
Pagi yang indah pun mulai menyapa dan saat Lina membuka kedua bola matanya senyuman hangat Tristan menyambutnya
"Kamu sudah bangun?" tanya Tristan dengan lembut
"Anda tidak berolahraga pagi ini tuan muda?" tanya Lina balik untuk mengusir perasaan canggungnya
Tristan menghadiahi sebuah ciuman lembut di ujung kepala Lina
"Bagaimana saya meninggalkan kamar dan berolahraga saat kamu masih terlelap? Saya takut kamu jadi merindukan saya kalau saya tidak ada saat kamu membuka mata"
Secara spontan Lina langsung memasang malas mendengar rayuan sang tuan muda di pagi hari, Tristan pun tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Lina saat itu
"Apa kamu berani saya tinggal sendirian di dalam kamar ini? Saya mau berolahraga seperti biasa setelah itu kita akan sarapan bersama, saya sudah meminta Dian untuk menyiapkan bubur untuk kamu." ucap Tristan dengan lembut
Lina hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, Tristan pun segera bangkit meninggalkan tempat tidur tapi tiba-tiba saja Tristan menundukkan kembali tubuhnya dan menatap Lina dengan wajah seriusnya
"Apa ada masalah tuan muda?" tanya Lina
"Saya tidak mau kamu mencuri kesempatan untuk melarikan diri dari kamar ini saat saya berolahraga," jawab Tristan dengan tegas
"Saya mengerti tuan muda, saya akan tetap berada di dalam kamar ini selama anda berolahraga"
Tristan pun tersenyum tipis dan menghadiahkan ciuman lembut di ujung kepala Lina, Lina menampilkan senyuman palsu di bibirnya dan sang tuan muda pun mulai meninggalkan kamar tersebut
"Bagaimana para wanita tidak tergila-gila dengan dia kalau sikap dia seperti itu!!" gerutu Lina dalam hatinya
Lina yang tak tau harus berbuat apa di dalam kamar tersebut memilih untuk membersihkan diri, saat Lina keluar dari dalam kamar mandi dia menemukan pakaian untuk dirinya di samping pakaian kerja sang tuan muda. Lina pun tersenyum getir pada saat itu
"Saat ini status aku sama dengan perempuan yang dulu aku anggap hina di mata aku," batin Lina
Lina pun memilih untuk mendudukkan tubuhnya di sofa setelah berpakaian dengan benar, tak lama kemudian masuk ke dalam kamar tersebut dan langsung tersenyum tipis karena melihat Lina masih berada di dalam kamar tersebut
"Kamu sudah mandi?" tanya Tristan
Lina pun menganggukkan sedikit kepalanya
"Ya sudah kalau begitu saya bersih-bersih dulu ya"
Lina sedikit merasa terkejut karena sang tuan muda keluar dari ruang ganti dengan pakaian rumahnya
__ADS_1
"Sepertinya tadi aku melihat pakaian dia untuk ke kantor di samping pakaian aku, kenapa dia pakai baju rumah?" batin Lina
"Apa hari ini anda tidak pergi ke kantor tuan muda?" tanya Lina
Tristan pun tersenyum hangat sambil melangkahkan kakinya ke arah Lina lalu mendudukkan tubuhnya tepat di samping Lina
"Untuk hari ini rencananya saya tidak akan ke kantor karena saya harus menjaga kamu dengan baik, saya rasa percuma saya pergi ke kantor kalau saya tidak akan bisa konsentrasi sama sekali"
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar tersebut di ketuk oleh seseorang dari luar
"Masuk"
Dian masuk ke dalam kamar tersebut dan membawa sarapan untuk mereka berdua, Lina yang tak tau harus berbuat apa memilih untuk menundukkan kepalanya
"Apa ada lagi yang anda perlukan tuan muda?" tanya Dian
"Kamu bisa langsung keluar, saya akan memanggil kamu saat kami sudah selesai sarapan." jawab Tristan
"Baik tuan muda"
"Minta juga dokter Ricky bersiap untuk memeriksa keadaan dia setelah kami sarapan"
"Baik tuan muda"
"Ada apa tuan muda?"
