
Disaat Erick sedang putus asa, karena bingung harus menghubungi siapa, tiba-tiba saja tanpa sengaja dirinya menemukan kontak bertuliskan Navya, "Oh ya ... Di hari pertamaku pindah, dia merampas ponsel ku, dan menyimpan nomornya disana," ucap Erick dengan lirih.
Dengan iseng Erick menekan kontak Navya
itu, membuat informasi mengenai nomor wanita tersebut muncul di layarnya, dan juga ada simbol seperti telpon berwarna hijau di bagian atas.
Tanpa sadar, jempol Erick bergerak dengan sendirinya untuk menekan simbol telpon berwarna hijau itu.
Namun, saat jempolnya sudah sangat dekat dengan simbol tersebut, Erick sadar seketika dan langsung menjauhkan tangannya dari simbol itu.
"Apa yang baru saja gue ingin lakukan tadi? Apa gue berniat untuk menghubungi Navya?" gumam Erick bingung sendiri.
Karena tidak ingin sampai khilaf lagi, akhirnya Erick memutuskan untuk keluar dari beranda kontak Navya itu.
Ketika jempol Erick bersiap untuk menekan tombol back pada ponselnya, suara salah satu polisi yang ada di depannya tiba-tiba muncul dan mengangetkan Erick. Akibat dari kaget itu, tanpa sengaja jempol Erick terpeleset, dan menekan simbol telpon berwarna hijau yang sempat ingin dia tekan beberapa waktu yang lalu.
Melihat hal itu, Erick panik bukan main, dengan cepat dia ingin menekan simbol telpon berwarna merah, berniat untuk membatalkan telpon itu.
Akan tetapi, belum sempat ketua geng Sky Bruiser itu menekan simbol telpon merah yang ada di layar ponselnya, Navya sudah mengangkat telpon itu. Membuat rasa panik Erick langsung berada di puncak tertinggi.
Mata pria itu melotot tidak percaya, "Ini sudah malam, tapi mengapa wanita satu ini bisa dengan cepat mengangkat telpon, terutama telpon dari orang seperti gue? Apa yang sedang dia lakukan malam-malam seperti in?!" gerutu Erick dengan rasa kesal bercampur bingung.
Disaat dirinya masih diam karena tidak percaya, suara wanita di balik telpon itu mengagetkannya kembali. "Halo Erick!" sapa wanita itu dengan nada yang kegirangan, "Ada apa sampai kamu nelpon aku malam-malam begini?" lanjut Navya yang kali ini melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
Erick diam, masih tidak tahu harus menjawab apa. Sampai akhirnya Navya kembali bersuara, "Erick? Kok diam? Kamu ada dimana sekarang? Kamu baik-baik aja?!" Dengan nada bicara yang berubah menjadi cemas, Navya memberikan begitu banyak pertanyaan kepada Erick.
"Erick jawab! Kamu—" Navya menjadi semakin panik, tapi sebelum sempat dia menyelesaikan kalimatnya itu, akhirnya Erick mau berbicara, membuat Navya langsung menghentikan kalimatnya meski belum tuntas.
"Sekarang gue lagi di kantor polisi," ucap Erick singkat untuk menjawab salah satu dari empat pertanyaan yang Navya berikan pada dirinya.
Mendengar hal itu, Navya yang sedang berada di rumahnya kembali panik, "K–kantor polisi? Erick, kamu ngapain disana?" tanya Navya lagi yang tidak bisa mengontrol rasa paniknya itu.
"Huft ...." Erick menghela kasar napasnya. Kini, dia sedang mengepal tangannya dengan kuat, mulut Erick seperti ingin mengeluarkan beberapa kalimat, tapi dengan kuat pria itu berusaha untuk menahan mulutnya yang ingin berbicara tersebut.
Namun, pada akhirnya dia tetap gagal untuk tidak berbicara, sebuah kalimat singkat tapi jelas pun keluar dari mulut pria yang sedang malu-malu untuk minta tolong itu.
"Navya, luh bisa datang ke kantor polisi Simpang Jam sekarang? Gue lagi butuh penjamin agar diperbolehkan pulang!" ucap Erick.
