Devil Boy And Angel Girl

Devil Boy And Angel Girl
Eps 37. Makan Malam Keluarga


__ADS_3

Meja bundar besar dengan banyak kursi yang mengelilinginya, menjadi tempat para anak-anak Sky Bruiser berkumpul saat ini. Sebuah meja yang terdapat di ruangan rapat markas mereka.


Terdapat 21 kursi untuk 21 personil Sky Bruiser. Namun, ke 21 kursi tersebut belum pernah terisi penuh dalam waktu yang sangat lama. Bahkan jika ditanya, mungkin anak-anak Sky Bruiser tidak ingat kapan terakhir kali semua kursi itu terisi.


Ada yang berhalangan untuk hadir saat rapat, dan ada juga 1 member yang sudah benar-benar sangat lama tidak pernah terlihat di dalam geng tersebut, walau dia masih anggota Sky Bruiser.


"Dia tidak hadir lagi?" gumam Bryan dengan lesu sembari melihat salah satu kursi kosong yang terletak tepat di samping kiri kursi Erick.


Mendengar pertanyaan Bryan, Theo pun menggelengkan kepalanya, "Dia masih ada di grup chat, dan terkadang aku melihat dia sedang membaca chat kita, tapi dia tidak merespon apa pun," ujar Theo dengan nada bicara yang sama.


"Biarkan saja pria itu! Dia telah memutuskan pilihannya untuk saat ini, dan untuk ke depannya dia juga bebas ingin memilih apa. Tapi selagi dia masih belum mau kembali ke sini, maka jangan sebut nama pria itu atau membicarakan tentang dirinya lagi!" sahut Erick dengan suara yang tegas dan dengan penuh penekanan di setiap katanya.


Seketika Bryan dan Theo langsung berhenti melihat kursi kosong di sebelah Erick tersebut, ketika menyadari bahwa kondisi hati Si Ketua mereka sedang tidak baik. Tentu mereka tidak ingin terkena amukan dari Erick.


"Hmm ... Baiklah semuanya apa sudah dapat dimulai?" Ditengah-tengah keributan kecil yang ada di ruangan rapat, Abian pun membuka suara untuk segera memulai rapat tersebut.


Setelah semua orang telah diam ketika mendengar ucapan Abian, Abian pun langsung mulai mengatakan alasan dan tujuan pertemuan yang dilakukan mereka secara mendadak kali ini.


"Seperti yang sudah gue katakan di chat tadi, kita berkumpul saat ini itu atas permintaan Erick, dan alasannya karena ketua kita ini merasa bahwa dia sedang diintai oleh dua orang yang tidak dikenal. Jadi kita harus mencari tahu siapa orang itu, dan segera bereskan mereka!" ucap Abian panjang lebar dengan suara yang jelas.

__ADS_1


"Mengintai? Siapa yang berani ngelakuin gitu ke Bos kita si?" bingung Bryan, "Atau apa mungkin mereka anggota Geng Black Mortal? Ya karena udah lama gak ketemu mungkin Luh lupa, Rick?" lanjutnya. Sebagian orang yang ada disana pun memiliki pemikiran yang sama dengan Bryan.


Namun dengan cepat Erick membantah, "Bukan. Gue yakin sama daya ingatan Gue, dan kalau pun Gue lupa paling tidak masih ada ingatan yang samar-samar karena pernah ketemu. Tapi dua wajah orang yang Gue liat dari pantulan kaca mobil Gue benar-benar asing," ungkap Erick.


"Seperti yang kalian dengar dari Erick barusan, kemungkinan bahwa dua orang tersebut adalah anggota Geng Black Mortal cukup kecil. Jadi bisa dibilang kita punya musuh baru yang yang belum diketahui identitasnya. Tapi untuk berjaga-jaga, tetap awasi Geng black Mortal!" jelas Abian, dan semua anggota Sky Bruiser pun membalasnya dengan anggukan tegas kepala mereka.


Dengan berakhirnya kalimat Abian itu, maka berakhir jugalah rapat kali ini. Semua anak Sky Bruiser keluar dari ruangan rapat satu persatu, dan mulai melakukan pencarian.


Mereka pun terbagi menjadi beberapa kelompok guna mempercepat pekerjaan. Mereka menyebar dan mencari tahu dari banyak arah.


