Devil Boy And Angel Girl

Devil Boy And Angel Girl
Eps 10. Ingin Menjadi Orang Terkuat!


__ADS_3

Ttttrrrrriiiinnnnggg ... !!


Bel pertanda masuk waktu belajar di sekolah SMA Jaya Sakti berdering dengan panjang.


Ketika bel tersebut berbunyi, semua murid-murid yang berada di luar kelas masuk ke kelas mereka masing-masing, dan duduk rapi di dalam kelas.


Sementara para guru yang mengajar di jam pelajaran pertama, meninggalkan kantor majelis guru, lalu pergi menuju ke kelas tempat mereka akan mengajar


Dan hari ini, kelas 12-B akan melalui jam pelajaran pertama hingga ketiga dengan mata pelajaran matematika.


Pak Suroso, guru matematika kelas 12 di SMA Jaya Sakti itu pun saat ini sudah berada di dalam kelas Erick tersebut.


"Selamat pagi anak-anak!" Dengan suaranya yang berat, dan wajahnya yang sedikit sangar, Suroso menyapa semua murid di kelas 12-B.


Mendengar sapaan itu, sontak semua murid di dalam kelas tersebut menyahuti nya, "Selamat pagi juga, Pak!" balas mereka semua, kecuali satu orang anak.


Siapa lagi dia kalau bukan Erick Si Pembuat Masalah. Saat Suroso menyapa, Erick bahkan tidak melihat ke arahnya, melainkan ke arah jendela luar yang menghadap lapangan.


Tentu saja, Suroso yang memiliki penglihatan begitu jeli, dan juga peka dengan orang-orang disekitarnya, tahu kalau Erick tidak membalas sapaan dari dirinya itu.


Dengan perlahan, Suroso berjalan ke arah meja Erick yang ada di barisan keempat, langkah kaki darinya pun terdengar begitu jelas.


"Hei anak muda! Apa yang sedang kau lihat di luar sana? Saat ini gurumu ada dan berbicara di depan!" ucap Suroso dengan suara yang tegas saat dirinya sudah berdiri tepat di samping Erick.


"Huh?" Dari yang awalnya melihat ke arah luar, perlahan Erick menolehkan kepalanya hingga dapat melihat Suroso.


Pria itu menaikkan salah satu alisnya, wajahnya terlihat kebingungan, "Siapa pria tua ini?" gumam Erick di dalam hatinya, saat melihat wajah sangar dari Suroso yang berdiri di dekatnya itu.


"Kau pasti Erick kan, anak muda?" Di saat Erik masih kebingungan dengan Suroso, Suroso malah kembali melontarkan pertanyaan kepadanya. Sontak Erick mengangguk.

__ADS_1


"Hahaha ... Pantas saja satu ruang guru selalu membicarakan mu, kau bahkan juga dibicarakan oleh satu sekolah ini. Dan ternyata itu semua memang karena kau berbeda! Hahaha!" ujar Suroso disertai dengan tawanya.


Namun, itu hanyalah tawa sekilas. Selang beberapa detik setelah tertawa lepas, wajah Suroso kembali terlihat sangar dan menakutkan.


Menyadari akan suasana yang telah berubah 180° derajat itu, Erick pun kembali melihat ke arah lain. Dia tidak ingin membuat masalah dalam waktu yang dekat ini.


Suroso yang melihat Erik kembali berpaling darinya itu menjadi semakin kesal. Dengan cukup kuat dia memukul meja Erick, hingga membuat dagu Erick yang sedang bertopang di tangan kanannya terjatuh.


Suroso menghela sejenak napasnya, dan pada akhirnya, karena tak ingin repot-repot mengajar anak nakal seperti Erick, dia memutuskan satu keputusan ini, "Dengarkanlah aku! Jika kau bisa menjawab sekaligus menjelaskan soal yang akan kuberikan, maka bonusnya, kau bisa keluar dari kelas ini sekaligus pergi istirahat lebih awal."


Erick diam, masih tak merespon perkataan guru yang sedang mengajar di kelasnya itu.


Setelah hampir 1 menit berlalu, Erick pun melihat wajah Suroso, pria itu melihat gurunya tersebut dengan senyum yang aneh.


"Materi yang akan kita pelajari hari ini adalah tentang limit tak hingga, kan Pak?" Dengan senyum anehnya itu, Erick bertanya.


Suroso pun menganggukkan kepalanya, "Saat ujian tes awal masuk beberapa hari yang lalu, ada soal tentang materi ini di sana. Jika kau dapat mengerjakan soal-soal waktu itu, maka kau akan bisa menjawab pertanyaanku. Jadi, bagaimana?"


