Devil Boy And Angel Girl

Devil Boy And Angel Girl
Eps 17. Lomba Cerdas Cermat


__ADS_3

"Navya, temani aku ke perpustakaan yuk! Sekalian ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu, dan sepertinya di perpustakaan akan jauh lebih aman untuk mengatakan hal itu!"


"Eh? Oh ... Yasudah, yuk!"


......................


TTRRRIIIINNNGGG ...


Disaat suasana di kelas 12-B masih ricuh, bel pertanda masuk berbunyi, dan Karlina sebagai wali kelas 12-B masuk ke dalam kelas itu diiringi dengan suara bel.


Ketika baru masuk ke dalam kelas, Karlina melihat banyak anak muridnya yang berkumpul di satu tempat.


Karlina ingat betul, bahwa tempat yang dikerumuni oleh hampir seluruh murid kelas 12-B itu adalah bangku Si Murid Baru, yang sudah mencari masalah di hari pertama dia masuk, dengan perilaku tidak sopan nya.


Dari banyaknya murid-murid disana, Karlina menemukan satu orang anak yang bukan merupakan siswa di kelasnya itu.


"Rayn?" gumam Karlina pelan, "Rayn, apa yang masih kamu lakukan disini? Segera kembali ke kelas kamu, ya. Ini sudah waktunya masuk kelas," lanjut Karlina dengan suara yang tegas.


Suara Karlina itu pun membuat kericuhan seketika saja mereda. Dan Rayn, sebagai orang yang namanya disebutkan oleh wali kelas 12-B itu langsung melihat Karlina.


"Maaf Miss, tapi saya mas—" Belum sempat Rayn menyelesaikan kalimatnya, Karlina langsung memotong ucapannya itu.


"Rayn! Masuk ke kelas kamu sekarang!" tegas Karlina dengan penekanan di setiap kata-katanya.


Mendengar hal tersebut, mau tidak mau Rayn harus meninggalkan kelas itu. Dia pun bangkit dari duduknya, meninggalkan kursi Erick, lalu pergi menuju ke kelasnya—12-A.


Saat Rayn telah keluar dari kelasnya Erick tersebut, ada dua siswi yang masuk ke dalam kelas sedikit terlambat.


"Navya? Caera?" ucap Karlina sedikit bingung melihat dua orang siswi yang terlambat masuk ke dalam kelas itu.


"Permisi, Miss!" seru dua siswi tersebut berbarengan, dan kemudian mereka berdua berjalan ke meja Karlina.

__ADS_1


"Kalian berdua habis dari mana?" tanya Karlina dengan suara yang lembut. Dirinya bingung, karena dua orang wanita yang ada dihadapannya saat ini, memang tidak biasanya telat masuk.


"Maaf Miss, kami tadi habis dari perpustakaan. Bantu Buk Dewi—petugas perpustakaan—untuk menyusun beberapa buku yang baru datang," balas Navya dengan sopan.


Karlina mengangguk, "Oh begitu, yasudah silahkan langsung duduk!" ucap Karlina.


"Terimakasih, Miss!" seru Navya dan Caera yang lagi-lagi berbarengan, dan kemudian mereka berdua pun berjalan menuju ke bangku mereka masing-masing.


Suasana menjadi hening sesaat, sampai akhirnya ada salah satu murid yang mengangkat tangannya lalu bertanya.


"Miss! Kenapa Miss ada disini? Pak Huda—guru bahasa Indonesia—nya tidak masuk ya, Miss?" tanya siswa itu.


"Pak Huda masuk kok. Miss disini karena ada perintah dari Ibu kepala sekolah. Ibu kepala sekolah minta, selama 15 menit jam pelajaran pertama ini, di ambil oleh para wali kelas untuk memberikan informasi," jelas Karlina menjawab pertanyaan dari muridnya tersebut.


Mendengar hal itu, semua murid di kelas itu pun menjadi penasaran, tentang informasi apa yang akan disampaikan.


Melihat para murid-muridnya sudah siap untuk mendengarkan, Karlina pun mulai menjelaskan informasi yang dia maksud.


"Seperti yang kita semua tahu, sebentar lagi sekolah kita akan melakukan pekan pendidikan SMA Jaya Sakti. Ya, mungkin kurang lebih sekitar 2 Minggu lagi dari sekarang."


"Lalu, kali ini ada yang sedikit berbeda. Seminggu setelah pekan pendidikan kita selesai, terdapat lomba cerdas cermat sekota Batam. Karena hal tersebut, Ibu kepala sekolah pun memutuskan, bahwa pemenang cerdas cermat pada pekan pendidikan, akan langsung mewakili SMA Jaya Sakti pada lomba itu, karena sudah tidak ada lagi waktu untuk melakukan seleksi."


