
Alleta pov...
Dengan satu tarikkan nafas ku jelaskan semua pada Bik Mira untuk kembali ke Jakarta. Beliau sedikit terkejut mendengarnya tapi aku tidak punya pilihan selain kembali ketanah kelahiran ku.
" Apa Non gak salah ngomong atau Bibik yang salah denger? " tanya Bik Mira dengan terkejut.
" Noo... Alleta sudah memikirkannya Bik dan besok kita akan berangkat ke Jakarta. " kupegang tangan Bik Mira yang dingin.
" Non yakin mau pulang ke Jakarta? " tanya Bik Mira.
" Tantu Bik, bukan kah bunda pernah bilang ke Bibik kalo terus berlarut-larut mengingat dan tidak bisa menerima masalah dimasa lalu ataupun yang akan terjadi nanti, bagaimana dengan kesempatan kedua? Apakah tidak berarti lagi? Alleta akan pakai kesempatan kedua itu Bik." jelas ku pada Bik Mira.
" Baik Non jika Non Alleta ingin kembali ke Jakarta, tapi Non pulang ke kerumah kan? " tanya Bik Mira dengan mendadak.
" Alleta kerumah Alleta sendiri. " jawab ku dengan senyum.
" Tapi Non ingat toh .... "
" Iya Alleta ingat Bik, semua yang akan Alleta jalani dan hadapi Alleta akan jalani dengan cara Alleta sendiri Bik. Hanya saja Alleta butuh waktu nanti Bik. Ya sudah lanjut packing lagi yuk Bik. " ajakku agar tidak ada penjelasan lebih lanjut.
Loby...
Aku masih duduk termenung diloby, tidak tau apa yang aku fikirkan saat ini tapi aku memang senang melamun sendiri. Memikirkan semua kejadian dalam satu fikiran.
" Non sudah siap ayo kita berangkat. " ucap Bik Mira menyadarkan lamunanku.
" Iya Bik. "
Selama di perjalanan menuju bandara, aku membayangkan bagaimana perbedaan Jakarta dan Amerika yang membuatku tenang namun terasa asing lain hal nya di Jakarta yang membuatku merasa bahwa aku adalah Alleta yang sesungguhnya namun masalah yang terus datang menghampiri.
" Apa kabar teman-teman Alleta ya Bik? Udah lama Alleta nggak kabaran. " ucapku pada Bik Mira.
" Kan mau pulang ke Jakarta Non jadi bisa lihat kabarnya langsung nanti, nggak kaya ponsel yang cuma luar in suara dan muka aja. " jawab Pak Andok dengan leluconnya.
" Yang ditanyakan Bibik kok Bapak Andok yang jawab toh. " Bik Mira yang menepuk bahu Pak Adok di kursi depan.
Aku hanya tertawa dengan tingkah mereka yang kekanak-kanakan, saat asik tertawa tas ku ada yang bergetar karena sebuah ponsel, seperti ada yang ingin di angkat telepon nya.
Drttt ....
" Hallo Just, ada apa? " tanyaku.
" Hallo Alleta, nanti malam aku ada paaaa... rty, kalau kau tidak keberatannn dan kalau kau mauuu, aku mohonnn datanglah Alleta aku membutuhkan mu dipesta ini. " rengek Justin yang memohon.
" Maaf Justin tapi aku nggak bisa karena .... "
__ADS_1
" I know you don't like that. But ... kenapa kau tak bisa All ini kan pestaku. " ucap Justin sedih.
" Maafkan aku mengecewakanmu Just tapi aku harus .... "
" Aku akan sangat kecewa sekali All, kau tau kalau aku kecewa kau tidak akan ku maafkan. " ancam Justin padaku.
" Aku mohon jangan marah Justin ... aku punya alasan kenapa tidak bisa datang itu karena aku ...." lagi-lagi Justin memotong perkataanku.
" Ya sudah kalau tidak bisa aku tidak akan memaksa mu Princess, kumatikan telepon nya ya. Byee .... " tutup Justin tanpa mau mendengar penjelasanku.
Aku tau Justin kecewa tapi dia paham kenapa aku sering menolak ikut party karena itu sangat menyebalkan party di Amerika semua buka-bukaan orang barat jelas semua terbuka dan laki-laki hidung belang sangat banyak berkeliar di pesta dan itu membuat ku tak nyaman.
± 2 jam kami sampai di bandara dan langsung mengambil tiket yang sudah di pesan Pak Andok pada sahabat nya sehingga kami tak mengantri dan menunggu lagi maka kami langsung naik pesawat, saat menunggu penerbangan selama 30 menit aku menyempatkan untuk berpamitan dengan teman-teman ku lewat pesan WA. dan benar saja banyak yang kecewa padaku karena tidak menemui mereka sebelum pergi tapi aku belum bicara dengan Justin karena dia mungkin sibuk membeli barang untuk party nya nanti malam.
