
Begitu Lina keluar dari ruang ganti Tristan langsung menepuk bangku kosong di sebelahnya dan Lina pun mendudukkan tubuhnya di sana, saat itu sang tuan muda yang penggila kerja terlihat sedang memeriksa beberapa laporan yang masuk menggunakan tabletnya. Tristan menarik tubuh Lina agar Lina bisa bersandar pada dirinya, Lina pun melirik sekilas apa yang sedang di kerjakan oleh sang tuan muda pada saat itu
"Aku mungkin bukan orang yang pintar tapi aku yakin apa yang sedang di periksa saat ini adalah sesuatu yang penting, apa dia selalu bersikap seperti ini dengan semua wanita yang selama ini ada di sampingnya?" batin Lina
Tanpa sadar saat itu Lina menatap sang tuan muda dengan lekat dan dia pun mendapatkan hadiah berupa ciuman yang lembut di keningnya
"Apa hati kamu sudah mulai tergetar melihat ketampanan wajah aku? Bisa-bisanya kamu melihat wajah aku tanpa berkedip sama sekali," ucap Tristan dengan senyuman menggoda
Lina yang tak ingin membuat masalah memilih untuk memalingkan wajahnya dan sang tuan muda pun meletakkan tabletnya lalu memeluk tubuh Lina dengan erat
"Bukankah aku sudah bilang kalau kamu tidak boleh berbohong sama aku?" tanya Tristan dengan lembut
"Aku cuma penasaran akan sesuatu," jawab Lina tanpa menoleh
Tristan pun tersenyum puas karena akhirnya Lina tak lagi menggunakan bahasa yang formal kepada dirinya, sang tuan muda memutar wajah Lina agar pandangan mata mereka dapat saling bertemu
"Kamu penasaran tentang apa?" tanya Tristan
"Tidak perlu menjadi orang pintar untuk tau apa yang kamu lakukan tadi sesuatu yang cukup penting," jawab Lina
Tristan pun menganggukkan sedikit kepalanya
"Kenapa kamu membiarkan aku di samping kamu dan bisa melihat itu? Apa ini salah satu cara kamu membuat pasangan kamu melambung tinggi?" tanya Lina dengan wajah serius
Tristan pun tertawa geli mendengar hal tersebut dan semakin mengeratkan pelukannya
"Kamu adalah satu-satunya wanita aku yang berhasil melakukan hal itu," jelas Tristan di sela tawanya
Tanpa sadar Lina menunjukkan sebuah senyuman yang terlihat sedikit sinis
"Apa kamu berharap aku percaya tentang itu?"
Tristan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat
__ADS_1
"Apa kamu ga merasa takut aku akan membocorkan apa yang sudah aku lihat?" tanya Lina di akhiri senyuman sinis
"Aku yakin kamu ga akan melakukan hal itu," jawab Tristan dengan yakin
Lina pun mengerutkan keningnya sambil tersenyum sinis
"Aku yakin kamu ga akan ada niat untuk menjatuhkan aku karena kamu masih butuh kekuatan aku," lanjut Tristan
Lina pun tertawa mendengar hal tersebut dan membuat sang tuan muda menatap dia dengan lekat
"Bagaimana kalau aku menemukan seseorang yang memiliki kekuatan setara dengan kamu? Bisa saja pada akhirnya aku memilih untuk berkhianat sama kamu," ucap Lina dengan nada sinis
Sang tuan muda tersenyum hangat lalu mencium kening Lina dengan lembut
"Saya yakin kamu bukan perempuan yang seperti itu," ucap Tristan dengan lembut
"Karena saya yakin saya tidak akan pernah bisa mendapatkan kamu seandainya kejadian itu tidak pernah menimpa kamu," batin Tristan
Tristan menarik tubuh Lina masuk ke dalam pelukannya dan melanjutkan apa yang sedang dia kerjakan saat itu, Lina yang tak ingin tau tentang rahasia perusahaan sang tuan muda memilih untuk memiringkan posisi tubuhnya. Cukup lama juga mereka terus dalam posisi seperti itu dan bodohnya bisa-bisanya Lina tertidur dalam posisi seperti itu, Tristan mulai menyadari hal tersebut saat kepala Lina mulai bergoyang-goyang tanpa arah
