
Suasana hening menyelimuti Erick, dan Navya yang kini duduk di kursi yang bersebelahan. Meski jarak mereka dekat, tapi mereka tidak berbicara cukup lama.
Sampai akhirnya, Navya yang sebagai perempuan disana, memulai pembicaraan terlebih dahulu, dan memecahkan keheningan tersebut.
"Kamu keren ya, ternyata kamu orangnya pinter banget. Ya, walaupun kamu nakal dan suka tidur pas lagi di jam pelajaran. Aku sampai gak bisa berkata-kata saat lihat nama kamu ada di posisi 3 teratas!" ucap Navya dengan mata yang melihat ke langit, dan tak lupa, dengan senyum yang selalu terukir di wajah malaikatnya itu.
Namun, Erick hanya diam. Dia tidak merespon perkataan dari wanita yang duduk di sampingnya tersebut. Erick hanya fokus melihat pertandingan basket yang ada di depannya saat ini.
"Huft ...." Navya menghela napas pelan, karena dia sedih Erick tidak mau merespon dirinya itu.
Tidak ingin berlarut dalam kesedihan terlalu lama, Navya pun kembali berbicara, meski mungkin Erick tidak akan meresponnya lagi.
"Kamu tahu, yang paling buat aku gak habis pikir adalah ketika kamu bilang benci matematika, gak pengen belajar matematika, tapi nyatanya nilai matematika mu yang paling tinggi di angkatan kita." Masih sama seperti sebelumnya, Navya berbicara sembari melihat ke arah langit.
Navya kembali terdiam, senyum di wajahnya perlahan memudar, karena dia berpikir Erick tidak akan pernah mau berbicara dengannya lagi. Tapi, selang beberapa menit kemudian, Erick yang sedari tadi diam, kini mau berbicara.
"Itu sebabnya gue membenci matematika, karena gue malah lebih menguasai sesuatu yang tidak gue butuhkan sama sekali!" Dengan nada bicara yang datar, dan masih enggan untuk melihat wanita di sampingnya itu, Erick berbicara.
Mendengar kalimat-kalimat dari pria yang duduk di sampingnya itu, Navya tertawa kecil. Dalam hatinya berkata, "Alasan yang lucu!"
"Kenapa kamu gak butuh ilmu matematika, Erick? Bukankah matematika adalah ilmu yang sangat penting? Hampir semua hal di kehidupan kita membutuhkan perhitungan, dari hal yang kecil, bahkan sampai hal yang besar!" ucap Navya, yang sebenarnya sedang mencoba menahan tawa.
"Ketawanya jangan ditahan, lepaskan saja!" ujar Erick yang seolah-olah dapat mendengar suara hati Navya, dan mengetahui tawa kecil di balik wajah datar wanita itu. Perkataan Erick membuat Navya benar-benar sangat kaget.
__ADS_1
"E–enggak! Aku gak mau ketawa kok, l–lagian apa yang mau ditertawakan coba?" Dengan suara yang gugup, Navya membalas kalimat Erick yang telah mengangetkan dirinya tadi.
Namun, Erick terlihat tidak begitu peduli. Bagi dirinya, mau Navya tertawa, menangis, kaget, ataupun gugup, itu semua tidak ada hubungannya dengan dia.
Apa yang mau dan akan dilakukan oleh wanita itu, sepenuhnya adalah jalan yang telah dia pilih sendiri, dan Erick tidak akan pernah mau untuk ikut campur dengan urusan, pola pikir, dan tingkah dari orang lain.
Akan tetapi, ketidak pedulian Erick kali ini membuat Navya menjadi sedikit lega, karena dia tidak ingin wajah gugup, dan juga wajahnya yang sedang menahan tawa di lihat oleh pria tersebut.
