
Semalaman Alleta tidak bisa tidur hingga akhirnya pada jam lima pagi Alleta baru bisa memejamkan matanya dan terlelap, namun pagi ini Alleta merasa terganggu oleh ketukkan pintu yang dari tadi tidak berhenti memanggil dirinya.
Tokk...
Tokk...
Tokk...
" Nyonya. " panggil Bik Ijah pembantu Archan.
" Nyonya. " panggil Bik Aty.
Alleta mendengar semua teriakkan para pembantu Archan namun tubuh dan matanya enggan untuk terbuka dan bangun.
" Apa anda sudah bangun? Nyonya? " ucap Bik Ida.
" Tok Tok Tok ... Nyonya. " panggil Bik Ela.
" Ya ampun aku baru tidur beberapa jam yang lalu, bantu aku untuk mengusir mereka tuhan hiks ... hiks ..... " rintih Alleta memohon. Seketika suara para pembantu Archan menghilang dan tidak ada yang mengetuk pintu ataupun memanggilnya.
Senyum Alleta mengembang, " Terima kasih tuhan. " ucap Alleta kembali melanjutkan tidurnya.
" Alleta. " panggil seseorang dengan sangat lantang dan tegas.
Sekejap Alleta membuka matanya dan bangun dari tempat tidurnya, " Ada apa? " pekik Alleta membuka gorden kamarnya, tentu dengan rasa kesal dan malas.
Dari balik kaca Archan melihat penampilan Alleta yang sangat kacau, mulai dari piyama tidur yang sedikit terbuka, rambut yang acak-acakan dan juga lingkaran mata panda yang sangat menonjol. Archan sudah menebak jika Alleta kekurangan tidur tapi sayangnya ia tidak bisa berbaik hati dan tidak membiarkan Alleta untuk kembali tidur.
Tanpa mengalihkan pandangan Archan memberi kode untuk membuka pintu dengan cara mengetuk kaca dengan jari telunjuknya.
Alleta memutar bola matanya lalu membuka kunci pintu, ketika Alleta ingin keluar tiba-tiba Archan sudah membuka pintu dan masuk kedalam kamar Alleta.
" Kenapa kau baru bangun? " tanya Archan melangkah maju.
" Memangnya kenapa jika aku masih tidur? " tanya Alleta melangkah mundur.
Archan paling malas jika pertanyaannya dijawab dengan balik bertanya, " Kau tidak lihat sekarang sudah jam delapan. " ucap Archan masih melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
" Dia tidak tahu aku baru tidur pagi ini, sungguh mataku masih merasa berat. " batin Alleta geram.
" Alleta. " pekik Archan membuyarkan lamunan Alleta.
" Stop it. " pekik Alleta mencoba untuk mendorong dada bidang Archan namun sayangnya Archan menggenggam tangan Alleta.
" Ikut aku. " ucap Archan menarik tangan Alleta.
" Lepaskan aku. " pekik Alleta memberontak, tapi tidak dihiraukan oleh Archan.
" Archan kau menyakitiku. " pekik Alleta.
Mendengar itu Archan menghentikkan langkahnya lalu berbalik menghadap Alleta. " Apa ini sakit? " tanya Archan melepaskan cekalan tangannya lalu ia mengelus pergelangan tangan Alleta yang memerah.
" Sudah ku katakan ini sakit tapi malah bertanya lagi. " batin Alleta jengkel.
" Maaf. " lirih Archan masih mengelus tangan kiri Alleta.
πππππ
Alvaro POV
" Ayolah Alleta jangan membuatku khawatir. "
Tut ... tut ... tut ....
" Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan. " Operator Panggilan.
" Akh ... Alleta jangan membuatku gelisah sayang. " gerutuku mencemasinya karena sejak aku pamit pergi sampai saat ini masih belum memberi kabar dengan Alleta.
" Apa dia marah denganku. "
" Tidak tidak Alleta tidak mungkin marah karena hal seperti ini. " aku mengingat saat dulu aku pergi ke Singapura tanpa mengabarinya dan ketika aku pulang bukannya memarahiku tapi dia malah meminta dipeluk. Maka dari itu aku yakin Alleta tidak akan marah padaku.
" Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan. " Operator panggilan.
" Kenapa kedua nomor Kak Archan tidak bisa dihubungi juga. " sengitku semakin kacau.
__ADS_1
" Alva ... Alvaro. " panggil Mama.
" I iya mah. " sahutku menghampiri Mama yang terbaring di brankar.
" Kamu kenapa nak. "
" Akh ... bukan apa-apa Mah, aku hanya khawatir dengan Alleta dia .... "
" Ada apa. " potong Mama cemas.
" Dia dan Kak Archan tidak bisa dihubungi dan aku belum memberi kabar kepada mereka, aku jadi khawatir dengan Alleta sekarang. " lirihku menundukkan kepalaku.
" Kamu mengkhawatirkannya atau kamu sedang merindukannya! Hem? " goda Mama kepadaku.
Aku tidak bisa membohongi perasaanku yang memang merindukannya saat ini, tapi aku lebih mengkhawatirkannya, " Bercampur aduk Mah. " jawabku lirih.
" Mungkin dia sedang sibuk, sekarang kamu kirim pesan kepadanya pasti nanti dia akan membacanya dan langsung menghubungimu. "
" Baik Mah. " ucapku mengirim pesan kepada Alleta.
" Selesai. " ucapku meletakkan ponselku dinakas samping brankar.
" Kamu ini belum tiga hari disini sudah merindukan kekasihmu, biarkan Mama sendiri disini. " sindir Mamaku memalingkan wajahnya.
" Oh ayolah Mah! Alleta calon menantumu. " ucapku tersenyum.
" Yakin. " ucap Mama ragu.
Aku hanya menghela nafas dan tersenyum kepada Mama.
.
.
Mohon dukungannya semua.
Silahkan beri saran dan kritiknya biar Author Cici bisa koreksi ulang.
__ADS_1
Happy Reading ........ o(γοΌΎβ½οΌΎγ)o