
Lina yang sedang tak percaya dengan kata-kata cinta memilih untuk berdiam diri
"Saya tidak perduli dengan hal-hal seperti ini tuan muda karena tujuan saya berada di dekat anda hanya untuk meminjam kekuatan anda," batin Lina sambil tersenyum sinis
"Kamu juga jangan salah sangka dengan sikap saya, saya menunjukkan ini agar kamu tidak berpenampilan seperti ini di hadapan saya." lanjut Tristan berbisik lalu mencium leher putih Lina dengan lembut
Sang tuan muda pun semakin mengeratkan
"Kamu mungkin tidak sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan, asal kamu tau saya hampir saja kehilangan kendali saat melihat penampilan kamu tadi." jelas Tristan dengan lembut
Tanpa sadar Lina menampilkan sebuah senyuman yang terlihat sedikit sinis mendengar penjelasan dari Tristan, sang tuan muda sendiri mengetahui hal tersebut dari sebuah cermin yang berada di ruangan tersebut. Tristan pun memutar tubuh Lina hingga posisi mereka kini saling berhadapan
"Apa arti dari senyuman kamu tadi?" tanya Tristan dengan wajah seriusnya
"Apa maksud anda tuan muda?" tanya Lina berpura-pura bodoh
Tristan mengarahkan wajah Lina ke arah cermin
"Saat ini kamu sudah berstatus sebagai wanita saya, saya tidak ingin ada kebohongan di antara kita selama kita menjalin hubungan ini." ucap Tristan dengan tegas
Lina pun menampilkan senyuman sinis yang sebelumnya telah dia tampilkan sekali lagi
"Apa anda benar-benar ingin tau jalan pikiran saya saat ini?" tanya Lina dengan dingin
Tristan memutar wajah Lina hingga kedua bola mata mereka saling bertemu
"Katakan semua yang ada di dalam pikiran kamu saat ini," ucap Tristan dengan tegas
Lina pun membuang nafasnya dengan kasar
"Pertama, saya tersenyum seperti itu karena di pikiran saya anda benar-benar orang yang hebat dalam urusan merayu seorang wanita. Walaupun hal tersebut tidak akan berlaku untuk saya, karena yang ada di dalam pikiran saya saat ini hanyalah balas dendam." jelas Lina dengan dingin
Saat itu Tristan hanya terdiam sambil menatap Lina dengan lekat
"Yang kedua dan yang terpenting adalah anda tidak perlu memberikan saya perhatian yang berlebihan tuan muda, kita sepakat untuk melakukan hubungan ini agar kita bisa saling mendapatkan tujuan kita masing-masing." lanjut Lina
__ADS_1
Tristan pun tersenyum penuh arti
"Sayangnya itu semua hanya ada di dalam pemikiran kamu saja, karena saya yakin saya tidak akan melepaskan kamu dengan mudah walaupun masa perjanjian kita telah usai." batin Tristan
"Apa kamu masih membutuhkan kekuatan saya?" tanya Tristan dengan dingin
Lina hanya bisa terdiam dan menatap sang tuan muda dengan lekat
"Kalau kamu masih membutuhkan kekuatan saya maka lakukan tugas kamu layak wanita saya," lanjut Tristan
"Apa yang harus saya lakukan untuk di sebut layak sebagai wanita anda tuan muda?" tanya Lina dengan serius
"Mulailah dengan berhenti menggunakan bahasa formal dengan saya, buang jauh bahasa tuan muda kepada saya karena kamu akan menjadi wanita saya bukannya pelayan saya." jawab Tristan dengan serius
Lina pun melepaskan senyuman palsunya dan tiba-tiba saja Tristan menutup bibir Lina dengan salah satu tangannya
"Lebih baik kamu memasang wajah datar di depan aku dari pada kamu memasang senyum palsu di depan aku," ucap Tristan dengan lembut
Lagi-lagi Lina hanya bisa terdiam
Lina pun menjawab dengan anggukan kepalanya, sedangkan sang tuan muda langsung menarik tubuh Lina ke dalam pelukan hangatnya lalu memberikan sebuah ciuman lembut di ujung kepala Lina
"Saya hanya perlu memperlihatkan kesungguhan saya kepada kamu dan saya yakin suatu saat nanti kamu akan datang kepada saya dengan sendirinya," batin Tristan
"Apa kamu sudah meminum obat kamu?" tanya Tristan dengan lembut
"Saya..."
