Devil Boy And Angel Girl

Devil Boy And Angel Girl
Eps 22. Para 3 Besar


__ADS_3

Babak penyisihan kedua ronde dua akan segera dimulai, kelima peserta yang berhasil lolos sudah berdiri di belakang meja mereka masing-masing.


Jika di ronde sebelumnya mereka mengangkat tangan ketika ingin menjawab soal, maka kali ini mereka hanya perlu menekan tombol merah yang ada di atas meja mereka.


Hal tersebut dilakukan karena persaingan sudah semakin sengit, dimana akan ada kemungkinan yang lebih besar untuk para peserta mengangkat tangan mereka berbarengan. Jadi, agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan siapa yang lebih dulu, maka metode menekan bel dianggap yang paling baik. Lagi pula, pada setiap ajang olimpiade, metode itulah yang digunakan.


"Pada ronde kedua babak ini, para juri lah yang akan langsung memberikan 10 soal, dengan 4 soal matematika, 2 soal bahasa inggris, 2 soal sejarah, dan 2 soal bahasa Indonesia."


"Silahkan menekan tombol bel yang ada di atas meja kalian masing-masing, ketika soal sudah selesai dibacakan. Jika menekan bel disaat soal belum selesai dibacakan, maka anda tetap harus menjawab pertanyaan tersebut."


"Tiap-tiap peserta akan diberikan poin awal yaitu 100 poin, jika salah maka akan dikurangi 20, dan jika benar maka akan ditambah 50. Ketika salah satu peserta menjawab salah, maka peserta yang lain boleh langsung menekan bel dan menjawab. Lalu, soal akan dinyatakan tidak sah, ketika sudah dijawab sebanyak tiga kali tapi belum benar juga."


Panitia penanggung jawab pada pertandingan cerdas cermat itu, menjelaskan dengan panjang lebar mengenai tata cara, dan peraturan babak penyisihan ronde kedua tersebut.


Setelah kelima beserta yang berhasil bertahan sampai babak kali ini memberikan respon tanda mereka mengerti, panitia itu pun mempersilahkan para juri untuk mengambil alih dari sekarang.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, ketika sudah dipersilahkan, Pak Wahyu—juri satu—langsung membacakan soal pertama.


"Diketahui xy+2x+y \= 10 dengan x dan y bilangan bulat positif. Nilai minimum dari x + y adalah...," ucap Pak Wahyu membacakan soal pertama dengan suara yang lantang.


Hanya dalam waktu kurang dari 15 detik, semua bel milik kelima peserta berbunyi. Namun, hanya tombol bel yang ditekan terlebih dahulu lah yang akan mengeluarkan cahaya merah.


Dari kelima tombol bel tersebut, dapat dilihat bahwa milik Caera yang mengeluarkan cahaya.


"Silahkan!" seru Pak Wahyu dengan gerakan gesture tangannya yang juga mempersilahkan.

__ADS_1


"4!" Dengan suara yang besar, Caera menjawab pertanyaan pertama tersebut. Tak lama setelah itu, Pak Wahyu mengatakan bahwa jawaban dari Caera benar, dan soal selanjutnya pun kembali dibacakan.


"Benar atau salah, yang menyiapkan tali dan tiang bendera dalam persiapan proklamasi Indonesia adalah Wilopo? Sertakan alasannya!" Kali ini Pak Wayan—juri ketiga—yang membacakan soal kedua dalam pertandingan tersebut.


Tttiiiittt ... !!


3 tombol bel ditekan dalam waktu yang berdekatan, dan dari ketiga tombol tersebut, tombol milik Navya lah yang bercahaya.


"Salah, karena Wilopo menyiapkan mikrofon dan juga pengeras suara dalam persiapan proklamasi kemerdekaan. Sementara yang menyiapkan tali dan tiang bendera adalah Soediro." Ketika Pak Wayan telah mempersilahkan Navya untuk menjawab, wanita itu pun menjawab soal tersebut disertai dengan alasan yang rinci.


Selang beberapa detik, Pak Wayan menyatakan bahwa jawaban Navya itu tepat. Jadi Navya mendapatkan 50 poin.


......................


Pada soal terakhir ini, yang membacakan soal adalah satu-satunya juri perempuan. Buk Inayah, guru bahasa Indonesia yang dikenal begitu tegas.