"Lagi pula, siapa pun yang menang pada pekan pendidikan nanti, sudah pasti adalah yang terbaik diantara yang terbaik!"


"Lalu, Miss sudah memilih 5 orang murid dari kelas 12-B sebagai perwakilan, lima orang ini boleh setuju dan boleh juga tidak setuju. Untuk selain yang lima orang Miss pilih, kalian juga tetap bisa ikut, silahkan lapor ke Miss saja nanti."


"Lima orang yang Miss pilih, merupakan lima orang murid kelas 12-B yang mendapatkan nilai tertinggi pada ujian tes beberapa hari yang lalu."


"Pertama ada Navya sebagai peringkat 1, Erick sebagai peringkat 3, Caera sebagai peringkat 6, Lutfi sebagai peringkat 7, dan yang terakhir Denisa sebagai peringkat 11."


Karlina menjelaskan dengan panjang lebar, juga suara yang jelas, semua murid-muridnya pun mendengarkan dengan seksama.

__ADS_1


Setelah menjelaskan begitu banyak hal, Karlina diam sejenak, memberi jeda untuk kembali melanjutkan kalimatnya.


"Hmm ... Baiklah, untuk kelima orang yang Miss sebutkan tadi, apa ada yang ingin mengundurkan diri?" tanya Karlina setelah cukup lama memberikan jeda.


Kelima orang yang di maksud tidak ada yang merespon, itu berarti mereka semua mau dan setuju untuk ikut. Tapi, hal itulah yang justru membuat Karlina menjadi heran.


"Erick? Kamu mau ikut?" Dengan ragu-ragu, Karlina bertanya. Bukannya tidak ingin atau apa, tapi bukankah aneh bagi seorang anak yang tidak suka belajar ingin mengikuti cerdas cermat?


Erick mengangguk pelan, "Ini adalah kesempatan gue buat mengalahkan Si Ketua OSIS itu!" ucap Erick dengan bersemangat. Ucapan Erick itu pun sontak membuat satu kelas kaget.


"A–apa?" gumam Karlina hampir tidak percaya dengan yang baru saja dia dengar, "Apa yang baru saja aku lewatkan sebenarnya?" lirih guru muda itu dalam hatinya.


"Jadi, apa yang Erick katakan tadi pada Rayn itu semua benar? Bahwa dia ingin mengalahkan Rayn dalam segala hal?" ujar salah satu siswi.


"Mungkin saja! Erick sudah dapat menandingi Rayn dalam aspek ketampanan, dan lihatlah otot-ototnya itu! Dia juga pintar meski malas!" sahut siswi yang lainnya dengan nada bicara yang seolah-olah terpesona.


"Wah ... Sepertinya akan seru nih!" seru salah seorang siswa dengan bersemangat.


Kelas yang tenang pun kini kembali ricuh.


Dalam sekejap waktu, kini Erick mampu membuat sebagian murid di kelas 12-B itu mendukung dirinya, meski kebanyakan dari mereka adalah para murid perempuan, yang sepertinya baru menyadari betapa tampannya Si Ketua geng Sky Bruiser tersebut.


"Huft ...." Karlina menghela napas kasar, dia benar-benar bingung dengan respon seperti apa yang harus dirinya berikan saat ini.


Tok ... Tok ... Tok ...


Disaat kelas masih ricuh, terdengar suara ketukan pintu dari luar, sontak Karlina langsung melihat jam ditangannya.


"07.30" Itulah waktu yang tertulis di jam digital miliknya, itu berarti sudah 15 menit dia berada di kelas 12-B, waktunya sudah habis.


"Semuanya!" seru Karlina dengan suara yang cukup kuat, agar dapat mengambil perhatian murid-muridnya itu.

__ADS_1


"Waktu Miss sudah habis, dan sepertinya Pak Huda sudah datang. Jadi, Miss sudahi dulu, ya. Untuk yang ingin ikut cerdas cermat silahkan temui Miss di kantor setelah pulang sekolah. Lima orang yang Miss sebutkan tadi, juga temui Miss, ya!" ucap Karlina setelah suasana kelas kembali tenang.


Selesai mengatakan kalimatnya itu, Karlina pun beranjak pergi ke luar kelas. Disaat Karlina keluar, Pak Huda guru bahasa Indonesia pun masuk ke dalam kelas untuk mengajar.


__ADS_2