
Aldi memilih untuk menemani Anita seharian dan membuat gadis itu merasa bahagia agar Anita tak menganggu kehidupan Lina, tapi di sisi lain Lina baru saja terbangun dari tidurnya karena di bangunkan oleh Dian
"Maaf karena saya terpaksa membangunkan anda atas perintah tuan muda nona," ucap Dian dengan sopan
Lina yang belum mendapatkan semuanya nyawanya menatap Dian dengan wajah bingung
"Tuan muda meminta saya untuk mengingatkan anda sudah saatnya anda meminum obat anda," lanjut Dian
Lina pun mulai mendudukkan tubuhnya dengan ekspresi wajah yang sama
"Kenapa bu Dian jadi bersikap seperti itu kepada saya?" tanya Lina dengan polosnya
"Saya hanya mengikuti perintah dari tuan muda," jawab Dian
FLASH BACK
Tristan masih di sibukkan dengan segudang masalah yang harus dia hadapi pada saat itu, secara tak sengaja mata Tristan tertuju ke arah jam dinding yang berada di ruang kerjanya
"Tunggu sebentar, saya harus meminta Dian untuk menyiapkan makan siang." ucap Tristan
Erik hanya menjawab dengan anggukan kepalanya
"Makan siang? Walaupun ini sesuatu yang belum pernah terjadi tapi ini adalah sebuah kabar bahagia, setidaknya dengan begitu saya bisa beristirahat walaupun hanya sebentar." batin Erik
Sang tuan muda terlihat memegang gagang telepon yang berada di atas meja kerjanya
"Tolong ke ruang kerja saya," ucap Tristan
"Baik tuan muda," jawab Dian di seberang sana
Tak lama kemudian
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk," ucap Tristan
Dian pun mulai masuk ke dalam ruangan tersebut lalu menundukkan sedikit kepalanya tanda memberi penghormatan
__ADS_1
"Apa anda membutuhkan sesuatu tuan muda?" tanya Dian
"Siapkan makan siang untuk Lina, kalau dia masih tertidur bangunkan dia karena sudah saatnya dia meminum obatnya." jelas Tristan
"Baik tuan muda"
Di sisi lain Erik hanya menggerutu di dalam hatinya mendengar hal tersebut
"Bukankah saya orang yang sedari tadi menemani anda berkerja tuan muda? Mengapa anda hanya memikirkan makan siang untuk perempuan itu?" batin Erik
"Kalau dia mencari saya, katakan saya ada di ruang kerja saya"
"Baik tuan muda"
"Kamu boleh keluar," ucap Tristan
Dian menganggukkan sedikit kepalanya dan hendak meninggalkan ruangan tersebut
"Tunggu," ucap Tristan
Dian pun kembali ke posisi semula, saat itu hati Erik merasa bahagia karena mengira sang tuan muda mengingat makan siang untuk dirinya
"Saya mengerti tuan muda"
Dian pun segera meninggalkan ruangan tersebut untuk melaksanakan perintah sang tuan muda, sedangkan Erik hanya bisa menangis dalam hati
"Belum pernah sekalipun tuan muda memberikan perintah seperti ini kepada para kekasihnya di waktu dulu, apa ini artinya tuan muda benar-benar serius ingin menjalin hubungan dengan Lina? Saya berharap tuan muda bersikap seperti itu bukan karena semata-mata perasaan kasihan terhadap Lina," batin Dian
Sebagai kepala pelayan di tempat itu sudah pasti Dian tau dengan pasti tragedi yang baru saja menimpa Lina
FLASH OFF
Lina yang merasa sedikit canggung atas sikap Dian sudah meminta Dian untuk bersikap seperti biasanya, tetapi Dian tak bisa melakukan hal tersebut karena perintah sang tuan muda adalah harga mati di mata Dian. Dengan sangat telaten Dian menyiapkan segala kebutuhan Lina dan mulai keluar dari dalam kamar tersebut setelah Lina meminum obatnya
Sedangkan di ruang kerja sang tuan muda Erik sudah mulai merasa sedikit tertekan dengan aura yang di pancarkan oleh sang tuan muda, dengan mudahnya Erik bisa mengetahui jalan pikiran sang tuan muda pada saat itu
"Bagaimana kalau besok saya akan turun ke lapangan untuk memastikan keadaan di sana tuan muda?" tanya Erik
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Tristan langsung bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah pintu
"Anda akan pergi ke mana tuan muda?" tanya Erik dengan cepat
Tristan pun langsung menatap ke arah Erik
"Untuk apa saya berlama-lama dengan kamu di sini kalau kita sudah membuat keputusan yang jelas," ucap Tristan
Tristan pun berdecak dengan ekspresi wajah yang terlihat sedikit meremehkan Erik
"Sebaiknya kamu segera mencari istri agar kamu tau yang namanya tanggung jawab menjaga pasangan kamu yang sedang sakit," lanjut Tristan dengan nada yang terdengar sedikit sinis
Sekuat tenaga Erik menahan diri agar tidak melepaskan tawanya di hadapan sang tuan muda, sedangkan Tristan langsung keluar dari dalam ruangan tersebut
"Sepertinya tuan muda sudah berhasil membuka hatinya untuk seorang wanita, saya harap anda bisa beristirahat dengan tenang di alam sana tuan besar." batin Erik sambil tersenyum tipis
Tristan pun masuk ke dalam kamarnya dan mencari keberadaan Lina tapi saat itu sosok Lina tak bisa dia temukan di dalam kamarnya
"Kemana dia?" gumam Tristan
Tristan pun mulai masuk ke dalam ruang ganti dan di sana dia bisa mendengar suara gemericik air yang menandakan bahwa Lina berada di dalam kamar mandi, sang tuan muda pun keluar dari ruang ganti dan memilih untuk mendudukkan tubuhnya di sofa
Lina saat itu memilih untuk membersihkan diri karena merasa badannya telah lengket akibat terlalu banyak tertidur, saat itu Lina tak bisa menemukan pakaian ganti untuk dirinya sedangkan pakaian yang dia pakai sebelumnya telah basah
"Mana mungkin aku keluar dengan keadaan seperti ini," gumam Lina
Lina pun mulai membuka lemari pakaian sang tuan muda dan saat itu dia melihat deretan kemeja putih yang cukup banyak
"Apa ini di bisa di masukkan dalam kategori mubazir? Bisa-bisanya dia punya kemeja putih sebanyak ini, aku yakin semua pakaian ini ga akan habis kalaupun dia pakai kemeja putih setiap harinya dalam satu bulan penuh." gerutu Lina
Lina pun mengambil salah satu kemeja yang berada di sana dan keluar dari ruang ganti, Tristan langsung melepaskan tatapan mata yang terlihat sedikit aneh pada saat itu
"Maaf karena saya telah lancang dan menggunakan pakaian anda, tapi..."
Kata-kata Lina langsung tertahan karena Tristan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, sang tuan muda pun langsung bangkit lalu menarik tangan Lina masuk ke dalam ruang ganti. Tristan membuka salah satu pintu dari lemari besar yang berada di sana dan di dalam lemari tersebut terdapat banyak sekali pakaian wanita
"Bisa-bisanya dia meyiapkan pakaian wanita sebanyak ini, uang memang bisa mengatur segalanya." batin Lina
__ADS_1
Tristan pun tersenyum tipis lalu dia memeluk tubuh Lina dari belakang dengan sangat erat
"Buang jauh semua pemikiran buruk kamu tentang saya saat ini, semua pakaian itu sengaja di siapkan khusus untuk kamu." bisik Tristan dengan lembut