"Apa kamu tidak merasa jenuh di dalam kamar ini?" tanya Tristan
Senyuman bahagia langsung mengembang di wajah Lina
"Jadi anda mengizinkan saya untuk kembali ke paviliun belakang?" tanya Lina bersemangat
Tristan pun mengerutkan keningnya
"Apa pemikiran saya salah tuan muda?" tanya Lina dengan hati-hati
"Saya hanya ingin mengajak kamu untuk duduk di taman depan kalau kamu merasa bosan di dalam kamar, bukan berarti saya mengizinkan kamu untuk kembali ke paviliun belakang." jelas Tristan dengan tegas
Lina pun mengikuti arahan sang tuan muda karena dia berpikir dengan begitu dia bisa menghirup udara bebas walaupun hanya sebatas itu, tapi ternyata sang tuan muda langsung menggenggam tangan Lina begitu mereka keluar dari dalam kamar tersebut. Lina yang terkejut pun langsung menarik tangannya
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Tristan
"Hal itu membuat saya merasa kurang nyaman tuan muda, karena semua orang yang berada di rumah ini pasti mengenal saya." jelas Lina
"Apa kamu mau saya memecat semua orang yang bekerja di rumah ini agar saya bisa menggenggam tangan kamu saat di luar kamar?" tanya Tristan dengan wajah serius
"Bukan seperti itu maksud saya tuan muda," jawab Lina dengan cepat dengan wajah terkejut
"Saya beri kamu dua pilihan, pegang kembali tangan saya atau saya akan mengganti semua pekerja yang berada di rumah ini"
Dengan berat hati Lina meletakkan tangannya masuk ke dalam genggaman sang tuan muda, Tristan pun tersenyum puas akan hal tersebut dan mereka mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah taman depan di rumah mewah tersebut
"Hari ini kamu menyerahkan tangan kamu ke dalam genggaman saya, saya yakin suatu saat nanti kamu akan menyerahkan seluruh hati kamu untuk saya." batin Tristan
Tristan membawa Lina duduk di saung yang berada di taman tersebut tanpa melepaskan tangan Lina sama sekali, Lina pun mulai menatap ke arah sang tuan muda dengan wajah seriusnya
"Sampai kapan anda akan menggenggam tangan saya tuan muda?"
Tristan menatap Lina dengan senyuman tipis di bibirnya
"Sampai kamu menyerahkan hati kamu sepenuhnya untuk saya, karena di saat itu saya tidak perlu lagi merasa khawatir akan kehilangan kamu." batin Tristan
"Apa anda tak ada niat untuk melepaskan tangan saya tuan muda?" tanya Lina sekali lagi dengan tegas
Tiba-tiba saja Tristan memajukan wajahnya dan membuat Lina secara spontan memundurkan wajahnya ke arah belakang
"Bagaimana saya bisa melepaskan tangan kamu kalau sikap kamu masih seperti ini kepada saya?" tanya Tristan dengan lembut
"Maksud anda?" tanya Lina dengan wajah bingung
"Bagaimana saya bisa tenang melepaskan tangan kamu? kalau kamu sendiri belum bisa menerima keberadaan saya di samping kamu dengan baik," jelas Tristan dengan baik
Untuk sesaat Lina terlihat terdiam
"Maafkan saya tuan muda, tolong berikan saya sedikit waktu untuk menerima hal ini." ucap Lina dengan wajah bersalah
Tristan melepaskan senyuman yang terlihat hangat lalu mencium kening Lina dengan lembut, sedangkan Lina hanya bisa membeku dengan mata yang terbelalak
"Saya akan mencurahkan segalanya untuk kamu, saya harap kamu tidak mengecewakan saya." batin Tristan
__ADS_1