
Lina yang merasa sudah mendapatkan kekuatannya kembali segera bangkit dan hendak membersihkan diri
"Diam di situ," ucap Tristan dengan cepat
Lina pun terdiam dengan wajah bingungnya, Tristan segera bangkit dan secepat kilat memakai celananya yang tercecer di atas lantai
"Kamu mau apa?" tanya Lina
Tristan tersenyum hangat dan mulai menghampiri Lina
"Hei!! Kamu mau apa?!!" teriak Lina dengan wajah paniknya
Tanpa banyak bicara Tristan membalut tubuh Lina secara hati-hati dengan selimut dan Lina pun di buat semakin panik dengan hal tersebut
"Jangan bilang kalau kamu berniat mengangkat aku ke kamar mandi!!" teriak Lina
Tristan mencium ujung kepala Lina dengan lembut
"Memang seperti itu," jawab Tristan dengan santai
"Hei!! Aku bukan anak perawan yang baru saja menghabiskan malam pertama dalam hidupnya!! Aku ini..."
Lina terpaksa terdiam karena Tristan langsung membungkam mulut Lina dengan ciuman yang lembut
"Tetap saja di mata aku malam ini adalah malam pertama untuk kita berdua, jadi aku akan berusaha untuk melakukan semua yang terbaik untuk kamu." jelas Tristan dengan lembut
Lina pun berdecak jengkel mendengar hal tersebut
"Malam pertama itu untuk pasangan yang telah menikah, sedangkan kita.." ucap Lina dengan nada sedikit sinis
"Aku bisa saja menjadikan kamu istri aku saat ini juga tapi aku yakin kamu belum siap untuk itu, aku akan membuat kamu terlepas dari jeratan hati kamu sebelum menjadikan kamu pendamping hidup aku untuk selamanya." batin Tristan
Tristan mencium ujung kepala Lina dengan lembut dan langsung mengangkat tubuh Lina ala bridal style, dia membawa Lina ke dalam kamar mandi dan memasukkan tubuh Lina secara perlahan ke dalam bathtub lalu mulai mengisi bathtub tersebut dengan air hangat
"Apa hangatnya sudah cukup?" tanya Tristan
"Mau sejauh apa kamu melayani aku?" tanya Lina balik dengan wajah malasnya
"Sampai tidak punya pemikiran sedikit pun untuk meninggal aku," batin Tristan sambil tersenyum tipis
__ADS_1
"Aku tunggu di luar ya," ucap Tristan
Lina yang malas untuk berdebat dengan sang tuan muda hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, sedangkan di luar sana Tristan langsung memerintahkan untuk menyiapkan teh hangat dan cemilan. Saat Lina keluar dari ruang ganti Tristan langsung melepaskan senyuman hangat dan menepuk bangku kosong di sebelahnya, sudah pasti Lina mengikuti keinginan Tristan saat itu
"Kamu ga ada niat untuk bersih-bersih?" tanya Lina
"Sudah di kamar mandi sebelah"
Tristan mengambil salah satu cangkir dan menyodorkan cangkir tersebut ke arah Lina
"Minum dulu supaya kamu tidak masuk angin"
Lina meminum teh hangat tersebut dan langsung menatap sang tuan muda dengan lekat
"Ada apa?" tanya Tristan
"Saat ini bisa di katakan kalau kamu sudah mulai mengambil bayaran kamu atas bantuan kamu terhadap aku"
Hati kecil Tristan merasa sedikit terganggu dengan ucapan Lina saat itu tapi dia memilih untuk tidak menunjukkan itu semua
"Lalu?" tanya Tristan
"Kamu sendiri maunya bagaimana?" tanya Tristan balik
Lina pun mengerutkan keningnya
"Sejauh apa kamu akan mengambil tindakan untuk mereka berdua?" lanjut Tristan
"Aku mau mereka merasakan yang namanya pengkhianat, aku ingin mereka merasakan rasa sakit yang setimpal dengan yang pernah aku rasakan." jawab Lina dengan yakin
"Apa tadi kamu berhasil membuat laki-laki itu merasa bersalah terhadap kamu?"
