
Begitu memasuki club malam tersebut Erik langsung mengarahkan Tristan dan Lina ke sebuah meja di mana Anita dan Aldi tak akan menyadari keberadaan mereka, Lina terlihat mengeraskan rahangnya saat memperhatikan Anita dan sang mantan suami karena saat itu mereka terlihat sedang berciuman
"Kalian berdua ga pantas di sebut sebagai manusia!!" batin Lina
"Kamu mau minum apa?" bisik Tristan
"Aku pesan soft drink aja"
Tristan memerintahkan Erik untuk memesan minuman ringan untuk Lina dan sebotol wine untuk dirinya, di sisi lain tatapan mata Lina saat itu hanya tertuju kepada Anita dan Aldi
"Apa kamu masih mau melanjutkan rencana kamu?" bisik Tristan
Lina menganggukkan kepalanya dengan yakin
"Kalau begitu tunggu sebentar lagi, aku akan membuat celah agar kamu bisa bertemu dengan laki-laki itu." lanjut Tristan
Tristan pun mulai memegang gelas miliknya yang sudah berisikan wine, tiba-tiba saja Lina memegang tangan Tristan dan membuat sang tuan muda langsung menatap ke arah Lina
"Aku rasa aku ga akan sanggup menahan diri, apa aku boleh meminta minuman kamu?" tanya Lina dengan wajah serius
"Apa kamu yakin? Apa sebelumnya kamu sudah pernah meminum minuman yang mengandung alkohol?"
Lina menggelengkan sedikit kepalanya
"Tapi aku yakin aku ga akan sanggup berpura-pura baik-baik saja di hadapan laki-laki itu kalau aku dalam keadaan sadar," jelas Lina
Dengan berat hati Tristan memberikan gelas yang berada di tangannya kepada Lina, Lina pun meminum minuman tersebut dan ternyata Lina tak berhenti sampai di situ dia menuangkan kembali wine yang berada di dalam botol dan meminumnya. Tristan hanya bisa terdiam dan menahan diri atas itu semua
Tak butuh waktu yang lama Lina sudah memiliki keberanian untuk melakukan aksinya, dia pun mulai menatap ke arah Tristan dengan senyuman di bibirnya
"Kamu sudah bisa menjauhkan perempuan itu dari laki-laki itu," ucap Lina
"Apa kamu yakin kamu masih sanggup untuk berhadapan dengan laki-laki itu?" tanya Tristan dengan wajah kurang bersahabat
__ADS_1
Lina membulatkan tekadnya dan mengangguk, Tristan pun langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Erik
"Saya akan membawa Anita keluar dari tempat ini, jangan halangi apapun yang Lina lakukan setelah saya pergi. Cukup awasi dia dari kejauhan dan jaga keselamatan dia," bisik Tristan dengan tegas
"Baik tuan muda"
Tristan pun mulai melangkahkan ke arah meja di mana Anita dan Aldi berada, tanpa banyak bicara dia langsung berdiri tepat di hadapan mereka berdua. Sontak saja Anita dan Aldi di buat terkejut bukan main dengan kehadiran Tristan di tempat itu
"Kamu kok ada di sini kak?" tanya Anita dengan hati-hati
Tristan menampilkan sebuah senyuman yang terlihat dingin
"Sebaiknya kamu ikut saya keluar karena ada yang harus saya bicarakan dengan kamu," jawab Tristan sambil menatap Anita
Tristan pun mengalihkan pandangan matanya ke arah Aldi
"Kamu tetap di sini karena saya hanya ingin bicara empat mata terhadap perempuan ini," lanjut Tristan dengan tegas
Aldi hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepalanya, tanpa banyak bicara Tristan mulai melangkahkan kakinya dan dengan terpaksa Anita pun bangkit dari duduknya
Di sisi lain Lina tersenyum puas menyaksikan itu semua dari kejauhan, tak butuh waktu yang lama Tristan dan Anita benar-benar sudah menghilang dari tempat itu. Lina pun tersenyum tipis dan mulai bangkit dari duduknya untuk melakukan aksinya