Setiap kelompok di pimpin oleh para petinggi Geng, kecuali Erick karena dirinya hanya akan ikut pencarian sebentar, sebelum akhirnya dia harus pergi ke restoran yang telah Papanya katakan sebelumnya untuk makan malam bersama.


......................


Sementara itu Erick sudah berada di dalam restoran yang telah di pesan Papanya, bersama dengan kedua orang tuanya dan juga Sukardi.


"Aduh Tuan kok saya juga diajak, kan ini acara keluarga Tuan," ucap Sukardi dengan perasaan tak enak hati. Sukardi merasa bahwa dirinya tak pantas ada disana, duduk di meja yang sama dengan bos besarnya. Lagi pula bukankah ini acara makan malam keluarga?


"Hahaha ... Sudahlah Pak Sukardi jangan berkecil hati seperti itu! Pak Sukardi itu kan juga anggota keluarga kami, toh Erick juga menganggap Bapak seperti Ayahnya," balas Brady disertai dengan tawa dan menepuk pelan pundak Sukardi.

__ADS_1


Sukardi tersenyum kecil, tapi rasa tak enaknya semakin bertambah, "Ahh ... Saya hanya ketua pelayan di Villa milik Tuan muda, tidak lebih dari itu," ujarnya dengan kepala yang menunduk.


"Aduh Pak Sukardi ini, jangan terlalu merendah seperti itu, Pak. Jangan lupa kalau Bapak juga asisten terpercayanya suami saya," sahut Hanifa dengan senyum ramahnya. "Dan juga orang yang selalu ada buat Erick selama ini," sambung Erick secara spontan dengan suara yang lirih.


Mendengar hal itu, seketika saja 3 pasang mata lainnya yang duduk di meja yang sama tersebut langsung melihat ke arah Si Ketua Sky Bruiser itu.


Perlahan Erick mulai menyadari dan melihat wajah dari ketiga orang yang menatapnya saat ini, hal itu pun langsung membuat dia kaget dan sadar dengan apa yang baru saja dirinya katakan.


"M–maksud Erick itu—" Erick ingin melakukan pembelaan karena takut ucapannya tadi melukai hati orang tuanya, tapi kekhawatiran Erick pun sirna ketika Brady dan Hanifa tiba-tiba mulai tertawa. Erick pun berhenti berbicara.


"Hahaha ... Lihatlah, Pak! Anaknya saja mengakui hal itu! Jadi sudah sangat jelas bahwa sekarang Pak Sukardi adalah anggota dari keluarga kami!" Sambil memegang perutnya, Brady berbicara diiringi dengan tawa yang cukup kuat.


Hanifa pun juga bertingkah sama, "Apa yang Erick katakan itu benar! Jika saja tidak ada Pak Sukardi mungkin hari ini tidak akan pernah tiba," imbuh Mama Erick itu.


"Saya akui, jika tidak ada Bapak mungkin hal buruk lainnya bisa terjadi. Kami berdua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak pernah memperhatikan Erick, membuat Erick menjadi anak yang nakal. Namun berkat Bapak, masih ada sisi baik di dalam diri Erick meski dirinya tidak pernah mendapatkan kehangatan dari kami," tutur Hanifa dengan penuh perasaan.


Tanpa sadar mata Hanifa menjadi berkaca-kaca karena mengatakan kalimatnya itu, dan setetes air mata akhirnya jatuh. Dengan sigap Erick pun memberikan pelukan hangat ke wanita yang telah melahirkannya tersebut. "Erick juga salah," lirih Erick di dalam pelukan tersebut.


Brady dan Sukardi pun tersenyum dan ikut merasakan kehangatan yang ada meski hanya dengan melihat. Lalu selang beberapa saat, makanan yang dipesan pun tiba.

__ADS_1


Mereka segera menyudahi semua kesedihan ini, lalu kemudian makan dengan hati yang bahagia.


Namun, disisi lain ternyata ada sebuah ancaman. Erick tidak menyadari bahwa semua percakapan mereka berempat dari beberapa menit yang lalu, telah didengar oleh dua orang pria yang terus mengintainya saat di sekolah tadi.


__ADS_2