"Pak Suroso yang terhormat, saya tidak menyukai yang namanya matematika. Tapi anda malah menyuruh saya untuk menjawab pertanyaan yang akan anda berikan?"


"Apakah materi yang akan saya pelajari ini bisa membantu saya mewujudkan cita-cita saya, yaitu menjadi orang terkuat di dunia ini? Jawabannya tidak! Jadi saya tidak akan menjawab pertanyaan anda, ataupun mengikuti pembelajaran anda!"


Erick berbicara dengan wajah yang datar, suaranya pun tidak terlalu kuat, tapi terdengar begitu tegas, ruangan yang besar membuat suaranya sedikit bergema.


"Hahaha ... Menjadi orang terkuat?"


"Cita-cita seperti apa itu? Hahaha!!"


Semua orang di kelas itu tertawa ricuh, kecuali Navya yang memang tidak pernah menertawakan impian seseorang, terlebih lagi jika orang tersebut adalah Erick, pria yang ingin dia jadikan teman.

__ADS_1


"Erick, terima saja tawaran dari Pak Suroso, biar aku yang akan membantumu untuk menjawab pertanyaan yang diberikan!" Dengan suara yang pelan, Navya berbicara pada Erick yang duduk di bangku kedua yang ada dibelakangnya.


Mata Erick dan Navya pun sempat bertemu selama beberapa saat, sampai akhirnya Erick kembali membuang pandangannya ke arah lain.


"Erick!" Navya kembali memanggil nama Erick, tapi Erick tetap tidak meresponnya, bahkan untuk melihat Navya saja tidak.


Disisi lain, Suroso benar-benar sudah geram dengan tingkah anak baru satu ini, tangannya juga sudah menggepal dengan kuat sejak tadi, berusaha untuk menahan emosinya agar tidak meluap dan menimbulkan kekerasan fisik.


"Huft ... Erick, karena kau tak ingin belajar, dan aku pun juga tak ingin mengajar murid sepertimu, sekarang keluarlah kau dari kelas, berdirilah kau di depan sana sampai jam pelajaran ku selesai!" ucap Suroso setelah mampu menahan emosinya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, dengan begitu menurut Erick langsung berdiri dari duduknya, lalu berjalan untuk keluar kelas.


Saat Erick sudah berdiri dengan tegak di depan pintu masuk, Suroso kembali ke meja gurunya, dan kemudian melanjutkan pembelajaran seperti tidak terjadi apa pun.


Di depan pintu masuk, Erick berdiri dalam diam. "Selama masih berada di lingkungan sekolah, gue tidak akan pernah berbicara dengannya lagi. Dan akan lebih baik jika kami tak dekat lagi. Gue dan dia, seharusnya kami tak pernah dekat!"


................


Pada siang hari yang terik, seperti pada hari-hari sebelumnya, geng motor Sky Bruiser berkumpul di alun-alun kota Batam. Abian, Theo, Bryan, dan juga anggota geng yang lainnya sudah tiba lebih awal, dibandingkan Erick yang baru tiba ini.


Hal ini karena memang SMA Jaya Sakti memiliki jam pulang yang sedikit lebih lama dibandingkan sekolah lain di kota Batam. Saat teman-temannya sudah pulang, dia masih harus ada di sekolah.


Selain itu, ketika Erick datang, raut wajah anggotanya terlihat bercampur aduk. Antara kesal karena Erick lama datang, dan senang entah karena alasan apa.


"Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Erick yang langsung bertanya saat baru tiba, karena bingung melihat wajah dari teman-temannya itu.


"Ahh ... Tuan muda! Lama banget datangnya sih! Padahal tadi ada tamu loh! Sayang banget," seru Theo dengan wajah kesal bercampur tawa.


Hal itu membuat Erick semakin bingung, Erick pun menaikkan salah satu alisnya, "Hah? Apa maksudmu? Tamu? Berbicaralah dengan jelas dan jangan setengah-setengah!" kesalnya.

__ADS_1


"Tadi, ketua dan wakil dari geng Dragon Red datang, dan mereka berdua menantang kita untuk ikut dalam balapan yang akan mereka lakukan malam ini!" Bryan yang menyadari kekesalan dari ketuanya itu pun langsung menjelaskan apa yang terjadi.


"Dan juga, dalam balapan nanti malam, luh akan melawan ketua dari geng mereka, pertandingan satu lawan satu!" sahut Abian.


__ADS_2