"Emm ... Kalau gitu, kamu kan belum jawab pertanyaan aku tadi, sekarang ayo jawab dong! Mengapa kamu tidak menyukai matematika? Apa yang membuat dirimu merasa, bahwa kamu tidak membutuhkan ilmu matematika?" ucap Navya mengulangi pertanyaan yang sempat dia tanyakan sebelumnya kepada Erick.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Erick pun langsung membalas dua pertanyaan dari Navya tersebut, "Kalau gue pintar dalam matematika, orang tua gue pasti bakal paksa gue buat nerusin perusahaan mereka!" Dengan suara yang jelas, tapi tetap pelan, Erick membalas pertanyaan Navya dengan cepat.
"Luh sendiri udah tahu, kan? Tentang apa yang menjadi cita-cita gue," lanjut Erick.
Perlahan Navya yang melihat ke langit-langit, menurunkan pandangannya, lalu menoleh ke arah kanan, membuat dirinya kini bisa melihat pria yang matanya terus fokus melihat anak ekskul basket bermain itu.
"Memangnya mengapa cita-cita kamu ingin menjadi orang yang terkuat di dunia ini?" tanya Navya setelah bingung tentang alasan Erick memilih cita-cita seperti itu.
"Menjadi orang terkuat di dunia? Apa maksudnya?" Kalimat inilah yang terus bergema di hati dan pikiran Si Angel Girl tersebut.
Kali ini, Erick akhirnya mengikuti jejak Navya, yaitu mengalihkan pandangannya dari hal yang membuat matanya sibuk sejak tadi, ke wanita yang menjadi lawan bicaranya saat ini.
Saat mata Erick tak sengaja bertemu dengan mata Navya, dia pun menatap mata itu dengan tatapan yang sangat serius. "Jika aku menjadi sangat kuat, maka aku bisa membuat semua orang patuh, termasuk membuat orang tuaku patuh untuk peduli padaku, bukan begitu?"
__ADS_1
Navya terdiam, benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja pria di hadapannya tersebut katakan. Angel Girl itu menaikkan salah satu alisnya, "Membuat orang tua kamu patuh untuk peduli padamu?" lirihnya dengan raut wajah yang terlihat sangat kebingungan.
"Ehh?!" Erick mengedipkan matanya dalam jumlah yang banyak, mukanya yang serius kini berubah menjadi bingung juga. "Apa yang baru saja gue katakan tadi?" gumamnya dalam hati.
Setelah menyadari apa yang dia katakan beberapa waktu yang lalu, Erick menjadi salah tingkah, dia terus mengacak-ngacak rambutnya karena tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Melihat tingkah Erick yang semakin aneh, akhirnya Navya mencoba memanggil nama Si Ketua geng Sky Bruiser tersebut.
"Erick?" panggil Navya dengan suara yang pelan, tapi tidak ada balasan. "Erick?" panggil Navya lagi, dan masih dengan suara yang pelan, juga masih tidak ada respon apapun dari pria yang terus mengacak-ngacak rambutnya sendiri itu.
"Erick!" Panggilan yang ketiga kalinya, Navya memanggil nama Erick dengan cukup berteriak.
Hal itu membuat pria yang kesadarannya sedang kemana-mana tadi, kini kembali ke masalah yang ada di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Navya dengan raut wajah yang khawatir. "Tidak ada apa-apa!" balas Erick cepat sembari memalingkan wajahnya dari Navya.
Erick bangkit dari duduknya, lalu kemudian berdiri membelakangi Navya, wanita yang masih duduk menghadap ke arah Erick.
"Sepertinya pembahasan kita sudah terlalu dalam, itu masalah pribadi keluarga gue!" seru Erick dengan nada bicara yang dingin.
Ketika mendengar kata "Masalah pribadi keluarga." Navya tidak berani lagi untuk berbicara, karena siapa pun pasti akan marah, dan tidak suka jika masalah pribadi keluarganya di umbar-umbar oleh orang luar.
"M-maaf!" Navya yang berasa bersalah karena menjadi dalang dari percakapan mereka itu, meminta maaf dengan lirih.
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf, luh gak salah. Yasudah, gue mau ke kelas duluan!" balas Erick cepat dan masih dengan nada bicara yang dingin.
Karena merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kini Erick benar-benar melangkah untuk pergi meninggalkan kursi penonton itu. Meninggalkan Navya yang masih terdiam.