
Gadis tersebut langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Tristan dan menatap jauh ke dalam mata sang tuan muda, semakin lama jarak antara kedua wajah mereka pun semakin mendekat. Tristan mulai mencium bibir gadis tersebut dengan lembut
Deg...
Untuk pertama kalinya Tristan merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya
"Kenapa saya tidak bisa merasakan apapun saat mencium bibir gadis ini?" batin Tristan
Tristan melanjutkan ciuman tersebut walaupun dengan perasaan sedikit bingung, tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamar tersebut dan Tristan pun mengakhiri ciuman tersebut
"Nanti kita lanjutkan lagi sayang," ucap Tristan
Gadis tersebut menganggukkan sedikit kepalanya dengan senyuman terbaik yang dia miliki, Tristan pun menuju ke arah pintu dan membiarkan sang pelayan di tempat itu membawa masuk pesanan mereka. Tristan memberikan beberapa lembar uang merah kepada kepada pelayan tersebut
"Terima kasih banyak tuan muda"
Tristan hanya menganggukkan sedikit kepalanya dan sang pelayan pun meninggalkan kamar tersebut, Tristan mulai menuangkan wine dalam gelas dan memberikan salah satu gelas kepada gadis tersebut
"Terima kasih," ucap gadis tersebut dengan senyuman tipis
Tristan tersenyum tipis sambil menatap gadis tersebut dengan lekat
"Kalau di perhatikan dengan seksama wajah perempuan ini bahkan lebih cantik dari perempuan itu, tapi kenapa saat mencium bibirnya saya tidak bisa merasakan apapun? Sedangkan perempuan itu selalu membuat darah saya bergejolak dan perasaan saya menjadi tak tenang," batin Tristan
"Apa ada masalah sayang?" tanya gadis tersebut
Tristan pun tersenyum tipis sambil menggelengkan sedikit kepalanya
"Apa kamu tidak mau membersihkan diri terlebih dahulu?" tanya Tristan
"Saya lebih suka mandi setelah selesai melakukan sesuatu yang panas terlebih dahulu sayang," jawab gadis tersebut dengan nada manja
Tanpa banyak bicara Tristan langsung mengambil gelas yang berada di tangan gadis tersebut dan meletakkan gelas mereka di atas meja, dia pun langsung menyambar bibir gadis tersebut dan mulai merebahkan tubuh gadis tersebut secara perlahan. Gadis tersebut pun mulai mengalungkan kedua tangannya ke leher Tristan agar ciuman mereka bisa semakin dalam
__ADS_1
Tristan pun tersenyum tipis dan meladeni semua tindakan gadis tersebut, semakin lama ciuman mereka pun semakin panas hingga lidah mereka mulai saling bertautan satu sama lain. Aksi Tristan tak berhenti sampai di situ dan mulai turun ke leher putih gadis tersebut, kini tak hanya bibir Tristan yang beraksi bahkan tangannya mulai bergerilya dengan bebas di bagian-bagian sensitif gadis tersebut. Dengan mudahnya Tristan telah berhasil membuat gadis tersebut mengeluarkan suara laknatnya
Deg..
