiga karena kamu dan pasangan dia tidak berada di dalam sana di waktu yang bersamaan?" tanya Tristan


Entah mengapa Lina merasakan kemarahan dari tatapan mata Tristan pada saat itu


"Apa ini cuma perasaan aku aja?" batin Lina


Tristan langsung menggenggam tangan Lina dan mereka kembali ke ruangan semula, semua anggota keluarga Pratama menyambut kehadiran Lina di tempat itu dengan senyuman hangat. Sedangkan Anita membuang jauh pemikiran buruk dirinya kepada Lina karena Lina kembali bersama Tristan


Acara makan malam tersebut terbilang lancar tanpa ada hambatan yang berarti, Anita terlihat lebih banyak menundukkan kepalanya untuk menahan gejolak di dalam dadanya. Sedangkan di sisi lain Aldi terus saja mencuri pandang ke arah Lina


"Sial!! Kenapa aku ga pernah menyadari kalau Lina bisa tampil secantik itu?!!" gerutu Aldi dalam hatinya


Semua mulai membubarkan diri setelah merasa pertemuan tersebut sudah cukup dan Tristan langsung memasang wajah dingin setelah mereka berada di dalam mobil, Lina sendiri memilih diam karena tak mengerti arah pikiran sang tuan muda pada saat itu


Setelah tiba di kediamannya Tristan terlihat akan turun dari mobil tersebut dan dengan cepat Lina memegang salah satu tangan Tristan, dengan wajah yang dingin Tristan mulai menatap ke arah Lina


"Ada apa?" tanya Tristan


"Apa kamu marah?" tanya Lina balik


Tristan pun tersenyum dingin


"Iya, aku memang marah terhadap diri aku sendiri. Aku marah karena aku merasa seperti orang bodoh yang kamu permainkan, apa kamu puas mendengar jawaban dari aku?"

__ADS_1


"Tapi kenapa kamu harus bersikap seperti ini? Dari awal kamu sudah tau kalau tujuan aku adal..."


Saat itu Lina tak bisa menyelesaikan kata-katanya yang akan dia ucapkan karena Tristan meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya


"Untuk saat ini aku ga mau mendengarkan pembelaan apapun dari kamu, aku minta kamu memberikan aku waktu untuk menenangkan diri." jelas Tristan dengan dingin


Sang tuan muda langsung turun dari mobil tersebut dan Lina hanya bisa terdiam di dalam mobil tersebut, cukup lama juga mereka yang tersisa di dalam mobil tersebut berada di dalam keheningan hingga akhirnya Erik berinisiatif membuka suara


"Apa anda tidak akan turun nona Lina?" tanya Erik dengan sopan


Lina pun tersenyum getir


"Bukankah kalian juga mendengar sendiri kalau tuan muda kalian ingin waktu untuk menenangkan diri, itu artinya dia tidak ingin saya mengikuti dia saat ini." jawab Lina sambil menundukkan kepalanya


Erik dan sang supir hanya bisa saling pandang dengan perasaan sedikit bingung dengan keadaan yang sedang terjadi, di sisi lain hati kecil Lina merasa sedikit terluka karena dia merasa Tristan sedang menunjukkan posisi dirinya di hubungan mereka


"Buat apa kamu bersedih wahai Herlina Iskandar? Bukankah dari awal kamu sudah tau kalau hubungan ini terjadi karena saling menguntungkan, seharusnya kamu sadar kalau dia bisa melakukan apapun atas diri kamu." batin Lina sambil tersenyum getir


Lina pun menghembuskan nafasnya dengan kasar


"Apa anda sudah memutuskan untuk menyusul tuan muda nona?" tanya Erik


"Saya akan beristirahat di paviliun belakang sampai amarah tuan muda mereda," jelas Lina


Erik yang sudah paham akan sikap Tristan pun menjadi sedikit panik dan langsung menoleh ke arah bangku belakang


"Saya rasa itu bukan pilihan yang bijak nona Lina, saya memang kurang mengerti alasan tuan muda Tristan bersikap seperti tadi. Tapi jika anda melakukan hal tersebut saya yakin tuan muda Tristan akan sema..."


Tiba-tiba saja pintu mobil di bagian Lina di buka oleh seseorang dan orang tersebut adalah sang tuan muda, nafas sang tuan muda terlihat sedikit tersengal yang menandakan dia berlari saat ke arah mobil tersebut


"Apa seperti ini cara kamu bersikap sebagai wanita aku?!!" tanya Tristan dengan tegas

__ADS_1


Sontak saja Lina langsung menundukkan kepalanya dengan hati yang terasa semakin sakit


"Apa sekarang kamu jadi bisu dan tidak bisa menjawab pertanyaan aku? Apa kamu berencana untuk tidur di dalam mobil ini?" lanjut Tristan


Lina pun mulai menatap wajah sang tuan muda


"Apa kamu bisa belajar untuk mengatakan sesuatunya dengan sedikit jelas, setidaknya dengan begitu aku tidak akan melakukan kesalahan di mata kamu." jawab Lina di akhiri dengan senyuman palsu


Tristan mengeraskan rahangnya karena melihat senyuman palsu di bibir Lina, tanpa banyak bicara sang tuan muda langsung menarik tangan Lina untuk turun dari mobil itu dan membawa Lina masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Di sisi lain Erik hanya bisa tersenyum tipis melihat drama di antara mereka


"Sebaiknya anda mulai belajar tentang bersikap di hadapan seseorang yang anda cintai tuan muda, saya yakin anda akan terluka dengan sendirinya bila anda memperlakukan perempuan ini sama dengan perempuan yang berada di samping anda selama ini." batin Erik


Tristan terus melangkahkan kakinya ke arah kamarnya sambil terus menggenggam tangan Lina, bodohnya tiba-tiba saja Tristan teringat saat Lina baru saja selesai bertemu dengan Aldi. Tristan yang seorang pemain handal bisa dengan mudahnya mengetahui bahwa saat itu Lina baru saja berciuman dengan Aldi


"Sial!!" umpat Tristan


Tanpa sadar Tristan mengeratkan genggaman tangannya dan membuat Lina merasa kesakitan, Lina pun menarik tangannya dengan paksa


"Ada apa lagi?" tanya Tristan dengan wajah jengkelnya


Entah dari mana datangnya keberanian Lina saat itu karena dia menatap Tristan dengan tatapan mata yang tajam


"Jadi maksud kamu aku harus diam aja walaupun kamu menyakiti aku?" tanya Lina balik dengan nada terdengar sinis


Tristan pun menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk mengurangi gejolak yang sedang dia rasakan di dalam dadanya, dia mulai memegang kedua pipi Lina dan menatap jauh ke dalam mata Lina


"Aku minta maaf kalau tanpa sadar tadi aku sudah menyakiti perasaan kamu ataupun diri kamu, tapi aku harus jujur aku melakukan itu semua karena aku ga suka kamu memiliki hubungan dengan laki-laki lain." jelas Tristan


"Ga!! Di antara kami berdua tidak boleh ada perasaan apapun, di antara kami hanya ada kerja sama yang saling menguntungkan!!" batin Lina


"Aku akan menganggap kata-kata barusan tidak pernah kamu katakan sama sekali, aku harap kamu ga akan lupa tujuan aku berada di samping kamu." ucap Lina dengan tegas

__ADS_1


Lina pun mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar sang tuan muda dan tiba-tiba saja


"Kalau begitu mulai saat ini aku akan mulai menagih bayaran aku," ucap Tristan dengan serius


__ADS_2