Karena sudah menunggu 30 menit akhirnya pesawat yang kami tumpangi akan segera lepas landas dari Bandara Internasional Los Angeles selama di pesawat aku hanya tertidur, kebiasaan yang santuy buatku.
Setelah 20 jam 45 menit pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dengan selamat.
" Bik Alleta langsung naik taxi ya. " pamit ku pada Bik Mira.
" Iya Non hati-hati ya dan jaga diri baik-baik Non. " jawab Bik Mira yang menangis.
" Alleta akan jaga diri kok Bik, jangan nangis dong kan Alleta masih di Jakarta. " aku yang menenangkan Bik Mira.
Dan akupun naik taxi yg sudah di pesan oleh Pak Andok, untung jalanan Jakarta belum padat sehingga tidak menimbulkan macet. Dua jam perjalanan sampailah aku di apartemen yang sudah lama ku tinggalkan selama empat tahun.
" Aaaaaaw. " jeritku terkejut.
" Sorry sorry. " tanpa melihat ataupun menolong laki-laki itu pergi begitu saja.
"Buru-buru banget kayanya tu orang." gumam ku dalam hati, " tauk ahh ." aku langsung membereskan barangku dan naik kelantai
38 tempat dimana kamarku berada.
Aku yang merindukan kamarku langsung berbaring dikasur sejenak, karena aku hanya tinggal sendiri jadi aku harus membereskan barangku dengan segera saat semua sudah beres aku hendak duduk di sofa namun tidak jadi karena teringat Anna sahabat ku yang belum ku kabari tentang kedatangan ku ke Jakarta.
Tut tut tut...
" Hallo An, gue udah di Jakarta sekarang. " ucapku langsung to the point.
" Temui gue di cafe tongkrongan kita dulu. " printah Ana dengan tegas.
Sambungan terputus....
Dengan cepat aku langsung berlari ke kamar mandi dan hanya berpakaian kemeja putih, celan jeans biru dan sepatu nicesport kesukaanku, tidak menunggu lama aku langsung melajukan mobilku ke tempat janjian kami tadi.
__ADS_1
Dengan jarak 1½ jam aku sampai di parkiran dan akan turun tapi ada seseorang yang datang dan bersandar di pintu mobil ku karena sedang menelepon, ku biarkan saja dia sebentar namun hampir 10 menit orang itu tidak berpindah posisi juga.
" Ehm ... maaf Tuan anda menghalangi pintu mobil saya bisakah anda berpindah posisi. " pinta ku dngan sopan.
" Tuan apakah anda dengar. " ku sentuh bahunya dengan jari telunjukku.
karena tidak merespon ku buka saja pintu mobilku dan membuat dia terkejut lalu menoleh ke arah ku.
Entah sihir apa yang membuat ku kaku dan membeku saat melihat mata biru laki-laki itu sehingga mulut ku pun tak bisa bicara.
" Are you ok? " tanya dia pada ku.
" I I i'm oke but can you move place, i want to go down. " pinta ku dengan senyum kaku.
Dia yang tidak ada ekspresi lalu pergi meninggalkan ku tanpa rasa bersalah.
" Main pergi aja tu orang, udah salah nggak minta maaf lagi. Dasar bule aneh." ucapku melihat nya pergi lalu turun dari mobilku.
" What do you mean? " tanya laki-laki itu mendekat dan mengejutkanku.
" Astaga ... Ngagetin aja ni bule. " umpatku dalam hati.
" Sorry sir i don't talk to you. " jawab ku jengkel.
Mata yang tajam menatapku seperti sedang mengintimidasiku secara tidak langsung membuatku risih.
" Sorry, if i make you angry. " ucapku dengan heran karena ditatap tajam oleh nya. Namun tidak ada perubahan dia yang terus menatap tajam ke arahku membuat emosiku tidak bisa ku tahan lagi.
" Apa yang Tuan lihat? Maaf ya Tuan yang salah di sini itu anda bukan saya, anda yang bersandar di pintu mobil saya dan itu menghalangi jalan saya, saat saya menegur anda pun tidak merespon dengan baik, lalu sekarang anda ingin marah dengan saya dasar bule nyebelin . " pekikku lalu meninggalkan nya begitu saja.
Alleta pov off...
" Manisss..... " tatap lelaki itu pada Alleta.
.
.
.
.
.
___________________________
__ADS_1
LIKE AND COMMENT KAKAK-KAKAK 👌