"Enam kali!" Dengan tiba-tiba saja, wanita di balik telpon itu berteriak kegirangan. Tak lain dan tak bukan, itu karena Erick telah menyebut namanya sebanyak enam kali. Dimana saat Erick menyebut nama Navya untuk kelima kalinya, Navya berpikir bahwa itu adalah yang terakhir kalinya Erick menyebut nama dia, tapi nyatanya dia salah.
"Baiklah Erick, aku akan segera pergi ke sana, tunggu sebentar ya! Tidak akan lama kok, rumah ku dekat dari kantor itu!" lanjut Navya, dan kemudian wanita itu mematikan telpon tersebut.
"Huft ...." Erick kembali menghela kasar napasnya, "Apa wanita itu tidak takut sama sekali? Ini sudah larut malam, setidaknya curiga lah sedikit!" Entah mengapa, saat ini Erick menjadi begitu kesal dengan Navya yang terlalu baik padanya itu.
......................
Setelah menunggu kurang lebih sekitar 15 menit, akhirnya Navya yang ditunggu-tunggu tiba di kantor polisi yang Erick sebutkan tadi.
__ADS_1
Saat tiba, Navya langsung berbicara dengan dua polisi yang sempat menginterogasi Erick itu, lalu kemudian dia menandatangani beberapa hal agar Erick bisa pergi dari kantor polisi tersebut.
"Terimakasih atas kerjasamanya, mbak Navya!" seru salah seorang polisi sembari menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Navya.
Navya pun meraih jabatan tangan tersebut, "Terimakasih kembali, Pak Polisi!" balas Navya dengan senyum ramahnya.
Selang beberapa detik mereka berdua melepas jabatan tangan itu, lalu kemudian Erick dan juga Navya pergi meninggalkan kantor polisi tersebut.
"Terimakasih, karena luh udah mau bantu gue!" ucap Erick dengan nada bicara yang dingin, pria itu pun juga mengatakan hal tersebut sembari memalingkan wajahnya, dari wanita yang berdiri tepat disampingnya itu.
"Bukan apa-apa!" balas Navya dengan senyum yang kembali merekah di wajah cantiknya itu.
Suasana hening sesaat.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa besok di sekolah, Erick!" ujar Navya, diiringi dengan aksi melambaikan tangan pada pria yang masih tidak ingin melihatnya itu, dan kemudian dia pun mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.
Namun, disaat Navya ingin melangkahkan kakinya untuk ketiga kalinya, suara Erick menghentikan langkah kaki Navya.
"Hari sudah malam, luh mau pulang naik apa emangnya?" tanya Erick dengan wajah yang sudah mau melihat Navya, tapi dengan raut wajah yang begitu datar.
Navya tersenyum, "Naik taxi online!" Dengan senyum yang masih tidak padam itu, Navya menjawab pertanyaan yang Erick lontarkan padanya. "Ya, tapi belum aku pesan juga sih!" lanjut Navya yang seolah-olah tahu apa yang akan Erick katakan selanjutnya.
"Huft ... Kalau gitu biar gue aja yang nganterin luh pulang. Tapi ingat ya! Gue gak ada maksud apa-apa, ini semua semata-mata hanya bentuk balasan gue atas kebaikan luh tadi. Lagi pula, kalau gue biarin luh naik taxi online, terus luh tiba-tiba kenapa-napa, yang ada gue bisa kena masalah nanti!" jelas Erick dengan kecepatan berbicara yang cukup cepat.
__ADS_1
Meski berbicara dengan cepat, Navya bisa dengan baik mendengar setiap kata demi kata yang Erick keluarkan. Dan mendengar hal yang Erick katakan itu, membuat senyumannya semakin lebar, "Benar dugaan ku!"
Satu satunya alasan mengapa Erick menjelaskan hal sepanjang itu kepada Navya, padahal dirinya hanya ingin mengajak Navya pulang bersama, karena pria tersebut tidak ingin wanita yang ada di dekatnya itu salah paham. Atau mungkin dia tak ingin Navya mengambil kesimpulan yang lain atas ajakannya tersebut.