
Menemani dirinya di kamar itu
"Saya di perintahkan oleh ibu Dian untuk menemani anda di dalam kamar ini nona," ucap Amira dengan sopan
Sontak saja Lina langsung memasang wajah sedih mendengar Amira berbicara seperti itu kepada dirinya, Amira pun merasa sedikit panik melihat ekspresi wajah Lina yang sudah seperti itu
"Maafkan saya kalau saya telah melakukan kesalahan terhadap anda nona," ucap Amira dengan hati-hati
"Aku memang berada di dalam kamar ini karena sebuah alasan tapi aku masih Lina yang kemarin, aku minta kamu jangan bersikap seperti ini sama aku." jelas Lina lirih
Entah mengapa tiba-tiba saja Amira tersenyum getir dan langsung memeluk tubuh Lina dengan erat
"Maafin aku ya, aku terpaksa bersikap seperti tadi karena perintah dari bu Dian." jelas Amira
FLASH BACK
Dian pun segera meminta seseorang untuk mencari Amira dan meminta Amira untuk menemui dirinya
"Anda mencari saya bu?" tanya Amira
"Duduk dulu"
Amira pun mendudukkan tubuhnya dengan hati yang sudah tak menentu, karena setiap pelayan di tempat itu yang di panggil oleh Dian secara langsung sebagian besar karena terlibat sebuah masalah
"Apa saya telah melakukan kesalahan bu?" tanya Amira dengan hati-hati
"Bukan itu, saya memanggil kamu untuk menyampaikan perintah tuan muda kepada kamu." jelas Dian
Sontak saja Amira langsung memasang wajah panik saat mendengar hal tersebut
"Apa saya telah melakukan sesuatu yang menyingung tuan muda bu?"
"Diam dan dengarkan penjelasan saya terlebih dahulu," ucap Dian dengan wajah seriusnya
Amira pun langsung menutup rapat mulutnya
"Tuan muda memerintahkan kamu untuk menemani nona Lina di dalam kamarnya selama tuan muda pergi kantor, kamu juga di minta untuk menjaga nona Lina dengan baik." jelas Dian
"Maaf bu, yang ibu maksud dengan nona Lina. Apa Lina yang saya kenal di tempat ini?" tanya Amira dengan hati-hati
__ADS_1
Dian menganggukkan sedikit kepalanya
"Saya harap kamu bisa bersikap sopan kepada nona Lina selayaknya kamu bersikap di hadapan tuan muda Tristan, saya rasa kamu sudah paham dengan arah tujuan saya." ucap Dian dengan tegas
"Saya mengerti bu"
Tiba-tiba saja ekspresi wajah Dian saat itu menunjukkan perasaan sedih
"Apa ada lagi yang perlu saya ketahui bu?"
"Saat nanti kamu bertemu Lina jangan memaksa dia untuk bercerita apapun yang tidak ingin dia ceritakan, kamu cukup tau saja kalau sesuatu yang buruk baru saja menimpa anak itu." jelas Dian
Tanpa sadar Amira memasang wajah sedikit kecewa mendengar hal tersebut
"Apa tuan muda telah melakukan sesuatu yang buruk terhadap Lina?"
Dian pun langsung memasang wajah dingin mendengar hal tersebut
"Maaf karena saya sudah bersikap lancang bu, saya hanya merasa khawatir dengan keadaan Lina dan tanpa sadar bersikap seperti itu." jelas Amira
Dian pun menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Yang pasti sesuatu yang buruk baru saja menimpa Lina dan bukan tuan muda yang melakukan hal tersebut, tuan muda adalah orang yang menyelamatkan Lina dari kejadian tersebut. Hanya sejauh itu yang bisa saya jelaskan kepada kamu"
"Berhenti melamun dan ikuti saya," ucap Dian
Dian pun segera bangkit dari duduknya dan sudah pasti Amira mengikuti langkah kaki Dian, sebelum mengetuk kamar sang tuan muda Dian menatap Amira dengan wajah seriusnya
"Kamu harus mengingat semua yang sudah katakan sebelumnya," ucap Dian dengan tegas
"Baik bu"
"Kamu bisa mengetuk pintunya setelah saya pergi"
"Baik bu"
FLASH OFF
Lina pun tersenyum tipis karena dia mengerti posisi Amira saat itu
__ADS_1
"Kita masuk ke dalam yuk," ucap Lina
Mereka pun mulai masuk ke dalam kamar tersebut dan Lina mendudukkan tubuh di atas sofa, tetapi saat itu Amira tampak sedikit bingung dengan keadaan tersebut
"Ada apa?" tanya Lina
"Apa aku boleh duduk di sofa itu?" tanya Amira
"Dia bilang aku boleh melakukan apapun yang aku inginkan di rumah ini, seharusnya ga akan jadi masalah kalau aku meminta Amira untuk duduk bareng aku." batin Lina
Lina pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis, Amira pun mendudukkan tubuhnya di samping Lina walaupun dengan hati yang sedikit cemas. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan dari pintu kamar tersebut, secara spontan Amira langsung bangkit dari duduknya dan membukakan pintu
Dian pun masuk ke dalam kamar tersebut dengan membawa buah-buahan dan beberapa makanan ringan yang lembut, dia meletakkan semua yang dia bawa di meja yang berada di depan Lina. Sedangkan Amira saat itu berdiri tegap di samping sofa tersebut
"Apa ada lagi yang anda butuhkan nona?"
Lina hanya menjawab dengan gelengan kepalanya
"Kalau begitu saya permisi dulu nona"
"Boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Lina
"Apa yang ingin anda tanyakan kepada saya nona?"
"Tuan muda mengatakan kepada saya kalau dia akan memerintahkan seseorang untuk menemani saya di kamar ini selama dia berada di rumah ini," ucap Lina dengan serius
Dian pun menganggukkan sedikit kepalanya
"Saya ingin seseorang yang di kirim ke kamar ini bisa saya jadikan teman untuk berbincang, saya tidak memerlukan seseorang di dalam kamar ini bila orang tersebut hanya di tugaskan sebagai seorang pelayan." lanjut Lina dengan tegas
Dian pun langsung mengerti arah ucapan Lina pada saat itu, dia pun langsung menatap ke arah Amira dan menganggukkan sedikit kepalanya tanda memberi izin kepada Amira untuk melakukan hal tersebut. Dian pun segera undur diri dari kamar tersebut dan meninggalkan mereka berdua, ternyata saat itu Tristan sedang memperhatikan itu semua melalui tabletnya
"Wanita yang telah aku pilih memang harus berani untuk bersikap seperti itu, aku harap kamu ga akan pernah lagi menundukkan kepala kamu di hadapan orang lain." batin Tristan sambil tersenyum tipis
Tristan pun mulai menutup tabletnya karena dia sudah tiba di kantor, di sisi lain kini hanya tersisa Lina dan Amira di dalam kamar tersebut. Lina pun melepaskan senyuman tipis di bibirnya
"Sekarang sudah ga ada lagi alasan kamu untuk tetap berdiri"
Amira pun tersenyum dan mendudukkan tubuhnya di samping Lina, saat itu Amira bisa merasakan bahwa keadaan Lina tidak baik-baik saja dari guratan wajah Lina saat itu
__ADS_1
"Kamu tetap mau jadi teman aku kan walaupun aku ada di dalam kamar ini?" tanya Lina terdengar sedikit lirih
"Kamu ngomong apa sih Lin? apapun yang terjadi aku tetap percaya kalau kamu adalah perempuan yang baik, aku yakin pasti ada alasan yang kuat di balik keputusan kamu saat ini." ucap Amira dengan yakin