Tiba-tiba saja Tristan mencium bibir Lina dengan lembut
"Itu hukuman untuk kamu karena kamu sudah lupa apa yang baru saja aku katakan, tidak ada pasangan di dunia ini yang menggunakan kata saya dan anda dalam bahasa keseharian mereka." jelas Tristan dengan lembut
"Apa anda ingin saya memanggil anda dengan sebutan sayang?" tanya Lina dengan senyuman penuh arti
Tristan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh arti dan membuat Lina mengerutkan keningnya
__ADS_1
"Aku ga akan mengizinkan kamu menggunakan kata itu sebelum kamu menyerahkan hati kamu sepenuhnya untuk aku, kata sayang hanya sebuah kata kalau kamu tidak memberikan hati kamu kepada aku. Sama seperti yang selalu aku lakukan selama ini," batin Tristan
"Jadi anda ingin saya memanggil anda dengan sebutan apa?" tanya Lina dengan wajah serius
"Kamu boleh memanggil aku dengan nama aku atau dengan sebutan apapun yang kamu mau, tapi aku ga mau mendengar bahasa formal kamu lagi terhadap aku." jelas Tristan dengan lembut
"Saya menger..."
Lagi-lagi Lina tak bisa menyelesaikan kata-kata yang akan dia ucapkan karena sang tuan muda memberikan hukuman yang sama seperti sebelumnya, tapi sekali ini sang tuan muda tak mencium bibir Lina cukup lama dengan sangat lembut. Kedua bibir Lina secara bergantian di hisap lembut oleh sang tuan muda
Tristan memasukkan tangannya ke tengkuk Lina agar ciuman mereka bisa semakin dalam dan bodohnya permainan sang tuan muda membuat Lina terlena hingga dia mulai menutup kedua bola matanya, lidah Tristan pun mulai beradu dengan lidah Lina dan saat itu Lina mulai merasakan sedikit perih tak kala sang tuan muda mulai bermain sedikit panas
"Ehm...." erang Lina sambil menyerengit menahan perih
Tristan yang tersadar pun segera menghentikan semua aksinya
"Maaf aku benar-benar lupa kalau lidah kamu masih luka," ucap Tristan dengan wajah penuh penyesalan
Entah mengapa saat itu Lina bisa merasakan ketulusan dari ekspresi wajah sang tuan muda
"Saya baik-baik saja tuan muda," ucap Lina lalu tersenyum tipis
Tristan pun menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Apa kamu sudah mulai ketagihan dengan ciuman aku?" tanya Tristan dengan senyuman menggoda
"Bukan seperti itu maksud say..."
Lina langsung menghentikan ucapan yang akan keluar dari mulutnya pada saat itu, Tristan pun tersenyum tipis lalu mencium kening Lina dengan lembut
"Belajarlah dengan perlahan karena segala sesuatunya membutuhkan proses, sebaiknya ganti pakaian kamu dan aku tunggu kamu di luar ya." ucap Tristan dengan lembut
Lina pun hanya menjawab dengan anggukan kepalanya dan sang tuan muda segera melarikan diri dari ruang ganti, Tristan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan wajah menyesal
"Kenapa aku bisa berbuat sejauh itu tanpa memikirkan kalau keadaan dia belum baik-baik saja?" gumam Tristan
__ADS_1
Saat itu terselip perasaan menyesal di dalam hati sang tuan muda karena telah menyakiti Lina