
Alleta Pov.
.
.
Setelah sampai di mention Archan aku hanya diam tidak bersuara karena kesal dan marah walau sedikit linglung dengan para bodyguard Archan yang banyak dan juga takjub dengan dekorasi rumah yang dipenuhi taman berbunga. Tapi, tidak aku harus menahan semua pertanyaan, kekaguman dan senyuman ku tentunya.
" Aku minta maaf karena masalah tadi All. " tegur Archan membuka percakapan denganku dan tentu menyadarkan lamunanku.
" Kau sangat keterlaluan. " lirihku tanpa malu masuk rumah Archan dan terkejut karena banyak bunga putih yang memenuhi ruang tamu.
" Apa kau suka sayang, ini semua kulakukkan untuk menyambut kedatanganmu. " bisik Archan di telingaku.
Entah kenapa aku tidak bahagia dan malah makin marah dengan Archan yang berusaha menggodaku.
Cihh...
" Apa kau sangat bahagia menghabiskan uangmu untuk semua bunga ini? Dan aku, apa kau fikir aku senang dengan kejutan ini? " tanyaku sambil duduk.
" Ayolah jangan kau tahan kebahagiaanmu sayang. " rengek Archan bersimpuh dikakiku.
" Don't touch me and do not call me dear and one more, stay away from me. (Jangan sentuh aku dan jangan panggil aku sayang dan satu lagi, menjauhlah dariku). " pekikku tajam dan berpindah posisi sambil memainkan ponselku tanpa perduli dengan Archan.
" Kau milikku kenapa aku harus menjauh dari mu honey. " sahut Archan merampas ponselku dari tanganku.
" Sungguh menyebalkan. " Batinku geram.
" Aku milik diriku Tuan dan sini kembalikan handphoneku sekarang. " teriakku sampai hampir semua pembantu dan bodyguard Archan berlarian menghampiri kami.
Aku sempat terkejut karena di kerumuni para bodyguard Archan.
" Kau membangunkan semua semut didalam sangkarnya sayang. " bisik Archan menggodaku.
" Aha ... biarkan mereka melihat bos besar rumah ini berani mempermalukan seorang wanita. " aku yang menantang Archan dengan emosi.
" Kembalikan handphoneku sekarang. " pekikku ke telinga Archan.
Tapi Archan malah mengangkat tinggi ponselku.
" Aww ... aku pinjam sebentar saja princess. " ucap Archan mengangkat ponselku sambil menertawai ku, yang tidak akan bisa mengambilnya karena aku terlalu pandek.
" Nggak mau, kembaliin sekarang nyebelin banget si. " aku yang terus melompat tak kunjung dapat.
" Sumpah nih orang harus dikasih pelajaran. " batin ku nakal.
" Pilih balikin handphone atau .... "
" Atau apa. " goda Archan menantangku.
Aku yang balik menggoda Archan dengan menarik sedikit bajuku keatas membuat Archan membelalakkan matanya dan langsung mendekatiku dengan menggenggam tangan ku lalu mengembalikan ponsel ku.
" Noo ... aku akan gila melihatmu melakukan nya di depan banyak orang sayang. " pekik Archan dengan nafas tidak teratur dan menggenggam tangan ku untuk menghalangi aksiku.
Semua seisi rumah tertawa cekikikan malihat tingkah Archan yang sangat lucu.
Entah ide dari mana aku bisa berfikir melakukan hal konyolku itu, tapi untungnya semua rencana ku berhasil.
Archan menatap tajam semua bodyguardnya dengan rasa kesal membuat semua bubar tanpa di perintah.
__ADS_1
" Asal kau tahu aku tidak pernah merengek didepan wanita. " ucap Archan memalingkan wajahnya.
" Laki-laki keras kepala. " batin ku menatap kesal Archan.
Satu jam kemudian, aku dan Archan tidak saling bicara karena aku yang masih emosi dan dia tentu tidak ada rasa bersalah yang tampak diwajahnya.
" Kamarmu dilantai bawah pintu berwarna coklat. " ucap Archan tiba-tiba.
Aku yang melihat ada empat pintu coklat membelakkan mata karena bingung mana yang di maksud Archan untuk kamarku.
" Apa setiap kamar itu mempunyai lorong menyambung. " pekik ku menatap tajam mata Archan.
" What ... ini bukan hotel nona. " sahut Archan santai.
" Aaaa ... haaaa ... lalu diantara empat pintu itu mana yang kau maksud kamarku Tuan Lorenzo. "pekikku dengan menunjuk arah empat kamar itu.
Archan berdiri dan menarik tangan ku menuju tempat yang ingin ia tunjukkan.
" Tidak diantar empat pintu yang kau lihat itu, tapi kamar mu diluar sana. " Archan menunjuk arah kolam membuatku heran dengan maksudnya.
"Aku bukan mermaid Tuan Archan. " ucap ku kesal.
" What ... kanapa kau suka sekali bicara yang aneh-aneh Alleta. " pekik Archan dengan wajah bingung.
" Kau yang aneh, masa iya aku tidur di kolam kau kira aku makhluk laut. " sahut ku ketus.
Archan hanya menarik tangan ku menuju kolam dan berbalik kesamping ujung kolam yang menuju kamar untukku tepati malam ini.
" Kau seharusnya lihat dulu baru bisa mengomentarinya nona. " ucap Archan dan pergi meninggalkan ku.
