
Kedua bola mata Lina mulai berkaca-kaca mengingat kenangan hitam yang telah menimpa dirinya
"Apa aku boleh peluk kamu Amira?" tanya Lina lirih
Dengan cepat Amira langsung memeluk tubuh Lina dengan erat, saat itu Amira berharap pelukan yang dia berikan bisa memberikan Lina sedikit kekuatan
"Seberat apapun cobaan yang datang pasti akan berlalu Lin, kalau kamu merasa berat kamu bisa membagi beban itu sama aku. Tapi kamu juga ga perlu menceritakan apapun kalau kamu merasa ga sanggup untuk menceritakan itu," ucap Amira dengan lembut
Lagi-lagi kelembutan suara Amira bisa membuat hati Lina merasakan ketenangan, Lina pun mulai melepaskan pelukannya dengan air mata yang mulai terjatuh di pipinya. Lina mulai menceritakan semua yang telah terjadi kepada dirinya kepada Amira tanpa ada yang di tutupi sama sekali, kedua bola mata Amira ikut berkaca-kaca karena membayangkan perasaan Lina yang mengalami itu semua
"Apa ada yang kamu kenal salah satu dari para bajingan itu Lin?" tanya Amira dengan hati-hati
Lina pun menggelengkan kepalanya
"Mereka semua cuma orang suruhan yang di minta untuk melakukan hal keji itu terhadap aku," jelas Lina dengan air mata yang terus menetes
Saat itu Amira sampai tak bisa berkata-kata, dia tak bisa membayangkan ada seorang manusia yang bisa melakukan hal keji seperti itu. Lina pun tersenyum getir
"Apa kamu mau tau alasan aku yang sebenarnya menerima tawaran tuan muda untuk menjadi wanitanya?"
Amira pun melepaskan senyuman hangat di bibirnya dan menggenggam kedua tangan Lina dengan erat
"Apapun alasan kamu yang sebenarnya ga akan merubah penilaian aku terhadap kamu Lin, aku yakin kalau kamu adalah orang yang baik. Aku ga akan pernah menyesal telah memilih kamu sebagai teman aku," ucap Amira dengan bersungguh-sungguh
Lina pun tersenyum getir sambil menggelengkan sedikit kepalanya
"Kamu salah Amira, aku ini bukan orang baik seperti apa yang ada dalam pikiran kamu"
Amira pun terdiam dengan wajah bingung
"Aku bersedia menjadi wanita tuan muda Tristan untuk meminjam kekuatan tuan muda, aku ga ada niat sedikitpun untuk melepaskan orang-orang jahat itu begitu aja." jelas Lina lirih
Tanpa banyak bicara Amira langsung memeluk tubuh Lina dengan erat, sebagai sesama wanita Amira bisa mengerti sakit hati yang Lina rasakan saat itu
"Aku memang ga akan bisa tau dengan pasti sesakit apa perasaan kamu saat ini Lin, tapi aku harap kamu tetap tegar menghadapi kehidupan ini. Kamu harus selalu ingat kalau kamu ga sendirian di dunia ini, kapanpun kamu butuh bantuan aku ataupun teman untuk cerita kamu bisa cari aku." ucap Amira lirih
__ADS_1
Lina pun menangis dengan hebatnya di dalam pelukan Amira, sedangkan Amira berusaha untuk terus memberikan semangat dan kekuatan untuk hati Lina. Tapi di sisi lain sang tuan muda yang saat itu sudah berada di bangku kebesarannya sedang melihat itu semua
"Berani sekali orang rendahan seperti kalian membuat wanita saya menangis sampai seperti itu!!" batin Tristan sambil mengeraskan rahangnya
Tristan pun langsung meraih ponselnya dan menghubungi Dian
"Selamat pagi tuan muda"
"Mulai detik ini jangan berikan tugas apapun kepada pelayan yang saat ini sedang bersama Lina, satu-satunya tugas yang harus dia lakukan di rumah saya adalah menemani Lina saat saya tidak berada di rumah." ucap Tristan dengan dingin
"Baik tuan muda"
Tristan langsung memutuskan sambungan teleponnya sambil mengeraskan rahangnya, tak lama kemudian Tristan kembali menghubungi seseorang
"Selamat pagi tuan muda"
"Bagaimana keadaan di sana?"
