
Lina tak menghilangkan senyuman di bibirnya karena merasa bahagia bisa bertemu dengan Tristan di tempat itu
"Kebetulan sekali saya bisa bertemu dengan anda ada di sini tuan muda, saya di minta Bu Dian untuk menyerahkan sesuatu kepada anda tapi saya tidak di izinkan untuk masuk dan menemui anda. Saya juga tidak membawa ponsel saya agar bisa memberitahukan kepada Bu Dian tentang keadaan saya," jelas Lina
Tristan dengan setia hanya terdiam dan mendengarkan celoteh Lina saat itu, entah mengapa hati Tristan merasa tergelitik dengan sikap yang Lina tunjukkan saat itu. Tanpa sadar Tristan langsung mencium pipi Lina dengan lembut dan membuat Lina membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna karena merasa terkejut
Secara spontan Lina langsung mendorong tubuh Tristan dengan cukup kuat, sedangkan sang tuan muda hanya melepaskan senyuman tipis di bibirnya
"Kenapa anda mencium saya tuan muda?" tanya Lina dengan tegas
"Sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah melakukan tugas kamu dengan baik," jelas Tristan dengan santai
Ingin sekali rasanya Lina menghajar laki-laki yang berada di hadapannya tersebut dengan sekuat tenaga, sayangnya dia tak memiliki keberanian untuk melakukan hal tersebut. Lina pun segera menyodorkan dokumen yang berada di tangannya ke arah Tristan dan Tristan mengambil dokumen tersebut
"Saya rasa tugas yang di berikan kepada saya telah selesai saya laksanakan dan saya pamit untuk undur dir..."
Lina tak berhasil menyelesaikan kata-kata yang akan dia ucapkan pada saat itu karena tiba-tiba saja Tristan menarik tangan Lina dan membawa Lina masuk ke dalam gedung tersebut
"Apa yang akan anda lakukan tuan muda? Anda akan membawa saya kemana? Saya harus segera kembali untuk melanjutkan tugas-tugas saya di rumah anda," ucap Lina dengan tegas sambil berusaha untuk melepaskan tangannya
Tristan sama sekali tak memperdulikan ucapan Lina dan terus memegang tangan Lina, sekuat apapun Lina berusaha melepaskan tangannya tetap tak bisa membuahkan hasil apapun. Tristan mulai menghentikan langkah kakinya saat mereka berada di depan meja resepsionis, Tristan menatap ke arah kedua resepsionis yang berada di sana
"Kalian perhatikan wajah perempuan ini baik-baik," ucap Tristan dengan dingin
"Baik pak," ucap kedua resepsionis dengan serempak
Perasaan takut sudah menyelimuti hati kedua resepsionis tersebut
"Kalian wajib mengingat wajah perempuan ini dan bila dia datang lagi ke tempat ini jangan pernah menghalangi dia untuk bertemu saya," lanjut Tristan
"Baik pak," jawab kedua resepsionis tersebut secara serempak dengan wajah pucat pasi
"Ternyata dia cuma mau memperkenalkan aku dengan resepsionis yang bekerja di tempat ini, bisa jadi agar di kemudian hari aku bisa lebih mudah saat masuk ke gedung ini. Mungkin aja suatu saat nanti aku akan di minta lagi untuk mengantarkan sesuatu seperti saat ini, hampir saja aku salah paham." batin Lina
Untuk sesaat Lina bisa bernafas lega dengan adanya' hal tersebut, tetapi sayangnya itu semua tidak berlangsung lama karena Tristan melanjutkan langkah kakinya dengan terus menggenggam tangan Lina. Lina yang merasa panik pun menarik tangannya dengan paksa, Tristan pun langsung menatap ke arah Lina karena hal tersebut
__ADS_1
"Kemana anda mau membawa saya tuan muda?" tanya Lina dengan tegas
"Saya hanya mau membawa kamu ke ruangan saya," jelas Tristan
Lina pun langsung menatap sang tuan muda dengan tajam
"Untuk apa anda membawa saya ke ruangan anda tuan muda?"