" Dasar psikopat. " dersisku lalu masuk kekamar.
Malam pun tiba, Bik Mirna pembantu tertua dirumah Archan memanggilku untuk makan malam bersama.
" Permisi Nyonya. " tegur Bik Mirna menggedor pintu.
" Iya ada apa Bik? " tanyaku membuka pintu.
" Makan malam sudah siap Nyonya, Tuan Archan menyuruh saya untuk .... "
" Bibik duluan masuk nanti Alleta menyusul. " ucap ku memotong ucapan Bik Mirna.
Dan sudah aku duga Archan tidak akan mungkin menegurku ataupun bertanya padaku bahkan masih dengan wajah tanpa rasa berdosa.
Saat dimeja makan tidak ada perckapanan sama sekali hanya kesunyian dan suara sendok yang mengisi ruangan itu.
Saat selesai Archan pergi begitu saja menuju kamarnya dilantai atas tanpa berbicara atau meminta maaf padaku, sungguh menyebalkan jika bisa aku ingin pulang sekarang juga.
Diruang tamu tidak ada yang bisa ku lakukan semua tampak membosankan.
" Bik disini ada buku majalah, buku novel, atau yang lainnya nggak? " tanyaku pada Bik Mirna.
" Ada disana Nyonya, mari saya antar. " ajak Bik Mirna.
" Ini rungan perpustakaan, Nyonya bisa cari buku disini. " Bik Mirna membuka pintu.
" Ohiya Bik makasih. " ucap ku masuk dan menutup pintu.
__ADS_1
" Woah ... apa dia pecinta buku. " ucapku sedikit mengejek melihat banyaknya buku dan luasnya perpustakaan.
Satu jam kemudian aku masih menikmati semua buku majalah yang ada, dan terus-menerus menghilangkan fikiran burukku dengan setia kubaca satu persatu yang menurut ku menarik dan bisa menenangkanku.
" Apa yang kau lakukkan disini. " tegur Archan mengejutkanku dari depan pintu.
" Ini perpustakaanmu bukan? " tanya ku kesal.
" Buka matamu Nona kenapa harus kau tanya lagi denganku. " imbuh Archan sambil menghampiriku.
" Lalu kenapa kau bertanya apa yang aku lakukkan disini, dasar bodoh. " pekik ku sambil fokus membaca.
" Aku sudah tidak tahan menahan ini semua Alleta. " ucap Archan tepat berdiri didepanku.
" Maksudmu? " tanyaku masih fokus dengan majalah yang ku baca.
" Bicaralah denganku dan jangan bertengkar denganku. " sentak Archan sambil merampas buku dari tanganku.
" T i d a k ada topik yang inginku bicarakan. " ucap ku dengan perlahan.
" Aku bahkan tidak pernah memohon dengan wanita lain Alleta, jadi seharusnya kau ... "
" Apa ... aku wanita beruntung karena mendapat permohonan darimu, sungguh itu tidak berguna bagiku Tuan Archan. " sahutku memotong ucapan Archan.
" Banyak wanita yang mengantri dan ...."
Prokkk ... Prokkk ... Prokkk ....
" Kau menganggapku apa...? Wanita murahan...? Maaf tapi aku bukan wanita seperti itu Tuan Lorenzo. Jika aku di sentuh oleh orang asing dengan senang hati akan ku patah kan tangannya yang berani menyentuhku tanpa seizinku. " pekikku memotong ucpannya lagi dan menunjuk Archan penuh emosi.
" Dan kau Tuan Archan yang terhormat jangan kau fikir aku membiarkanmu memelukku selama ini, jadi kau bisa melanjutkan aksimu dengan menciumku seenaknya saja. " emosi yang terus ku luapkan sampai Archan tidak kubiarkan bicara.
" Kau mungkin bisa menyewa atau membeli wanita sesuka hatimu tapi jangan pernah berfikir semua wanita bisa kau beli dengan uang, kau tau ada beberapa wanita rela mati demi mempertahankan harga dirinya dan itu termasuk aku Archan Lorenzo De Virgous. " emosiku tak bisa ku tahan lagi karena Archan sangat keterlaluan menurutku.
Cihhh.....
" Aku berbicara dengan anak kecil yang belum tahu tata kerama rupanya, dan itu adalah kau Archan Lorenzo De Virgous " tekanku sedikit melemas.
" Maafkan aku Alleta. " ucap Archan menunduk lesu.
Hikk ... Hikk ... Hikk ....
Tangisan ku pecah karena hal yang paling menjijikkan didalam hidupku yang tidak pernah aku alami dan sekarang terjadi.
" Apa menurutmu aku sangat rendahan Archan. " tanyaku menatap Archan.
" Apa aku sangat kotor dimatamu. " mataku terus menatap Archan yang terus tertunduk.
" Aku tidak berfikir begitu Alleta. " jawab Archan memegang tanganku dan menatap sayu mataku.
" Kenapa hal seperti ini harus terulang kembali. " ucapku tiba-tiba terjatuh dipelukan Archan dan menangis sejadi jadinya.
.
.
**Butuh kritik dan saran, like dan komen, rate dan vote, kalian semua para reader.
__ADS_1
Biar Author lebih semangat lagi buat lanjutin ceritanya. 😃😃😃
SALAM HANGAT DARI CICI**.