"Saya baru saja tiba di bandara tuan muda, setelah ini saya akan menuju ke lokasi untuk melakukan peninjauan." jawab Erik di seberang sana
"Apa kamu sudah mendapatkan informasi yang berguna tentang orang-orang rendahan itu?" tanya Tristan dengan dingin
Tristan pun tersenyum dingin mendengar hal tersebut
"Bisa-bisanya kalian menjalani hidup dengan tenang seperti itu setelah kalian menghancurkan hidup seseorang," batin Tristan
"Apa hanya itu yang bisa kamu dapatkan sebagai orang kepercayaan saya Erik?"
"Hampir setiap malam mereka akan berpesta di sebuah club yang cukup ternama tuan muda"
"Selesaikan pekerjaan kamu di sana secepat mungkin karena saya membutuhkan kamu di sini"
"Saya mengerti tuan muda"
Tristan pun memutuskan sambungan teleponnya dengan senyuman dingin menghias bibirnya
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita membuat permainan ini menjadi semakin menarik?" gumam Tristan
Tristan berusaha menyelesaikan pertemuan penting itu secepat mungkin karena seluruh pikirannya hanya tertuju kepada Lina, dia pun memilih untuk segera kembali ke kediamannya begitu pertemuan penting tersebut telah usai
Di sisi lain Amira berusaha mengalihkan pikiran Lina agar tak larut dalam kesedihan dengan berbagai cerita yang lucu, saat sang tuan muda membuka pintu kamarnya Lina dan Amira sedang tertawa dengan lepas. Sontak saja Amira langsung terkejut dan bangkit dari duduknya
"Maafkan saya karena telah bersikap tidak sopan kepada nona Lina tuan muda," ucap Amira dengan menundukkan kepalanya
Lina pun tak bisa berdiam diri melihat ekspresi wajah Amira yang sudah pucat karena ketakutan
"Ini bukan kes..." ucap Lina tertahan
"Kerja bagus," ucap Tristan dengan lembut
Amira pun mulai berani mengangkat wajahnya
"Kamu bisa keluar dari kamar saya dan temui Dian karena saya sudah memerintahkan tugas baru untuk kamu di rumah ini," ucap Tristan
"Baik tuan muda"
Amira pun segera keluar dari dalam kamar tersebut dan Tristan langsung menatap ke arah Lina dengan senyuman hangat
"Bagaimana keadaan kamu? Apa sudah lebih baik?" tanya Tristan
Lina hanya menjawab dengan anggukan kepalanya
"Aku ganti baju dulu ya, setelah itu ada beberapa masalah yang perlu kita bahas"
Lina pun menganggukkan kepalanya sekali lagi, setelah berganti pakaian sang tuan muda langsung mendudukkan tubuhnya di samping Lina. Tristan pun menatap wajah Lina dengan lekat
"Pertama aku mau kasih tau kamu kalau aku berencana untuk mengganti semua perabotan yang ada di dalam kamar ini," ucap Tristan
Lina pun menatap sang tuan muda dengan tatapan mata yang terlihat sedikit aneh
"Ada apa?" tanya Tristan
__ADS_1
"Apa alasan kamu tiba-tiba mau mengganti barang-barang di dalam kamar ini? aku lihat semua barang yang ada di dalam kamar ini masih bagus." jelas Lina
"Alasannya simpel aja, karena aku ga mau kamu menggunakan barang yang sama dengan barang yang sudah pernah di sentuh wanita lain." jelas Tristan