"Diksi dalam penulisan karya sastra memiliki makna?" ucap Buk Inayah membacakan soal yang terakhir, dengan mata pelajaran bahasa Indonesia.


Saat soal selesai dibacakan, Erick dan Rayn menekan tombol di detik yang sama, dan hanya berbeda di centidetik nya. Alhasil tombol bel milik Rayn lah yang menyala, karena dia lebih cepat beberapa centidetik dibandingkan dengan Erick.


"Silahkan jawab!" seru Buk Inayah mempersilahkan dengan suara yang tegas.


Rayn terdiam sejenak, entah mengapa tiba-tiba dia merasa buyar, "Pemilihan ... Bahasa?" Dengan ragu-ragu, Rayn menjawab pertanyaan tersebut.


"Salah! Pengurangan 20 poin!" Buk Inayah dengan cepat menyatakan bahwa jawaban yang Rayn katakan salah. Lalu di waktu yang hampir berbarengan, Erick kembali menekan tombol bel miliknya. "Silahkan!" seru Buk Inayah.

__ADS_1


"Pemilihan kata!" Tanpa ragu dan dengan begitu yakin, Erick menjawab pertanyaan terakhir itu.


Suasana hening sesaat, sampai akhirnya Buk Inayah menyatakan dengan lantang, bahwa Erick menjawab dengan benar. "Penambahan 50 poin untuk Erick!" ucap Buk Inayah.


Dengan satu kalimat tersebut, maka cerdas cermat ronde kedua resmi selesai. Tiga peserta yang merasa lolos bersorak dengan riang, diikuti dengan suara tepuk tangan yang meriah dari para penonton. Sementara itu, dua orang yang sudah tahu poin mereka kalah dari tiga orang lainnya, merasa begitu sedih. Tapi, tentu saja kesedihan mereka tidak bertahan lama, karena kalah dan menang adalah hal yang sudah biasa.


Lagi pula, saingan kedua orang yang kalah itu, adalah 3 orang dengan nilai terbaik di angkatan sampai saat ini.


"Baiklah semuanya, seperti yang bisa kita semua lihat, 3 orang yang berhasil maju ke ronde terakhir adalah Navya dengan 230 poin, Erick dengan 210 poin, dan Rayn dengan 180 poin. Untuk peserta yang lainnya, jangan pernah berkecil hati, karena kalian tetaplah hebat!" ucap panitia penanggung jawab yang kembali mengambil alih.


"Untuk ronde terakhir, pertandingan tiga orang peserta yang berhasil lolos sampai sekarang ini, akan dilangsungkan esok hari, jam 8 pagi!" lanjut panitia tersebut memberikan sedikit informasi singkat tapi penting.


Setelah informasi tersebut diberikan, baik para peserta cerdas cermat maupun para penonton, satu demi satu mulai meninggalkan aula sekolah.


"Sial! Mengapa di soal terakhir tadi aku gagal fokus! Seharusnya aku bisa berada di posisi satu dengan 250 poin jika menjawab benar tadi!" ucap Si Posisi Ketiga dalam ronde kedua itu, dengan nada bicara yang terdengar sangat kesal.


Ditengah-tengah kekesalannya, tanpa sengaja Rayn melihat Caera yang sedang sendiri, tidak ada Navya di dekatnya. Melihat hal itu, sebuah rencana jahat muncul di kepala pria yang selalu berpura-pura baik di depan orang ramai tersebut.


Dengan perlahan Rayn melangkahkan kakinya untuk menghampiri Caera yang sedang sendiri.


"Caera!" seru Rayn menyapa, sontak Caera langsung menoleh, melihat pria yang telah menyapa dirinya itu.


"Rayn?" gumam Caera bingung, "Ada apa?" lanjutnya bertanya dengan salah satu alis yang sedikit dinaikkan. Tapi, Rayn malah terus diam dan tidak menjawab pertanyaan Caera itu.


Selang beberapa saat, bukannya menjawab pertanyaan dari wanita yang dia sapa tadi, pria ini malah menarik tangan wanita itu untuk pergi ke suatu tempat, hal ini tentu saja membuat Caera menjadi semakin kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2