Ada sebuah perasaan yang mengganjal di dalam hati Tristan setelah mendengar suara tersebut, dia menghentikan aksinya dan menatap wajah gadis tersebut yang terlihat telah di kuasai oleh gejolak akibat semua ulah Tristan. Tiba-tiba saja bayangan tentang wajah Lina yang sedang menangis terlintas dengan jelas dalam benak Tristan
"Apa dia akan semakin menjauh dari saya kalau tau perbuatan saya saat ini?" batin Tristan sambil mengerutkan keningnya
Gadis tersebut pun mulai menyadari bahwa aksi Tristan sudah mulai berhenti
"Ada apa sayang? Kenapa kamu berhenti?" tanya gadis tersebut dengan suara yang berat
Tanpa banyak bicara Tristan langsung menuju ke arah kamar mandi dan membersihkan diri, gadis tersebut hanya bisa termenung dan merasa kebingungan dengan keadaan saat itu. Cukup lama juga Tristan berada di dalam sana untuk memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya
"Sepertinya saya sudah tidak bisa terselamatkan lagi!! bisa-bisanya saya teringat wajah perempuan itu di saat saya akan berhubungan intim dengan perempuan lain!!" batin Tristan sambil tersenyum dingin
Tristan keluar dari dalam kamar mandi tanpa perasaan bersalah sama sekali, dia menuliskan sebuah nominal yang cukup fantastis di atas selembar cek lalu menyodorkan cek tersebut kepada sang gadis yang masih setia menunggunya
"Maaf, sepertinya saya tidak bisa melanjutkan hal itu lebih jauh lagi." ucap Tristan dengan dingin
Tristan menggelengkan sedikit kepalanya
"Apa saya boleh mengetahui alasannya?" tanya gadis tersebut lirih
Tiba-tiba saja aura dingin terpancar dengan jelas dari diri seorang Tristan dan membuat nyali gadis tersebut langsung menciut
"Saya rasa saya tidak punya kewajiban untuk menjelaskan apapun tentang diri saya kepada kamu," ucap Tristan dengan dingin
Tristan terlihat mulai menggunakan pakaiannya dengan benar dan menghubungi Erik
"Bersiap untuk pergi," ucap Tristan
"Baik tuan muda"
__ADS_1
Saat Tristan keluar dari dalam kamar tersebut Erik sudah berjaga tak jauh dari kamar tersebut
"Apakah kita akan kembali ke kantor tuan muda?" tanya Erik
"Kembali ke kediaman saya, saya tidak ada bersemangat untuk bekerja"
"Baik tuan muda"
Seperti biasanya Erik akan selalu duduk di bangku depan di samping sang supir
"Saya yakin tuan muda tidak berhasil melakukan hal itu bersama gadis tadi, ini benar-benar sesuatu yang di luar kebiasaan tuan muda." batin Erik
Erik yang merasa sedikit penasaran pun memutuskan untuk melihat keadaan sang tuan muda melalui kaca spion, saat itu Tristan terlihat termenung dan hal tersebut adalah sesuatu yang belum pernah Tristan lakukan selama ini
"Ini benar-benar terlalu aneh!! Sejak kapan tuan muda yang gila kerja bisa terlihat seperti itu? Jangan-jangan tuan muda telah jatuh hati dengan pelayan tadi, saya tidak tau itu akan menjadi hal baik atau buruk bagi anda tuan muda." batin Erik
Di sisi lain Tristan tetap asik dengan pemikirannya sendiri tanpa menyadari bahwa Erik sudah beberapa kali memperhatikan dirinya
"Apa ini yang di sebut jatuh cinta? Saya tetap memikirkan kamu saat saya berada di samping wanita lain," batin Tristan sambil tersenyum tipis
Erik di bangku depan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat ekspresi wajah sang taun muda saat itu
"Bagaimana pun caranya saya akan membuat kamu menjadi milik saya seutuhnya, itu adalah hukuman yang harus kamu terima karena kamu telah membuat saya menjadi menjadi seperti orang bodoh yang selalu memikirkan kamu." batin Tristan
"Apa yang saya minta sudah kamu dapatkan?" tanya Tristan
"Sudah tuan muda," jawab Erik
"Kirimkan ke email saya sekarang juga"
"Baik tuan muda"
Erik pun hanya bisa pasrah dan tak bisa lagi menahan tentang informasi yang telah dia dapatkan tentang Lina dan Aldi, Tristan langsung tersenyum penuh arti setelah membaca semua informasi tentang mereka
__ADS_1
"Berarti saya benar-benar harus menghukum kamu karena kamu telah berani berbohong kepada saya, saya juga tidak menyangka kalau kamu terkait dengan anak itu. Dengan begini permainan yang akan saya mainkan akan semakin terasa menarik," batin Tristan tersenyum penuh arti