Lina menjawab dengan anggukan kepalanya
"Aku akan membuat celah agar kamu bisa semakin dekat dengan laki-laki itu," jawab Tristan
"Walaupun aku yakin hal tersebut akan menyakiti hati aku dengan sendirinya, seperti saat ini dengan membayangkan yang akan kalian lakukan saja sudah membuat hati aku terasa sakit." batin Tristan
Lina pun langsung sumringah membayangkan apa saja yang akan dia lakukan di masa depan, hal tersebut membuat hati sang tuan muda merasa semakin tidak nyaman. Tristan pun memilih untuk bangkit dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur
__ADS_1
"Kamu sudah mau tidur?" tanya Lina
"Aku ingin segera istirahat untuk mengisi ulang energi aku, bagaimana pun juga aku baru saja bekerja keras." jawab Tristan tanpa menoleh sama sekali
Tristan benar-benar merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memakai selimut dengan benar, Lina pun berniat untuk menyusul sang tuan muda tiba-tiba saja pandangan matanya tertuju ke arah cangkir teh milik sang tuan muda yang masih penuh seperti belum di sentuh sama sekali
"Selama ini aku selalu berusaha menutup mata dengan sikap yang dia tunjukkan tapi semakin lama semuanya terlihat semakin jelas, jangan bilang kalau dia benar-benar sudah main hati dalam hubungan ini. Bagaimana pun juga dia adalah penyelamat di dalam hidup aku, aku ga boleh menyakiti perasaan dia." batin Lina
Lina mulai bangkit dari duduknya dan merebahkan tubuhnya tepat di samping sang tuan muda
"Apa kamu sudah tidur?" tanya Lina
Saat itu Tristan tak memperlihatkan gerakan apapun seolah dia sudah benar-benar tertidur, Lina pun semakin yakin dengan kecurigaannya karena selama ini Tristan selalu tidur sambil memeluk tubuhnya sepanjang malam
"Aku harap kamu ga menaruh harapan apapun terhadap aku, seburuk apapun kamu di mata orang lain kamu tetaplah orang baik di mata aku. Aku ga ingin kamu terluka karena berharap sesuatu yang ga bisa aku berikan," jelas Lina terdengar sedikit lirih
Tiba-tiba saja Tristan memutar tubuhnya dan memeluk tubuh Lina dengan erat
"Kamu ga perlu terlalu memikirkan itu semua, kamu hanya perlu menikmati semua yang aku berikan untuk kamu." ucap Tristan dengan lembut dan di akhiri dengan ciuman lembut di ujung kepala Lina
Lina pun mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wajah sang tuan muda dan Lina bisa melihat senyuman hangat sang tuan muda
"Apa kamu benar-benar...."
Lina tak mempunyai keberanian untuk menyelesaikan kata-katanya saat itu dan Tristan tersenyum dengan hangat
"Kamu memang ga perlu memikirkan tentang hal itu tapi kamu juga ga bisa memaksa aku atas pilihan hati aku, saat ini kita hanya perlu menjalani ini semua dengan baik dan biarkan waktu yang menentukan akhir cerita kita." jelas Tristan dengan lembut
"Tapi kalau begini aku jadi merasa bersalah sama kamu, aku rasa hubungan ini jadi berjalan ga adil untuk kamu." ucap Lina dengan wajah bersalah
Tristan melepaskan senyuman yang terlihat hangat
"Kalau kamu merasa seperti itu kamu harus bersikap lebih baik lagi terhadap aku, aku cuma minta agar kamu bisa menjaga diri dan tubuh kamu dengan baik"
"Karena mulai saat ini aku akan menganggap kamu telah menjadi milik aku seutuhnya, aku harap kamu tidak melangkah terlalu jauh." batin Tristan sambil mencium ujung kepala Lina sekali lagi
Lina hanya bisa terdiam karena tak berani memberikan jawaban apapun pada saat itu, di satu sisi dia tak ingin menyakiti perasaan Tristan tapi di sisi lain dia sendiri tak yakin apakah dia mampu membuka hatinya sekali lagi untuk seseorang
"Sebaiknya kita istirahat karena besok malam kita masih akan melanjutkan rencana selanjutnya," lanjut Tristan
__ADS_1