"Saya mau kamu menunggu saya di sana selama saya melakukan pertemuan," jelas Tristan
Lina pun mengerutkan keningnya dengan wajah tidak suka mendengar penjelasan sang tuan muda
"Untuk apa saya menunggu anda di dalam ruangan anda tuan muda? Bukankah saya akan lebih berguna bila saya segera meninggalkan tempat ini? Dengan begitu saya tidak akan mengganggu waktu anda yang berharga," ucap Lina dengan tegas
"Karena saya mau kamu pulang bersama saya," ucap Tristan dengan serius
Lina pun hanya terdiam sambil menatap sang tuan muda dengan lekat
"Saya benar-benar merasa beruntung kalau mendapatkan perlakuan seperti itu dari anda tuan muda," ucap Lina
"Tapi saya juga harus mengucapkan permohonan maaf kepada anda karena saya tidak bisa berlama-lama di tempat ini karena saya sudah membuat janji temu dengan orang lain," lanjut Lina
"Apa dia berencana untuk bertemu dengan mantan suaminya?" batin Tristan sambil mengeraskan rahangnya
Lina pun tersenyum tipis karena merasa sudah tak mendapatkan perlawanan dari sang tuan muda
"Kalau begitu saya pamit undur diri tuan muda"
Lina menganggukkan sedikit kepalanya sebagai tanda penghormatan kepada sang tuan muda
"Siapa?" tanya Tristan dengan wajah dinginnya
"Maksud anda tuan muda?"
"Siapa orang yang akan kamu temui?
__ADS_1
Lina pun tersenyum dingin
"Saya rasa saya tidak punya kewajiban untuk melaporkan semua kegiatan pribadi saya terhadap anda tuan muda," jawab Lina dengan tegas
Tristan yang merasa harga dirinya terluka pun memilih untuk langsung meninggalkan Lina begitu saja, sedangkan Lina memilih untuk segera meninggalkan gedung tersebut. Lina berusaha untuk keberadaan sang supir sekali lagi tapi tetap tak bisa dia temukan, dia yang merasa jengkel pun memilih untuk naik ke sebuah taksi yang terparkir tak jauh dari tempat itu
"Aku kira dia sudah menyerah, kenapa dia mulai bersikap seperti ini lagi?" batin Lina
Lina pun terlihat berpikir keras untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya saat itu
"Jangan-jangan dia bersikap seperti itu karena selama ini aku selalu menunjukkan perlawanan di hadapan dia, kalau memang benar seperti itu berarti aku harus mulai merubah sikap aku bila hadapan dia." batin Lina
Mungkin Lina baru menyadari tentang hal tersebut tapi dia tak tau bahwa dia sudah berhasil mendapatkan tempat yang spesial di dalam hati sang tuan muda, di tempat yang berbeda Tristan berusaha secepat mungkin menyelesaikan pertemuan dirinya dan koleganya. Tristan mendudukkan tubuhnya di bangku kebesarannya dengan wajah dinginnya
"Aku benar-benar sudah terjerat oleh perempuan itu!! Bisa-bisanya dia merusak suasana hati aku hanya dengan sikap seperti itu!!" gerutu Tristan dalam hatinya
Tak lama kemudian Tristan menyadari bahwa ada sesuatu yang telah terjadi, hal tersebut dia sadari saat dia melihat ekspresi wajah Erik pada saat itu
"Ada masalah apa?" tanya Tristan
"Ibu Dian baru saja mengabarkan bahwa pelayan yang tadi sempat datang seperti menghilang tuan muda," jawab Erik
Adit pun langsung memasang wajah malas saat mendengar Erik membahas tentang Lina
"Menghilang dia bilang? Mungkin saja saat ini dia sedang asik dalam pelukan laki-laki itu!! Dengan sengaja saya memerintahkan Dian agar tidak memberikan dia kesempatan membawa uang dan ponselnya!! Tapi dia lebih memilih untuk menemui laki-laki itu di bandingkan menerima kebaikan saya!!" batin Tristan sambil mengeraskan rahangnya
"Apa saya harus menyebarkan orang untuk mencari keberadaan pelayan itu tuan muda?" tanya Erik
Tristan pun tersenyum dingin
"Apa dia anak kecil yang bisa menghilang begitu saja?"
"Maafkan saya tuan muda"
Saat itu Tristan memilih untuk mengabaikan tentang kabar tersebut karena masih merasa jengkel terhadap Lina
__ADS_1