Pengaruh alkohol membuat Lina berjalan dengan sedikit goyang tiba-tiba saja ada seorang pria menghampiri Lina, Erik pun bergegas menghampiri mereka untuk melindungi Lina tapi atas perintah Lina Erik kembali ke tempat semula. Pria tersebut memberikan Lina sebuah kartu nama dan langsung meninggalkan Lina, sedangkan Lina mulai melangkahkan kakinya ke arah Aldi
"Apa kabar mas?" bisik Lina dengan suara menggoda
Aldi yang terkejut membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna
"Kamu kok bisa ada di sini Lin?" tanya Aldi
"Sama seperti kamu mas, aku sedang memainkan peran aku dengan baik." jawab Lina
Dekatnya jarak wajah mereka membuat Aldi sadar bahwa Lina sedang di bawah pengaruh alkohol
__ADS_1
"Kamu mabuk ya Lin?" tanya Aldi lalu mengeraskan rahangnya
"Mau bagaimana lagi mas? Aku benar-benar tidak tahan melihat kemesraan kalian berdua," jawab Lina terdengar lirih
"Sial!! Berarti Lina sempat melihat semuanya!!" batin Aldi
Aldi pun segera bangkit dari duduknya dan memegang tangan Lina lalu membawa Lina ke arah toilet di mana tidak terlalu ramai dan bising, Aldi memepetkan tubuh Lina ke dinding dan menatap Lina dengan tajam
"Kenapa kamu harus seperti ini Lin? Selama ini mas Aldi ga pernah mengajarkan kamu untuk seperti ini," ucap Aldi dengan tegas
"Benar-benar tidak terselamatkan lagi," batin Lina
Lina berusaha memainkan perannya dengan baik dengan memasang wajah sedih
"Lalu bagaimana dengan kamu sendiri mas? Baru kemarin kamu memberikan aku harapan yang tinggi mas, tapi hari ini aku melihat hal yang berbeda dengan mata dan kepala aku sendiri. Apa kamu pikir aku ga punya perasaan mas?" tanya Lina lirih
Dalam sekejap semua amarah yang Aldi rasakan menghilang begitu saja, dia pun langsung memeluk tubuh Lina dengan sangat erat
"Maafin mas Aldi ya Lin, mas Aldi sendiri menahan diri di samping perempuan itu agar dia tidak menyakiti kamu lagi seperti dulu lagi Lin." jelas Aldi dengan lembut
"Karena mas Aldi ga akan ikhlas tubuh kamu di sentuh oleh orang lain Lin, cuma mas Aldi yang boleh menyentuh tubuh kamu." batin Aldi sambil tersenyum jahat
"Sampai kapan kita akan seperti ini mas? Aku benar-benar rindu pelukan kamu yang dulu mas," bisik Lina di akhiri dengan meniup pelan telinga Aldi
Seluruh darah Aldi benar-benar bergejolak pada saat itu
"Sial!! Kenapa Lina yang sekarang benar-benar membuat aku bergairah? Aku harus secepatnya memiliki tubuh Lina sekali lagi, bisa-bisa aku akan di buat mati penasaran kalau seperti ini." batin Aldi
Aldi mulai melepaskan pelukannya dan menatap Lina dengan lembut
"Apa kamu bisa bersabar sebentar lagi Lin? Kita harus memikirkan cara terbaik untuk lepas dari mereka, mereka orang besar yang tidak bisa kita singgung secara sembarangan Lin." ucap Aldi dengan lembut
Lina menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah kecewa
__ADS_1
"Tapi aku benar-benar merindukan pelukan kamu saat kita sedang berdua mas, belakangan ini aku merasa hari-hari aku terasa hampa tanpa kamu mas." ucap Lina
Lina benar-benar memainkan perannya dengan sempurna dan membuat hati Aldi berbunga-bunga, dengan bodohnya Aldi benar-benar percaya bahwa hati Lina masih seutuhnya milik dirinya seorang