Dengan sangat perlahan Tristan memindahkan posisi kepala Lina ke atas pahanya, Tristan melanjutkan kembali pekerjaannya dan membiarkan Lina terlelap di alam mimpi. Waktu pun terus berlalu hingga Lina terbangun dengan sendirinya, dengan perasaan tak enak hati dia langsung mendudukkan tubuhnya dengan benar
"Maaf karena aku ketiduran"
Tristan pun tersenyum dengan hangat
"Untuk apa kamu meminta maaf hanya karena masalah kecil seperti itu? Bukankah aku sudah bilang kalau kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan"
Tristan merentangkan tangannya agar Lina bisa masuk ke dalam pelukannya, tak ingin melakukan kesalahan yang sama Lina memilih untuk duduk dengan benar. Tanpa sadar Lina mulai tersenyum getir
"Dulu mas Aldi ga pernah sekalipun membiarkan aku melihat hal-hal seperti ini, jangankan hal-hal seperti ini bahkan mas Aldi ga pernah membiarkan aku meminjam ponselnya." batin Lina
Dengan setia Lina terus menemani sang tuan muda bekerja hinggap Tristan mulai melihat ke arah jam yang berada di dalam kamar tersebut, dia pun segera bangkit dari duduknya dan menghubungi Dian. Tristan memerintahkan untuk membawakan makan malam ke dalam kamar tersebut dan menyiapkan obat yang harus Lina konsumsi
__ADS_1
Tak lama kemudian Dian masuk ke dalam kamar tersebut untuk membawa semua yang di perintahkan oleh sang tuan muda, Tristan memerintahkan Dian untuk segera keluar dari dalam kamar tersebut
"Ayo makan, setelah ini kamu harus minum obat"
Entah mengapa saat itu ekspresi wajah Lina terlihat sedikit aneh
"Ada apa?" tanya Tristan
"Seharian ini aku sudah di kasih bubur tanpa rasa sama sekali, kenapa untuk makan malam aku masih harus memakan hal yang sama?" tanya Lina
Tristan meletakkan tangannya di ujung kepala Lina sambil tersenyum hangat
"Untuk sementara dokter menganjurkan agar kamu memakan bubur tanpa di beri apapun, saat nanti keadaan kamu sudah pulih aku akan menyiapkan apapun yang kamu inginkan"
Di tempat yang berbeda Anita dan Aldi sedang melakukan pergumulan panas mereka dengan cara yang berapi-api, sebisa mungkin Aldi memberikan semua yang terbaik untuk Anita karena dia tak ingin Anita mengganggu kehidupan Lina lagi. Aldi pun menjatuhkan tubuhnya yang telah lemas di samping Anita dan langsung memeluk tubuh Anita
"Minggu depan kamu luangkan waktu kamu ya," ucap Anita
Aldi pun langsung menatap Anita
"Rencananya aku mau mempertemukan kamu sama mama aku sayang," lanjut Anita
"Kamu atur aja sebaik mungkin sayang, yang pasti aku akan melakukan apapun yang bisa membuat kamu bahagia"
Anita pun langsung memeluk tubuh sang kekasih dengan hati yang berbunga-bunga, di sisi lain sang tuan muda mulai mengarahkan Lina untuk berbaring di atas tempat tidur. Lina yang sudah terlalu banyak tertidur sulit untuk langsung tertidur
"Apa kamu ga bisa tidur?" tanya Tristan dengan lembut
Lina pun mengangguk
"Bagaimana kalau kita menonton film sampai obat yang kamu minum bereaksi?"
Secara spontan Lina langsung melepaskan senyuman terbaik yang dia miliki
__ADS_1
"Ternyata semudah ini membuat kamu tersenyum dengan tulus," batin Tristan sambil tersenyum tipis
Tristan pun mulai mengambil tabletnya dan Lina langsung mendudukkan tubuhnya dengan sempurna, Tristan menarik tubuh Lina agar masuk ke dalam pelukannya dan memutar film yang Lina inginkan. Dengan setia sang tuan muda menemani Lina menyaksikan film tersebut, malam panjang mereka mereka habiskan dengan cara seperti itu hingga Lina mulai terlelap di alam mimpi